CONTRA ONUFRIUM

Jurayj Abdelmassih

“CONTRA ONUFRIUM

(Menjawab Fr. Onufrius Stavroniketianos)

Beberapa minggu yang lalu beredar sebuah file PDF yang berjudul “MENJAWAB GOI PERIHAL KETIDAK KANONIKAN GGOC” yang ditulis oleh seorang yang disebut sebagai Romo (Fr.) Onufrios Stavroniketianos dan disebarkan oleh orang lain yang bernama Basma Ronanta (entah nama ini nama asli atau hanya pseudonym) yang setelah dicek ternyata merupakan katekumen (orang yang masih belajar iman Orthodox) di salah satu yurisdiksi Orthodox yang ada di Indonesia. Tentang Fr. Onufrios sendiri, bagi saya namanya kurang akrab (mungkin karena saya yang kurang gaul), tetapi setelah proses check and recheck, ternyata beliau ini merupakan seorang imam-rahib asal Indonesia yang berada di bawah yurisdiksi kepatriakhan Konstantinopel dan saat ini sedang merahib di gunung Athos. Dengar-dengar, beliau ini berasal dari Cirebon dan sempat menjadi umat di parokia dari salah satu yurisdiksi (sebut saja yurisdiksi A) lalu sekitar 3 tahun lalu ditonsur menjadi rahib di yurisdiksi lain (sebut saja yurisdiksi B), dan saat ini sedang menjalani kehidupan monastik di Athos. Beliau juga sempat tampil dalam salah satu video yang diunggah di channel Youtube Uni Orthodoxy untuk memberikan pesan-pesan spiritual dalam menyongsong puasa agung Catur Dasa 2023.

Menarik bahwa dalam salah satu diskusi di WA grup anak-anak muda lintas yurisdiksi dimana file artikel yang saya peroleh ini muncul, si pengunggah file yaitu Basma Ronanta, sangat “ngotot” bahwa apa yang ditulis oleh Fr. Onufrios adalah sepenuhnya benar, dengan argumen yang sederhana bahwa “…yang menulisnya adalah seorang biarawan di Athos, dan seorang biarawan nggak mungkin berbohong…”.

Terlepas dari argumen sang katekumen yang bersemangat dan lugu ini, saya cukup tergelitik dengan isi dari artikel tersebut, termasuk argumen-argumen yang dimunculkan di dalamnya, yang menurut Fr. Onufrios merujuk pada buku ΤΟΣΧΙΣΜΑΤΟΥ ΖΕΛΩΤΟΥ ΠΑΛΑΙΟΗΜΕΡΟΛΟΓΙΣΤΙΣΜΟΥ (Skisma Kaum Fanatik Kalender Lama) tulisan Fr. Basilios Papadakis. Oleh karena itu, melalui tulisan ini saya ingin menanggapi tulisan dari Fr. Onufrios secara poin per poin. Setiap tulisan beliau dan argumen-argumennya akan dicantumkan dan ditanggapi satu-persatu sampai dengan selesai, sebagai bentuk dialog dan klarifikasi terkait permasalahan yang diangkat dalam tulisan tersebut. Semoga tulisan ini dapat menjadi penyeimbang dari pihak GOI-GGOC demi kemaslahatan semua umat Orthodox yang hidup dan beribadah di bumi Indonesia ini.

Di bawah ini saya tampilkan teks penuh dari tulisan Fr. Onufrios:

Fr Onufrios Stavroniketianos

MENJAWAB GOI PERLIHAL KETIDAK KANONIKAN GGOC Sumber: ΤΟΣΧΙΣΜΑΤΟΥΖΕΛΩΤΟΥ

ΠΑΛΑΙΟΗΜΕΡΟΛΟΓΙΣΤΙΣΜΟΥ(Skisma kaum fanatik old calendarist) yang ditulis oleh: Fr Basilios Papadakis.

Kita,di indonesia yang sekarang ini sedang dihadapi oleh munculnya, GGOC di bumi pertiwi yang dibawa oleh sang pendiri Gereja Orthodox Indonesia itu sendiri sangatlah ironis,kita telah melihat bahwa GOI berusaha untuk menyebarkan kepada publik bahwa GGOC adalah kanonik dan yang lainya ialah Skismatik(iya,jika kita melihat pada sudut pandang mereka) tetapi, dengan sedikitnya artikel yang memuat GGOC itu sendiri,kita sebagai yang kanonik dari Gereja Kristus mungkin sulit untuk beradu argumen kepada mereka yang keras kepala, baik, mari kita mulai.

Kapan kah di mulainya? 1924 ketika Gereja mengganti kalender julian menggantinya dengan kalender baru, saat itu GGOC hanya dipimpin oleh imam lalu diikuti oleh tiga hirarki dari Gereja Yunani,siapa saja mereka? Uskup Demetriados Germanos,mantan uskup Florinis Krisostomos dan uskup Zakynthos Krisostomos yang dimana mereka bertiga memisahkan diri dari Gereja

Yunani[1] dan ketiga uskup ini dengan status : dipecat, GGOC pada masa ini terbagi menjadi dua grup utama: grup Krisostomos(mantan uskup Florinis) dan grup kaum Matheos, apa pembelaan GGOC terhadap memutuskan komuni dengan Gereja Yunani? Mereka merujuk kepada Santo Tarasios dan Santo Theodoros Studit ketika pada masa itu kaisar menikah kembali dan kelompok biarawan Studit yang dipimpin santo Theodoros memutus komuni dengan Patriakh Tarasios dan juga untuk sang Kaisar(Konstantinos)[2]dengan alasan: Sesat, dan zina[3], jelas ini yang tidak dapat disamakan dengan pergantian kalender baru yang jelas jelas bukan sebagai bentuk suatu kesesatan, dan Osios Theodoros of Studit tidak ada kaitannya dengan GGOC yang memutus komuni,sedangkan faktanya terbalik, Osios Theodoros tidak pernah memutus komuni dengan Gereja[4],lagi pembelaan GGOC untuk seakan akan mereka mempertahakankan tradisi bapa Gereja tidaklah tepat karna Osios Theodoros sendiri mereka ambil sebagai “bentuk” dari gereja mereka[5]sedangkan mereka sendiri tidak mencirikan pengajaran dari Bapa Gereja[6],mereka tetap tidak bisa membela dari sudut pandang mana Gereja telah menjadi sesat,tetapi mereka melakukan pembelaan bagi diri mereka sendiri dengan memakai kanon dari protodevtera Sinode Santo Fotios untuk diri mereka sendiri tanpa adanya kebenaran!.

Mari kita maju apakah itu grup Krisostomiakon Florianon dengan Matheikon? Periode 1924-1935 ketika ketiga uskup itu( Uskup Demetriados Germanos,mantan uskup Florinis Krisostomos dan uskup Zakynthos Krisostomos) memisahkan diri dari Gereja, setelah pemecatan mereka,uskup Zakynthos Krisostomos dengan waktu tidak panjang kembali kepada pangkuan Gereja,tetapi tidak dengan Demetriados Germanos,mantan uskup Florinis Krisostomos serta uskup Vresthenis Matius[7]yang menurut mereka Gereja telah menjadi bidat dan Skismatik dan Papisme, kedua grup ini mempunyai cara pandang mereka sendiri terhadap Gereja yang telah mengganti kalender.


[1] Halaman 51 dari sumber buku

[2] Halaman 98-99 pada sumber buku

[3] Halaman 100 pada sumber buku

[4] Hal 103

[5] Halaman 111

[6] ibid

[7] Halaman 112-113 pada sumber buku

Tahun 1937 adalah tragedi kefanatikan yang ironis,dan grup GGOC Krisostomiakos Florinis sama sekali tidak adanya suksesi apostolik,dan invalidnya misteri gereja[1], dan kedua grup utama( Krisostomiakon dan Matheikon) berlawanan satu sama lain. Sekarang mari kita bahas tahbisan kaum Krisostomiakon di gereja ROCOR, pada tahun 1960 ditahbisnya uskup pertama GGOC oleh uskup ROCOR uskup Chickago Serafim dan Detroit Theofilos dari sinode Rusia diaspora[2]dengan tahbisan yang dilarang oleh sinode Rusia, GGOC berusaha keras bahwa ROCOR juga menolak memberi komuni kepada kaum kalender baru,nyatanya,tidak!, ROCOR masih memiliki komuni penuh dengan gereja lain(khususnya gereja Serbia) dan juga Patriakh Ekumenis dan uskup Amerika Yakobus yang GGOC menyatakan mereka sebagai bidat, dengan adanya bukti dari uskup Chickago Serafim yang menuliskan: “ yang mulia uskup mengikuti kalender baru di Katedral Detroit(tempat terjadinya tahbisan) , melakukan Liturgi dengan kalender baru yang dimana tidak rahasia menahbiskan uskup Akakios(terj di sederhanakan)[3],pada grup Matheikon, mereka meminta sinode Rusia Diaspora untuk menerima tahbisan mereka,benar, tahbisan mereka diterima oleh sinode Rusia Diaspora yang diterima pada tahun 1971,tetapi ROCOR pada tahun 1960 memiliki interkomuni dengan kaum kalender baru yang dipandang oleh kaum GGOC sebagai bidat,pada tahun 1971 kaum Matheikon memutus komuni oleh sinode Rusia diaspora dan mengenai tahbisan mereka sinode Rusia diaspora menjawab: dengan di putus komuni diantara sinode Rusia diaspora dnegan grup Matheikon maka tahbisan mereka dinyatakan invalid[4]

Pada tahun 1979 terjadi skisma diantara uskup Kallistos dan uskup Antonius yang dimana mereka berdua memutus komuni terhadap “uskup agung” mereka Avksendios dengan alasan etika[5]dan uskup Avksendios faktanya telah dipecat oleh sinode Gereja Yunani dengan alasan yang sama. Tahun 1984 sendiri uskup Avskendios merintahkan uskup Gerasimos dan Maksimos untuk menahbiskan seorang yang bernama Dorotheos Tsakos menjadi uskup Patron dan sleuruh Pelloponisos yang dimana Dorotheos Tsakos sendiri adalah imam terpecat oleh sinode Gereja Yunani pada tahun 1968 dengan kasus berat,Etik[6]dan pada periode 1968-1984 Tsakos sendiri telah ditahbis dua kali menjadi uskup di GGOC.

Sekarang,apakah GGOC benar benar menghindari Ekumenisme? Saya rasa tidak karna faktanya seluruh GGOC ntah dari grup mana menerima mereka yang dimana menurut mereka “bidat” pada point pertama Fr Basillios Papadakis menulis demikian bahwa GGOC menerima mereka “bidat” umat kalender baru untuk berdoa bersama di gereja gereja mereka dan mengambil komuni serta antidoron dari mereka[7].

Inilah apa yang terjadi di dalam GGOC sendiri: Linimasi Skisma didalam GGOC

-1995 skisma diantara uskup Kallinikos dengan Evthymios

  • tahun yang sama, skisma Maksimos
  • tahun yang sama,skisma Gregorius

-1998 skisma Nifon dan inilah point penting yang ditulis oleh Fr Basilios Papdakis

  1. Uskup-uskup GGOC itu asing bagi tradisi Gereja orthodox dan semangat bapa Gereja juga.
  2. Uskup-uskup GGOC ialah tak layak dan tak dapat memimpin untuk berbicara mengenai diputusnya interkomuni.
  3. Taktik yang di pakai GGOC ialah sama dengan Protestan,memaksakan satu gereja dengan berbagai alasan perlihal iman.

Sekian,kirannya ini dapat menjawab apa yang GOI bela selama ini dengan memberi info palsu kepada mereka yang tidak mengerti persoalan eccliastical!

Buku yang saya jadikan adalah bukti apa yang terjadi diantara Gereja Autokefali Yunani dengan mereka para pembangkang(GGOC).

Sekian terimakasih.


[1] Halaman 119

[2] Halaman 122

[3] Text asli: halaman 123 : ο Θεόφιλος ἢκολούθει τό νεό ἠμερολόγιον… Ὀ έν Detroit Καθεδρικός ναός(στόν όποῑο ἒγινε ἢ χειροτονία).λειτοθργεῑ μέ τό νεό ἢμερολόγιον.Δέν ἀπέκρυψα τό γεγονός τοῡτο ἀπό τόν Ἐπίσκοπον Ἀκάκιον

[4] Halaman 132-133

[5] ibid

[6] Halaman 136

[7] Hal 142-143          Ὀ Οίκουμενισμός τῶν Γ.Ο.Χ


Sekarang mari kita mulai…
(tulisan dari Fr. Onufrios (dicopy sepenuhnya tanpa perubahan apapun) akan ditebalkan dan
tanggapan saya akan diletakkan di bawahnya dengan warna huruf yang berbeda agar mudah
dibaca)

Fr Onufrios Stavroniketianos

MENJAWAB GOI PERLIHAL KETIDAK KANONIKAN GGOC Sumber: ΤΟΣΧΙΣΜΑΤΟΥΖΕΛΩΤΟΥ

ΠΑΛΑΙΟΗΜΕΡΟΛΟΓΙΣΤΙΣΜΟΥ(Skisma kaum fanatik old calendarist) yang ditulis oleh: Fr Basilios Papadakis.

Kita,di indonesia yang sekarang ini sedang dihadapi oleh munculnya, GGOC di bumi pertiwi yang dibawa oleh sang pendiri Gereja Orthodox Indonesia itu sendiri sangatlah ironis,kita telah melihat bahwa GOI berusaha untuk menyebarkan kepada publik bahwa GGOC adalah kanonik dan yang lainya ialah Skismatik(iya,jika kita melihat pada sudut pandang mereka) tetapi, dengan sedikitnya artikel yang memuat GGOC itu sendiri,kita sebagai yang kanonik dari Gereja Kristus mungkin sulit untuk beradu argumen kepada mereka yang keras kepala, baik, mari kita mulai.

Salah satu salah kaprah yang paling umum terjadi (dan sering dipolemikkan oleh yurisdiksi-yurisdiksi lain selain GGOC dan juga pihak luar yang antipati) adalah bahwa Gereja Orthodox Indonesia (GOI) adalah sama dengan Genuine Greek Orthodox Church (GGOC). Jadi GOI = GGOC. Padahal kenyataannya tidaklah demikian. Sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) GOI yang disahkan kembali pada Munas GOI tanggal 3 Desember 2021 Pasal 1 ayat 1, GOI adalah wadah bagi gereja-gereja Orthodox yang ada di Indonesia. Dengan kata lain GOI adalah payung hukum bagi keberadaan yurisdiksi-yurisdiksi Gereja Orthodox yang melaksanakan karya misi mereka di Indonesia. Ini dikuatkan dengan pengakuan pemerintah Indonesia kepada GOI terkait eksistensinya yang dibuktikan dan dikuatkan kembali dengan SK Dirjen Bimas Kristen Kemenag No.505 tahun 2019 tanggal 4 November 2019. Sedangkan GGOC adalah yurisdiksi Orthodox yang bernaung di bawah payung hukum atau menjadi anggota GOI sejak Munas 2021 lalu. Jadi GOI tidak sama dengan GGOC dan GGOC tidak sama dengan GOI. Kalaupun sampai saat ini hanya GGOC saja yang bernaung di bawah GOI, itu tentunya merupakan persoalan berbeda, yang terkait dengan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan negara Indonesia. GOI sebagai lembaga gerejawi aras nasional TIDAK PERNAH mengeluarkan pernyataan resmi bahwa yurisdiksi-yurisdiksi Orthodox lainnya yang ada di Indonesia adalah skismatik. Oleh karena itu pernyataan dari Fr. Onufrios bahwa “GOI berusaha untuk menyebarkan kepada publik bahwa GGOC adalah kanonik dan yang lainya ialah Skismatik…” adalah TIDAK BERDASARKAN FAKTA dan jelas merupakan FITNAH. Kalaupun ada pernyataan-pernyataan bernada seperti itu yang disampaikan oleh orang perorangan yang kebetulan merupakan anggota GGOC (yang saat ini bernaung di bawah GOI) tentunya itu merupakan pernyataan pribadi sebagai hasil interpretasi mereka dan tidak mewakili GOI sebagai suatu institusi.

Kapan kah di mulainya? 1924 ketika Gereja mengganti kalender julian menggantinya
dengan kalender baru,

Banyak yang mengira (termasuk mungkin Fr. Onufrios) bahwa permasalahan kalender ini semata-mata bermula dari tahun 1924, dan bahwa semua kekisruhan ini hanyalah persoalan “sepele” saja yaitu soal kalender. Padahal ketika berbicara soal kalender gerejawi, kita tidak sekedar membicarakan soal penanggalan saja tetapi juga substansi besar dan alasan teologis yang ada di balik penyeragaman kalender gerejawi ini. Bicara tentang kalender gereja tidak berarti bicara tentang perubahan sepihak di tahun 1924 saja melainkan harus kembali dulu ke awal di mana kalender gerejawi ditetapkan. Maka mari kita mundur 1599 tahun ke belakangnya lagi, yaitu ke tahun 325 M ketika Konsili Ekumenis I di Nikea dilaksanakan melalui fasilitasi dari Kaisar Konstantinus Agung. Pada keputusan-keputusan konsili yang didistribusikan kepada gereja-gereja setelah berakhirnya konsili tersebut, disebutkan bahwa konsili telah menetapkan waktu perayaan Paskah Kristen yaitu “pada hari Minggu pertama (first Sunday) setelah bulan purnama (full moon) setelah titik balik matahari musim semi (spring equinox)“. Terkait kanonkanon konsili ini, ada banyak sumber yang tersedia di Internet bagi yang ingin membacanya sendiri. Atau bagi yang suka membaca buku ada tertulis dalam buku The Rudder (Pedalion) yang merupakan kumpulan dari Hukum-hukum Kanon Gereja Orthodox.

Bagi kita yang hidup di zaman modern ini, keputusan ini mungkin agak aneh. Akan tetapi dalam konteks Konsili Ekumenis I, penetapan tanggal perayaan Paskah ini menjadi sangat penting untuk mengkoordinasi Perayaan Dari Segala Perayaan, yaitu Paskah, peringkatan Kebangkitan Kristus yang ketika itu masih dirayakan pada tanggal yang berbeda-beda di berbagai wilayah kekristenan (bahkan sebagian ada yang merayakannya bersamaan dengan Paskah Yahudi, misalnya kelompok-kelompok yang dikenal dengan nama Quartodeciman). Konsili bermaksud untuk menetapkan waktu perayaan ini sebagai manifestasi dari kesatuan iman kepada Kristus Yesus yang dimiliki oleh Gereja. Jadi ini merupakan suatu demonstrasi cinta kasih dan kesatuan yang pada akhirnya nanti akan menjadi wujud dari kesatuan iman, kesatuan baptisan, dan kesatuan ekaristik yang mengikat orang-orang Kristen dimana saja secara bersama-sama.

Juga, secara teologis, waktu perayaan Paskah ini juga dengan sengaja dipilih sebagai bentuk dari eksposisi iman Gereja bahwa Yesus Kristus, Mesias yang dinanti-nantikan oleh orang Israel sudah datang. Bahwa Dialah Anak Domba Paskah sejati yang dijanjikan oleh Allah kepada bangsa Israel (bdk. Yoh 1:29, 1 Kor 5:7, Ibrani 9:12). Anak Domba Paskah yang oleh darah-Nya baik Yahudi maupun Goyyim diselamatkan dari kematian rohani. Konsili meyakini bahwa penggabungan atau perayaan bersama Paskah Kristen dengan Paskah Yahudi (yang hanya merupakan bayangan dan pralambang saja; bdk. Kol 2:17, Ibr 8:5, Ibr 10:1 – dan sampai sekarang pun doa-doa mereka masih berisi penantian akan datangnya Mesias) akan menjadi suatu kesaksian yang bertentangan dengan Injil itu sendiri. Itulah sebabnya Konsili Ekumenis I memutuskan untuk TIDAK MERAYAKAN Paskah BERSAMA DENGAN atau SEBELUM Paskah Yahudi, tetapi setidaknya seminggu setelahnya untuk mencegah berbagai kebingungan terkait ajaran iman yang sangat sentral ini. Bagian-bagian lain dari tahun liturgis juga termasuk penentuan tanggal dari perayaan-perayaan yang dapat bergeser (movable feast) nantinya akan ditentukan berdasarkan penghitungan tanggal Paskah.

Ketetapan di atas tentunya dianggap sudah tidak berlaku dan mengikat lagi bagi kekristenan Barat sebab mereka (dengan dipelopori oleh Gereja Katolik Roma) sudah membuat kalender liturgis sendiri. Kalau kita ingin bicara secara fair, di kalangan Gereja Orthodox sendiri bahkan di kalangan yurisdiksi-yurisdiksi yang menggunakan kalender baru (kecuali Gereja Orthodox Finlandia), penetapan tanggal perayaan Paskah (Paskhalion) masih tetap mengacu pada keputusan Konsili Ekumenis I tersebut.

Kita juga perlu memahami bahwa tahun liturgis bekerja sebagai satu kesatuan yang kohesif. Bayangkan, selama hampir 2000 tahun setelah Konsili Nikea, Gereja Orthodox mengatur perayaan-perayaannya berdasarkan ketetapan Konsili I tersebut (termasuk mengatur perayaan-perayaan yang dapat bergeser dan tidak dapat bergeser, seperti peringatan para Janasuci, dsb) menjadi satu kesatuan utuh yang logis dan masuk akal mengingat kalender liturgis juga bermakna sebagai pengingat atau penghadiran kembali peristiwa-peristiwa besar yang berkaitan dengan keselamatan kita. Dengan kata lain, kacaunya tatanan perayaan-perayaan akibat perubahan kalender jelas akan berdampak pada keseluruhan tahun liturgis. Masa perayaan bisa tumpang tindih dengan masa Puasa. Padahal polanya, Puasa selalu mendahului Perayaan. Contoh yang paling mudah adalah Puasa Para Rasul. Perayaan Peringatan Para Rasul ditetapkan tanggal 29 Juni tetapi Puasa yang mendahuluinya tergantung pada tanggal Pentakosta yang bisa bergeser. Akibatnya, kadang puasa yang merupakan puasa tertua kekristenan ini bisa hilang. Begitu juga Natal. Ketika umat Orthodox yang menggunakan kalender baru sudah sementara merayakan Natal, mayoritas umat Orthodox malah masih berpuasa untuk menyambut Natal yang sama.

Sedikit wawasan…kalender baru (yang nantinya dikenal dengan nama Kalender Gregorian) diperkenalkan pertama oleh Paus Gregorius XIII dari Roma pada tahun 1582 berdasarkan saran-saran dari para astronomnya yang secara cukup tepat menunjukkan bahwa kalender lama (Kalender Julian) yang saat itu berlaku tidak sinkron dengan perhitungan tahun yang normal (berdasarkan fenomena alam) dengan selisih sekitar 11 hari saat itu (sekarang sudah 13 hari). Sri Paus sebagai penguasa sekuler negara kepausan yang juga adalah Uskup Roma, menggunakan plenitude potestatis (kekuasaan penuh dan mutlak) untuk menyatakan bahwa akan ada kalender baru yang lebih “update” yang akan diberlakukan. Keputusan ini tentunya menyebabkan terjadinya perubahan besar-besaran dalam kalender liturgis gereja Barat (dan juga bertentangan dengan Keputusan Konsili Ekumenis I; tetapi karena waktu itu Gereja Roma sudah memisahkan diri dari Gereja Timur, maka itu menjadi tanggung jawab mereka sendiri). Inilah mengapa sampai sekarang gereja Barat (Katolik Roma, Protestan, Anglikan, dll. yang menggunakan kalender Gregorian) bisa merayakan Paskah yang waktunya bersamaan atau kadang sebelum Paskah Yahudi. Namun demikian, perubahan kalender ini juga bukan tanpa kendala. Banyak negara Barat yang tidak langsung menerimanya. Inggris saja misalnya baru mengadopsi kalender ini pada sekitar abad ke-18. Kita tidak perlu membahas apa motif Sri Paus mengubah kalender, itu urusan dan tanggung jawab beliau.

Singkat cerita, Paus Gregorius XIII mencoba sounding dan membujuk Patriarkh Konstantinopel Jeremias II untuk menerima dan menerapkan kalender ala Paus ini di gereja-gereja Orthodox. Pada tahun 1583, Patriarkh Konstantinopel mengadakan konsili lokal di Konstantinopel yang juga dihadiri oleh Patriarkh Alexandria Sylvester dan Patriarkh Yerusalem Sofronius. Konsili ini menghasilkan dokumen yang disebut Sigilion, dimana kalender baru terbitan lembaga kepausan ini dianathema (saya yakin Fr. Onufrios tahu apa itu anathema).

Anathema tersebut ditegaskan kembali melalui serangkaian konsili Pan-Orthodox seperti konsili lokal di Konstantinopel tahun 1593, lalu oleh Patriarkh Dositheus dari Yerusalem dan Sinode Sucinya pada tahun 1670, Patriarkh Ekumenis dari Konstantinopel Agathangelos dan Sinode Sucinya tahun 1827, Patrarkh Ekumenis Anthimos VIII dan Sinode Sucinya tahun 1895, Patriarkh Ekumenis Joachim III dan Sinode Sucinya tahun 1902, Patriarkh Damianos dari Yerusalem pada tahun 1903, dan Sinode Suci dari Gereja Rusia, Rumania, dan Yunani pada tahun 1903.

Nah, kalender baru inilah (dengan perkecualian penanggalan Paskah) yang di”paksa”kan untuk diterapkan di Gereja Orthodox Yunani melalui sebuah ensiklik yang ditandatangani oleh Uskup Agung Chrysostomos Papadopoulos dari Athena pada tanggal 23 Maret 1924. Chrysostomos Papadopoulos sendiri, sebelum menjabat sebagai Uskup Agung Athena merupakan seorang professor teologi di Universitas Athena yang mengepalai suatu komite pemerintah yang sempat mengkaji opsi penggunaan kalender baru di Yunani dan menariknya, komite yang dipimpinnya (sebelum menjadi Uskup Agung Athena) pada tanggal 16 Januari 1923 mengeluarkan rekomendasi yang isinya menyatakan bahwa meskipun Gereja Yunani sebagai gereja yang otosefalus bersifat memiliki kemerdekaan untuk mengelola dirinya secara internal, namun terikat dengan gereja-gereja Orthodox lokal lainnya atas dasar kesatuan spiritual sehingga tidak ada satu gerejapun yang dapat memisahkan diri dari yang lain dan menerima kalender baru tanpa menjadi skismatik dalam hubungannya dengan gereja-gereja yang lain. Jika demikian, apa gerangan yang menyebabkan terjadinya perubahan sikapnya dalam waktu yang begitu singkat? Padahal pada tahun 1918 ia juga sudah pernah mengeluarkan pernyataan bahwa Gereja Orthodox tidak bisa seenaknya mengubah kalender gerejawi seperti Sri Paus yang menempatkan dirinya di atas keputusan Konsili Ekumenis (Archimandrite Chrysostomos Papadopoulos, Church Herald No.143, 1918). Apa yang menyebabkan gereja negara Yunani dalam hal ini Uskup Agung Chrysostomos Papadopoulos nekad mengabaikan berabad-abad anathema demi mengimplementasikan kalender baru yang disusun oleh para astronom kepausan dan memaksakannya ke dalam Gereja Orthodox?

Untuk menjawab ini kita harus melihat sedikit ke belakang lagi, ke tahun 1920 ketika Patriarkat Konstantinopel di bawah locum tenens (pejabat sementara) Metropolitan Dorotheus dari Prusa mengeluarkan ensiklik berjudul “To the Churches of Christ Wheresoever They Might Be” atau “Kepada Gereja-gereja Kristus di manapun mereka berada” yang salah satu tujuannya adalah “menguatkan dan menyalakan kembali cinta kasih antara gereja-gereja, sehingga mereka tidak saling menganggap lagi sebagai orang asing dan pendatang, tetapi sebagai saudara dan anggota-anggota keluarga Kristus dan ‘ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji Allah dalam Yesus Kristus (Ef 3:6)’.” Di antara tindakan-tindakan praktis yang perlu dilakukan untuk mencapai tujuan ini, yang paling pertama dilakukan adalah implementasi “satu kalender bersama sehingga perayaan-perayaan Kristen yang besar dapat dirayakan dimana-mana secara bersamaan”. Singkatnya, penyatuan kalender ini dimaksudkan untuk mendorong semacam “kesatuan” antara berbagai macam denominasi heterodox dengan umat Orthodox. Jangan salah, ensiklik ini tidak dimotovasi oleh keinginan agar kaum heterodox akan kembali ke ajaran Orthodox, melainkan semata-mata sebuah bentuk kompromi, sedikit-demi sedikit sampai tercapainya kesatuan sakramental, tidak peduli betapa berbedanya ajaran iman orthodox dan heterodox. Tidak heran, pada tahun 1921 Patriarkh Konstantinopel Meletios Metaxakis berkunjung ke Washington di mana ia, dalam busana liturgis lengkap, berkonselebrasi dalam ibadah Anglikan, berlutut bersama orang-orang Anglikan, memberi hormat pada altar mereka, membawakan homili, dan memberikan berkat kepada yang hadir. Di bawah tekanan dari Metaxakis jugalah Patriarkhat Konstantinopel mengakui keabsahan imamat gereja Anglikan pada tahun 1922 (catatan: Gereja Anglikan mengakui pernikahan sejenis, dan mengizinkan wanita menjadi imam). Inilah bentuk ekumenisme ala Konstantinopel.

Sedikit flashback lagi ke belakang, agar Fr. Onufrius (dan para pembaca) juga memperoleh sedikit tambahan wawasan. Sebagaimana yang sudah saya utarakan sebelumnya, pada tahun 1918, Chrysostomos Papadopoulos (waktu itu masih seorang Arkhimandrit) pernah mempublikasikan sebuah artikel yang dimuat dalam jurnal berkala gerejawi Church Herald, yang isinya tidak menyetujui rencana perubahan kalender. Dasar penolakannya adalah keputusan konsili-konsili Pan-Orthodox pada abad ke-16. Lalu pada tahun berikutnya, Arkhimandrit Chrysostomos Papadopoulos kembali lagi mengeluarkan sebuah tulisan atas nama Gereja Yunani, yang isinya menegaskan kembali pendapat sebelumnya. Ujung-ujungnya tahun 1924 dia juga yang menjilat ludahnya sendiri. Ada apa gerangan?

Pada tanggal 25 Februari 1923, pemerintah Yunani hasil revolusi di bawah pimpinan Kolonel Nicholas Plastiras secara sepihak mencopot Uskup Agung Yunani pada waktu itu, yaitu Theokletos (yang adalah seorang pendukung monarki Yunani) dengan alasan “sudah tidak cocok dengan tujuan pemerintah yang baru” dan menggantikannya dengan Arkhimandrit Chrisostomos Papadopoulos. Pada tanggal 14 Desember 1923, pemerintah revolusioner Yunani menghapus aturan lama yang menjadi dasar operasional Gereja Orthodox Yunani dan telah digunakan selama 70 tahun (dimana Sinode Suci yang bertugas dijabat oleh 5 uskup), dan menggantinya dengan aturan baru, di mana operasional harian Sinode Suci dikendalikan sepenuhnya oleh Uskup Agung dan diratifikasi sekali dalam setahun oleh segenap anggota Sinode Suci yang terdiri dari para uskup, dan pemerintah berhak memindahkan atau memberhentikan uskup atas dasar cocok tidak cocoknya dengan tujuan pemerintah. Nah, dalam kondisi seperti inilah pada tanggal 24-30 Desember 1923 sidang Sinode Suci Gereja Yunani dilaksanakan dengan dihadiri oleh Perdana Menteri Nicholas Plastiras, dan Menteri Urusan Agama dan Pendidikan A. Stratigopoulos yang memberikan penekanan mengenai perlunya penyatuan kalender sipil dan kelender gerejawi (Archimandrite Theokletos A. Strangas, History of the Church of Greece, from Reliable Sources, vol 2, Athens, 1970 & Dimitri Kitssikis,The Old Calendarist and the Rise of Religious Conservatism in Greece, St. Gregory Palamas Monastery, Etna, California).

Uskup Agung Chrysostomos Papadopoulos lalu menerima sebuah resolusi dari Sinode Gereja Yunani yang isinya memberikan kuasa untuk mengubah kalender gerejawi jika Gereja-gereja Orthodox yang lain menyetujuinya dan dengan persetujuan dari Patriarkh Ekumenis di Konstantinopel. Faktanya? Gereja-gereja Orthodox lokal lain tidak ada yang secara serius menanggapi wacana tersebut, bahkan di Konstantinopel pun, sebab Patriarkah Konstantinopel sebelumnya yaitu Meletios Metaxakis sudah kabur karena didemo oleh umat yang tidak setuju dengan usulannya untuk mengganti kalender gereja pada “Kongres Pan-Orthodox” yang digagasnya pada tanggal 19 Mei-8 Juni 1923 yang faktanya hanya dihadiri oleh 6 Uskup, 2 umat awam, dan 1 orang Arkhimandrit. Anggota Pentarkhi yang hadir hanya pihak Konstantinopel sebagai tuan rumah, tapi dihadiri oleh perwakilan dari Gereja Anglikan yaitu mantan Uskup Gore dari Oxford (Ludmilla Perepiolkina & Bishop Photios of Triaditza, The Orthodox Church Calendar: In Defence of the Julian Calendar, January 1996). Kongres ini memang direncanakan untuk menindaklanjuti ensiklik Gereja Konstantinopel tahun 1920 yang sudah saya bahas sebelumnya yang program pertamanya adalah mengubah kalender Gereja agar dapat merayakan hari-hari raya bersama kaum heterodox (padahal perubahan kalender berpotensi memicu skisma…dan inilah yang terjadi). Selain itu juga ada wacana-wacana “baru” yang dibahas misalnya usulan agar imam yang menikah bisa menjadi uskup, dan imam yang sudah menduda bisa kawin lagi. Meletios Metaxakis sendiri akhirnya digantikan oleh Patriarkh Gregorius yang disibukkan dengan penataan ulang Gereja Konstantinopel pasca pertukaran populasi antara Yunani dan Turki.

Uskup Agung Chrysostomos Papadopoulos sendiri mencoba untuk berkorespondensi dengan Patriarkh Ekumenis Gregorius untuk membujuknya agar mau menyetujui perubahan kalender tersebut, namun Sri Patriarkh bersikeras meminta dulu bukti persetujuan gereja-gereja Orthodox lainnya secara tertulis. Papadopoulos sendiri sudah memasang target bahwa perubahan kalender gereja haruslah sudah bisa diimplementasikan tanggal 23 Maret 1924. Akhirnya, karena dicuekin oleh Konstantinopel, Papadopoulos bermain kasar. Ia menggunakan Kementerian Luar Negeri Yunani untuk menekan Patriarkh Konstantinopel. Ia meminta agar Kemenlu Yunani menginformasikan kepada Gereja-gereja Orthodox Timur bahwa Gereja Yunani akan melaksanakan “keputusan” Patriarkh Ekumenis terkait perubahan kalender, dan untuk menginformasikan kepada Patriarkh Konstantinopel sendiri bahwa hal ini telah diputuskan oleh Gereja Yunani melalui surat tertanggal 4 Maret 1924. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Patriarkhat Konstantinopel sangat tergantung kepada Yunani terkait berbagai support (termasuk keuangan), sehingga mau tidak mau harus mengikuti keinginan pemerintah Yunani. Akhirnya, rencana Papadopoulos berhasil dijalankan, dan pada tanggal 23 Maret 1924 kalender gerejawi yang baru diberlakukan dan diumumkan melalui ensiklik yang hanya ditandatangani oleh Chrysostomos Papadopoulos atas nama Sinode Gereja Yunani.

Reaksi gereja-gereja Orthodox yang lain? Yerusalem, Antiokhia, Aleksandria, dan Siprus menolak. Hanya Konstantinopel dan Romania yang menerima. Belakangan setelah intervensi dari pemerintah Mesir dan Yunani melalui campur tangan Meletios Metaxakis, akhirnya Patriarkhat Aleksandria terpaksa menerima. Oh ya, sekilas info: Meletios Metaxakis dan Chrysostomos Papadopoulos adalah kawan karib, bahkan partner in crime. Pada tahun 1908, Meletios Metaxakis dan Chrysostomos Papadopoulos (waktu itu keduanya belum menjadi uskup dan masih bertugas di Yerusalem) diusir dari Patriarkhat Yerusalem oleh Patriarkh Damianos karena melakukan aktivitas-aktivitas illegal dan menjadi skandal yang merugikan Persaudaraan Makam Suci (the Brotherhood of the Holy Sepulchre) yang bertugas mengelola Gereja Makam Suci (Dionysios M. Batistatos, Proceedings and Decisions of the Pan-Orthodox Congress in Constantinople, 10 May-8 June 1923, Athens:1982). Metaxakis juga merupakan seorang Freemason, anggota dari Harmony Lodge No.44 di Konstantinopel. Keterlibatannya secara mendalam dalam Freemasonry didokumentasikan dengan jelas oleh seorang Freemason juga yaitu Alexander J. Zervoudakis, dalam Journal of the Grand Lodge of Greece no.71 edisi Januari-Februari 1967 dibawah judul Famous Freemasons: Meletios Metaxakis. Sangat ironis, seorang Patriarkh Ekumenis tapi juga seorang Freemason. Padahal dalam Synodikon Minggu Orthodoxia(yang saya yakin dibacakan juga di Biara tempat Fr. Onufrios), salah satu bidat yang dianathema oleh Gereja Orthodox adalah Freemansonry.

Fr. Onufrios yang terhormat seharusnya secara terbuka menjelaskan mengenai perubahan kalender dan motivasi apa di baliknya, sehingga tidak menimbulkan kesan bahwa pertikaian ini semata-mata “hanya persoalan kalender saja”.

saat itu GGOC hanya dipimpin oleh imam lalu diikuti oleh tiga hirarki dari Gereja Yunani

Tunggu dulu. Kalimat Fr. Onufrios sebelumnya menyatakan bahwa semua bermula tahun 1924 saat terjadi pergantian kalender. Lalu dilanjutkan dengan kalimat “…saat itu GGOC hanya dipimpin imam lalu diikuti oleh tiga hirarki dari Gereja Yunani…”. Pernyataan ini tidak sepenuhnya jujur, dan menurut hemat saya sengaja diredaksikan demikian untuk menimbulkan kesan yang bias tentang GGOC. Mari kita lihat faktanya…

Implementasi kalender baru secara sepihak oleh Gereja Yunani mendapat beragam reaksi. Ada yang adem-adem saja, ada juga yang keras menentang. Menarik bahwa mereka yang menentang ini pada awalnya berasal dari kalangan umat awam. Awalnya sedikit lalu mulai bertambah karena sebagian dari antara para penolak kalender baru ini merupakan sejarawan-sejarawan terkemuka yang paham duduk persoalan dan kesejarahan kalender Gerejawi. Mereka juga mendapat simpati dan dukungan dari figur-figur penting Orthodox seperti misalnya Patriarkh Photios dari Alexandria. Malah dalam enam bulan pertama kelompok pro kalender lama ini tidak memiliki imam. Nanti setelah itu baru ada dua imam yang kembali ke kalender lama. Ini masih imam biasa, bukan hirerarki. Selain itu, yang mempengaruhi semakin banyaknya kelompok kalender lama ini adalah para imam-rahib dari Gunung Athos yang turun gunung dan berkeliling menyampaikan mengenai efek negatif dari implementasi kalender baru ini terhadap kesatuan gereja Yunani. Sebut saja misalnya Elder Hieronymos dan Arkhmandrit Evgenios dari Piraeus yang bermata buta tetapi memiliki karunia clairvoyant. Namun demikian, Gereja Yunani dengan meminjam tangan aparat pemerintah malah menindak dengan keras kelompok pro kalender lama ini hanya karena mereka ingin tetap beribadah sesuai dengan tradisi yang telah mereka pegang turun-temurun.

Peristiwa penting yang melipatgandakan jumlah kelompok pro kalender lama adalah peristiwa Penampakan Salib Suci di langit di atas kapel Js. Yohanes Sang Teolog di Hymettos di luar kota Athena tepat pada saat Hari Raya Pengangkatan Salib Suci menurut kalender lama yang disaksikan oleh lebih dari 2000 orang pada waktu bersamaan pada tanggal 13-14 September 1925. Salib besar nampak di langit beberapa saat menjelang tengah malam dan nampak jelas selama hampir 1 jam disaksikan oleh umat yang hadir untuk beribadah dan para polisi yang ditugaskan oleh Gereja Negara Yunani untuk membubarkan mereka.

Bahkan pada tanggal 24 April 1924, Gereja Negara Yunani mengeluarkan suatu ensiklik yang sangat keras, yaitu Protokol No. 2398/2203 yang ditujukan kepada para penganut kalender lama atau kelompok Orthodox Tradisional yang isinya antara lain: “Mereka memisahkan diri dari Gereja dan memutus diri mereka sendiri dari Tubuh Kristus, dan membawa kutukan dan ekskomunikasi bagi diri mereka sendiri, tanpa tahu, atau mungkin lupa, bahwa dia yang tidak mendengarkan Gereja adalah ‘seorang pemungut cukai dan penyembah berhala’…Keputusan Gereja adalah mengikat dan ia yang tidak menaatinya, tidak lagi menjadi bagian darinya, tak lagi terhubung dengan sarana-sarana ilahi, terpisah, dan terputus daripadanya, serta bertanggung jawab atas siksaan kekal…”.

Bayangkan, denominasi-denominasi heterodox mereka sebut “sesama pewaris janji Allah dalam Kristus Yesus” (lih. Ensiklik Gereja Konstantinopel tahun 1920) sedangkan yang sesama Orthodox mereka sebut “pemungut cukai dan penyembah berhala”. Sangat ironis!

Terlepas dari penganiayaan yang dilakukan oleh Gereja Negara, pada tahun 1934, jumlah komunitas pro kalender lama sudah mencapai 800an dengan anggota puluhan ribu. Mereka ini dilayani oleh sejumlah Hieromonk Anthonit dari Gunung Athos dengan menggunakan kapel-kapel pribadi karena penganiayaan yang dilakukan Gereja Negara. Mereka ini terus menerus mengajukan petisi kepada Sinode Gereja Negara Yunani agar mengkaji ulang keputusan terkait kalender tersebut demi mencegah terjadinya skisma yang semakin membesar (George Lardas, History of the Old Calendar Movement, Holy Trinity Seminary, Jordanville, NY, 1983).

Pada bulan Mei 1935, sebelas uskup dari Gereja Negara Yunani menyatakan siap untuk kembali ke Kalender Lama dan memang sudah sejak awal kesebelas orang ini bersimpati dengan gerakan kalender lama. Akan tetapi, pada saat-saat terakhir delapan dari antara mereka menyatakan mundur dan kembali ke Gereja Negara oleh karena tekanan persekusi dan kehilangan penghasilan mereka yang berasal dari negara. Pembaca perlu tahu, di Yunani sana, para imam Gereja Negara itu statusnya sama dengan PNS di Indonesia. Digaji oleh negara. Sedangkan para imam GGOC yang suka dijelek-jelekkan itu tidak digaji oleh negara, tetapi mencari penghidupannya sendiri dengan bantuan umatnya, sambil tetap melayani sebagai imam. Dari sebelas uskup tadi, tiga yang tersisa adalah Metropolitan Germanus dari Demetrias, Chrysostomos dari Florina, dan Chrysostomos dari Zakynthos. Metropolitan Germanus dari Demetrias merupakan klerus paling senior kedua dalam Sinode Suci Gereja Negara Yunani setelah Uskup Agung Chrysostomos Papadopoulos sendiri, dan pada tahun 1929 dan 1933 bersama-sama dengan para uskup lainnya telah mengajukan petisi kepada Uskup Agung meminta agar gereja dikembalikan ke kalender lama namun tidak diindahkan. Metropolitan Chrysostomos dari Florina sendiri dikenal sebagai salah satu klerus yang paling cerdas dan disegani di Sinode Suci. Maka pada tanggal 13 Mei 1935 bersama dengan 2 uskup lain, ia menyatakan memisahkan diri dari Gereja Negara Yunani dan kembali ke Kalender Lama pada pertemuan dan perarakan akbar yang diikuti oleh lebih dari 25.000 orang seusai Liturgi Suci di Gereja Tertidurnya Sang Theotokos di Kolonos, Athena (Bishop Ambrosius of Methone, The Old Calender Greek Orthodox Church-A Brief History).

Jadi, perlu diperjelas bahwa tiga uskup itu baru memimpin kelompok Orthodox tradisionalis mulai tahun 1935 bukan sejak 1924 seperti kata Fr. Onufrios.

siapa saja mereka? Uskup Demetriados Germanos,mantan uskup Florinis Krisostomos dan uskup Zakynthos Krisostomos yang dimana mereka bertiga memisahkan diri dari Gereja Yunani dan ketiga uskup ini dengan status : dipecat

Ketiga Metropolitan tersebut, karena sudah mengantisipasi konsekuensi atas tindakan mereka yang mendukung kelompok pro kalender lama, segera menahbiskan 4 uskup lagi yaitu: Germanos dari Cyclades, Polykarpos dari Diavleia, Christophoros dari Megara, dan Matthew dari Bresthena. Apa yang sudah diprediksi akhirnya terjadi. Ketujuh uskup pro kalender lama ini segera ditangkap oleh aparat pemerintah atas permintaan Gereja Negara dan dibawa ke pengadilan gerejawi pada bulan Juni 1935 dengan tuduhan “menyebabkan perpecahan dan gangguan keamanan melalui perkumpulan yang tidak sah dan ketidaktaatan pada gereja yang sah dan kanonik. Selama pengadilan gerejawi ini, yang berlangsung di Katedral Metropolitan Athena, sejumlah pendukung mereka yang dipimpin oleh 40 imam dan 60 rahib menunggu dengan tenang di lapangan depan katedral sambal menaikkan kidung-kidung kanon kepada Bunda Allah. Kerumunan yang sedang berdoa itu tiba-tiba dibubarkan oleh aparat dengan menggunakan semprotan air dari pemadam kebakaran dan pentungan, lebih dari 100 orang luka-luka.

Hasil dari pengadilan gerejawi tersebut diumumkan pada tanggal 5 Juni 1935 dan ketujuhnya dinyatakan dipecat. Germanos dari Demetrias, Chrysostomos dari Florina, dan Germanos dari Cyclades diasingkan ke biara-biara yang jauh, Matthew dari Bresthena, karena kondisi kesehatannya, menjadi tahanan rumah di biaranya, sedangkan Chrysostomos dari Zakynthos, Polykarpos dari Diavleia, dan Christophoros dari Megara, akhirnya menyerah di bawah tekanan, dan menyatakan kembali ke Gereja Negara.

Fr. Onufrios seharusnya bersikap fair dengan menjelaskan alasan “pemecatan” ketiga Metropolitan tersebut secara terbuka, sehingga pembaca bisa tahu alasan apa dibalik “dipecatnya” mereka. Nampaknya poin yang ingin ditonjolkan oleh Fr. Onufrios adalah “pemecatan”nya bukan substansi permasalahannya.

Kalau hanya soal itu, dalam sejarah Gereja atau jika kita belajar patristik, maka banyak sekali kasus pemecatan, pencopotan, dan sejenisnya yang dialami para Bapa Gereja dengan berbagai alasan. Js. Yohanes Krisostomos pernah dipecat, Js. Athanasius Agung pernah dicopot, Js. Gregorius Palamas juga demikian. Jadi, pecat-memecat bisa saja terjadi, tetapi harus jelas substansi permasalahannya. Toh pada akhirnya, waktu juga yang menjawabnya.

GGOC pada masa ini terbagi menjadi dua grup utama: grup Krisostomos(mantan uskup Florinis) dan grup kaum Matheos,

Lagi-lagi Fr. Onufrios memunculkan wacana yang ahistoris. Sebagaimana sudah dijelaskan panjang lebar di atas, keterlibatan tiga Metropolitan tersebut dengan gerakan pro kalender lama tidak dimulai pada tahun 1924. Berarti pernyataan Fr. Onufrios bahwa GGOC pada masa itu (1924) tidak tepat. Kalau untuk memeriksa fakta sejarah yang begini mudah saja beliau tidak menunjukkan kredibilitas, lalu atas dasar apa kita bisa mempercayai argumen-argumen selanjutnya yang bisa saja hanya asbun dan tidak kompeten?

Akan tetapi, demi kejelasan dan kebaikan bersama, pro bono publico, marilah kita lihat bersama fakta-faktanya.

Pada tahun 1937, Metropolitan Chrysostomos dari Florina menulis sepucuk surat pribadi kepada Metropolitan Germanus dari Cyclades terkait dengan pertanyaan yang diajukan kepadanya mengenai apakah Gereja Negara Yunani masih memiliki rahmat Roh Kudus yang tersalur melalui mysterion/ sakramen-sakramen gerejawi. Dalam suratnya, ia menjawab bahwa meskipun Gereja Negara yang telah memakai kalender baru ini bersalah di hadapan Allah karena tindakan-tindakannya; dan untuk alasan itulah kelompok pro kalender lama (kita pakai istilah Old Calendarist ala-ala Fr. Onufrios saja ya..biar lebih catchy) tidak bisa berkomuni dengan mereka, namun sejauh para klerusnya tidak menyimpang dari ajaran-ajaran pokok dan tradisi Gereja maka rahmat Roh Kudus itu tetap mereka miliki, sehingga yang terjadi adalah potensi (εν δυναμει – en dynamei) skisma dan bukan skisma sebenarnya (εν ενεργεια- en energia), sampai dengan adanya suatu keputusan dari konsili Pan-Orthodox terkait hal kalender ini (Bishop Ambrosius of Methone, The Old Calender Greek Orthodox Church-A Brief History).

Pendapat di atas dikemukakan beliau mengingat kondisi negara Yunani yang saat itu serba membingungkan dan complicated. Di satu sisi, sudah jelas bahwa perubahan kalender bukanlah merupakan suatu perubahan langsung atas doktrin gereja, meskipun jelas bahwa kebijakan tersebut melanggar kesatuan Gereja dengan mengacaukan kesatuan liturgisnya. Di sisi lain, sudah jelas juga, sebagaimana dinyatakan dalam ensiklik Patriarkat Konstantinopel bahwa perubahan kalender ini merupakan langkah awal untuk penyatuan kembali dengan denominasi dan sekte-sekte heterodox yang tentu saja berhubungan dengan masalah doktrinal. Selain itu, meskipun sinode Gereja Negara Yunani yang baru telah menyatakan dalam ensiklik mereka pada bulan April 1926 bahwa kelompok Old Calendarist itu tidak memiliki rahmat dalam sakramen-sakramen mereka dan meskipun Patriarkat Ekumenis telah menyatakan dalam ensiklik mereka tahun 1920 bahwa denominasi dan kelompok heterodox adalah “Gereja-gereja Kristus” dan “rekan pewaris dari janji Allah” tetapi ada sejumlah besar hirarki dan klerus gereja Negara yang menolak kebijakan-kebijakan baru dan tetap mempertahankan ajaran Orthodox yang tradisional. Dan meskipun ada uskup-uskup Gereja Negara yang dengan beringas menganiaya kaum Old Calendarist, namun banyak juga yang bersimpati dan dengan diam-diam tetap membantu mereka.

Dari pendapat di atas, kita bisa melihat bahwa Metropolitan Chrysostomos dari Florina pada saat itu memilih untuk “wait and see” menunggu sampai diadakannya suatu konsili Pan-Orthodox yang akan mengkaji secara mendalam dan menyeluruh soal perubahan kalender ini dan mengembalikan Kalender Julian sebagai kalender liturgis gereja. Itulah sebabnya ia mengambil posisi yang moderat.

Perlu dicatat bahwa melalui surat-suratnya di tahun 1937 itu, Metropolitan Chrysostomos dari Florina mengungkapkan bahwa pernyataan-pernyataanya terkait keberadaan Gereja Negara tersebut adalah “pernyataan dan sikap pribadi” dan itu dilakukannya dalam korespondensi personalnya. Lain halnya dengan ketika nantinya pada tahun 1950, ia bersama dengan segenap anggota Sinode Suci dari GGOC memberikan pernyataan resmi melalui ensiklik sinodal mereka. Meskipun Metropolitan Germanus dari Demetrias sebagai pemimpin sinode Old Calendarist ketika itu (tahun 1937) setuju dengan pendapat Metropolitan Chrysostomos, tetapi dua uskup lainnya yaitu Germanos dari Cyclades dan Matthew dari Bresthena memandangnya berbeda. Kedua uskup ini menilai sikap Metropolitan Chrysostomos yang “lunak dan moderat” itu sebagai suatu bentuk pengkhianatan atas perjuangan kelompok Old Calendarist. Maka mereka pun memisahkan diri dari Metropolitan Chrysostomos. Belakangan, keduanya pun berpisah jalan akibat berselisih paham terkait hal-hal tertentu. Sebagai hasil perpisahan ini, maka ada dua kelompok yaitu pengikut Metropolitan Chrysostomos dari Florina (dikenal dengan nama kelompok Florinit, dan merupakan mayoritas) dan pengikut Uskup Matthew dari Bresthena (dikenal dengan nama kelompok Matthewit, yang jumlahnya jauh lebih sedikit dan memiliki pandangan yang sangat ekstrim).

Jadi dari sinilah asal-usul dua kelompok Old Calendarist yang disebutkan oleh Fr. Onufrios. Saya yakin Fr. Onufrios, meskipun tinggal di Gunung Athos tidak terlalu memahami dinamika gerejawi apalagi sejarah Gereja Yunani modern. Hal itu nampak dari tulisan-tulisannya selanjutnya yang tumpang tindih, tidak koheren serta terkesan tembak sana tembak sini itupun terjemahannya amburadul. Mari kita lanjutkan….

, apa pembelaan GGOC terhadap memutuskan komuni dengan Gereja Yunani? Mereka merujuk kepada Santo Tarasios dan Santo Theodoros Studit ketika pada masa itu kaisar menikah kembali dan kelompok biarawan Studit yang dipimpin santo Theodoros memutus komuni dengan Patriakh Tarasios dan juga untuk sang Kaisar(Konstantinos)dengan alasan: Sesat, dan zina, jelas ini yang tidak dapat disamakan dengan pergantian kalender baru yang jelas jelas bukan sebagai bentuk suatu kesesatan, dan Osios Theodoros of Studit tidak ada kaitannya dengan GGOC yang memutus komuni,sedangkan faktanya terbalik, Osios Theodoros tidak pernah memutus komuni dengan Gereja,lagi pembelaan GGOC untuk seakan akan mereka mempertahakankan tradisi bapa Gereja tidaklah tepat karna Osios Theodoros sendiri mereka ambil sebagai “bentuk” dari gereja merekasedangkan mereka sendiri tidak mencirikan pengajaran dari Bapa Gereja,mereka tetap tidak bisa membela dari sudut pandang mana Gereja telah menjadi sesat,tetapi mereka melakukan pembelaan bagi diri mereka sendiri dengan memakai kanon dari protodevtera Sinode Santo Fotios untuk diri mereka sendiri tanpa adanya kebenaran!.

Apa pembelaan GGOC memutuskan komuni dengan Gereja Negara Yunani? Sudah panjang lebar dijelaskan di atas, dan tidak langsung terkait dengan Patriakh Tarasios dan Js. Theodorus Studitis. Saya curiga Fr. Onufrios ini lebih banyak membaca tentang kaum Matthewit yang memang lebih ekstrim pandangannya dan menggeneralisir seolah-olah GGOC yang ada di Indonesia ini berafiliasi dengan mereka. Jika demikian, maka beliau salah tembak.

Sebaiknya Fr. Onufrios memberi klarifikasi terkait pernyataan beliau: “mereka (GGOC) merujuk kepada Santo Tarasios dan Santo Theodoros Studit ketika pada masa itu kaisar menikah kembali dan kelompok biarawan Studit yang dipimpin santo Theodoros memutus komuni dengan Patriakh Tarasios dan juga untuk sang Kaisar (Konstantinos) dengan alasan: Sesat, dan zina”.

Dalam hal apa GGOC merujuk kepada kedua figur yang sudah disebutkan di atas? Kalaupun ini beliau ambil dari buku sumbernya, alangkah lebih baik jika sumber itu dicantumkan langsung agar kita bisa menganalisa argumentasi penulis aslinya.

Dengan alasan: sesat dan zina?

Thomas Pratsch dalam bukunya Theodoros Studites (759-826) — zwischen Dogma und Pragma: der Abt des Studiosklosters in Konstantinopel im Spannungsfeld von Patriarch, Kaiser und eigenem Anspruch. Bern, Switzerland: 1998 menuliskan bahwa pada tahun 794 Kaisar Byzantium Constantine VI memutuskan untuk berpisah dengan istri pertamanya, Maria dari Amnia untuk menikahi salah satu pelayan (kubikularia) istrinya yang bernama Theodote, yang merupakan sepupu dari Theodorus Studitis. Pada awalnya Patriarkh Tarasios enggan menyetujui niat Kaisar sebab mengajukan perceraian tanpa bukti adanya perzinahan di pihak sang istri merupakan suatu tindakan illegal. Meskipun demikian, pada akhirnya Sri Patriarkh menyetujui rencana Kaisar, dengan catatan bukan dia yang akan memberikan sakramen pernikahan tetapi seorang imam lain bernama Joseph dari Gereja Aghia Sophia. Apa yang membuat Patriarkh Tarasios mengubah sikapnya dan bagaimana cara beliau mencarikan alasan yang tepat untuk melegalkan pernikahan tersebut? Kita tidak tahu.

Akhirnya Kaisar Constantine VI dan Theodota menikah pada tahun 795. Peristiwa inilah yang lalu memicu rentetan peristiwa yang dikenal sebagai “Moechian controversy” (moichos dalam bahasa Yunani artinya pezinah) di mana Theodoros Studitis dan para monakhos dari Biara Sakkudion melancarkan aksi protes atas pernikahan Sang Kaisar dan menuntut dilakukannya ekskomunikasi terhadap imam Joseph dan juga mereka yang telah menerima komuni darinya (berarti termasuk Kaisar dan seisi istananya). Sampai sejauh ini, saya belum melihat keterkaitan antara argumen Fr. Onufrios tentang Js. Theodoros Studitis dengan masalah GGOC.

Makanya sebaiknya demi mencegah fitnah dan penggiringan opini, saya minta Fr. Onufrius untuk bisa membuktikan argumennya. Kalau tidak, maka saya anggap Fr. Onurfios sebagai penyebar fitnah dan hoax. Anda lebih baik fokus kepada kehidupan merahib. Seorang rahib yang sudah ditonsur sudah melupakan hiruk pikuk dunia. Kecuali ia diperintahkan untuk “turun gunung” oleh hegumenosnya. Salah satu kaul kerahiban adalah ketaatan terhadap kepala biara. Apakah hegumenos anda tahu bahwa anda ngurusin GOI-GGOC? Apakah itu juga termasuk tugas yang diberikan kepada anda dari Kepala Biara? Wallahualam!

Saya kutip lagi tulisan anda: “dan Osios Theodoros of Studit tidak ada kaitannya dengan GGOC yang memutus komuni,sedangkan faktanya terbalik, Osios Theodoros tidak pernah memutus komuni dengan Gereja”

Fr. Onufrios yang terhormat, memang Js. Theodorus tidak pernah memutus komuni dengan Gereja. Yang bilang begitu siapa? Yang ada, adalah Js. Theodorus menuntut agar Gereja mengekskomunikasi pihak-pihak yang terlibat dalam pernikahan kaisar yang kontroversi itu. Coba dibaca baik-baik….

Dan yang ini lagi:

lagi pembelaan GGOC untuk seakan akan mereka mempertahakankan tradisi bapa Gereja tidaklah tepat karna Osios Theodoros sendiri mereka ambil sebagai “bentuk” dari gereja merekasedangkan mereka sendiri tidak mencirikan pengajaran dari Bapa Gereja

Fr. Onufrios, apa yang anda maksud dengan mengambil sebagai “bentuk” dari gereja? Tolong jangan “kumur-kumur”. Mohon diperjelas. Lalu dalam hal apa GGOC “tidak mencirikan pengajaran dari Bapa Gereja?” Silakan diperjelas. Jangan menembak membabi buta.

Mari kita maju apakah itu grup Krisostomiakon Florianon dengan Matheikon? Periode 1924-1935 ketika ketiga uskup itu( Uskup Demetriados Germanos,mantan uskup Florinis Krisostomos dan uskup Zakynthos Krisostomos) memisahkan diri dari Gereja, setelah pemecatan mereka,uskup Zakynthos Krisostomos dengan waktu tidak panjang kembali kepada pangkuan Gereja,tetapi tidak dengan Demetriados Germanos,mantan uskup Florinis Krisostomos serta uskup Vresthenis Matius yang menurut mereka Gereja telah menjadi bidat dan Skismatik dan Papisme, kedua grup ini mempunyai cara pandang mereka sendiri terhadap Gereja yang telah mengganti kalender.

Hal ini sudah saya jawab panjang lebar di atas. Silakan baca kembali. Inilah contoh tulisan Fr. Onufrios yang saya katakan tadi tidak koheren. Loncat sana loncat sini. Tidak kronologis karena tujuannya adalah untuk menggiring opini pembaca sehingga akan lebih fokus pada keywords tertentu seperti pemecatan, skismatik, bidat, dll., tanpa melihat keutuhan narasi dan substansi permasalahan. Makanya saya katakan, anda lebih baik fokus merahib.

Tahun 1937 adalah tragedi kefanatikan yang ironis, dan grup GGOC Krisostomiakos Florinis sama sekali tidak adanya suksesi apostolik,dan invalidnya misteri gereja, dan kedua grup utama( Krisostomiakon dan Matheikon) berlawanan satu sama lain

Saya paham bahwa Fr. Onufrios mengambil sumber tulisannya dari tulisan berbahasa Yunani. “Tragedi kefanatikan yang ironis” wah….serasa sedang membaca lirik lagu hits Malaysia tahun 90an. Nampaknya penguasaan bahasa Yunani beliau belum memadai, sehingga hasil terjemahannya juga ala kadarnya. Alhasil, untuk memahami gaya dan makna tulisannya juga memerlukan “doa dan puasa khusus”.

Soal kedua kelompok (Florinit dan Matthewit) sudah saya jelaskan sebelumnya.

Sekarang mari kita bahas tahbisan kaum Krisostomiakon di gereja ROCOR, pada tahun 1960 ditahbisnya uskup pertama GGOC oleh uskup ROCOR uskup Chickago Serafim dan Detroit Theofilos dari sinode Rusia diaspora

Fr. Onufrios, sekali lagi, mendingan anda merahib. Sayang sekali jika anda hanya dimanfaatkan oleh segelintir oknum di tanah air untuk memuaskan ego mereka…mentang-mentang anda tinggal di Gunung Athos jadi anda dianggap infallible.

Yang menahbiskan uskup untuk GGOC adalah Uskup Serafim dari Chicago dan Detroit, bukan uskup Chickago Serafim dan Detroit seperti kata anda. Bisa dilihat bedanya kan? Makanya saya katakan anda hanya diperalat sampai harus repot-repot menerjemahkan dari teks Yunani. Itupun terjemahannya salah.

Setelah wafatnya Metropolitan Chrysostomos dari Florina pada bulan September 1955, dan sebagai akibat persekusi yang dilakukan oleh Gereja Negara Yunani dengan meminjam tangan aparat pemerintah, kelompok Old Calendarist/ GGOC tidak memiliki uskup sehingga administrasi Gerejawi terpaksa harus dilaksanakan oleh suatu dewan gerejawi yang terdiri dari 12 imam yang paling terkemuka di antara mereka dengan diketuai oleh Arkhimandrit Akkakios Pappas. Salah satu tugas prioritas dari dewan ini adalah untuk mencari uskup baru bagi GGOC untuk menggembalakan umat. Upaya-upaya terkait hal ini dilaksanakan di dalam negeri dan ke luar negeri.

Pada pertemuan Konferensi Klerus GGOC ke-2 di Athena tahun 1957 yang dihadiri oleh lebih dari 100 orang klerus dari berbagai pelosok Yunani dan sejumlah imam-rahib dari Gunung Athos, dilakukan pemilihan untuk menentukan calon uskup. Dari hasil pemilihan, terjaring 3 calon yaitu: Arkhimandrit Chrysostomos Naslimes (46 suara), Arkhimandrit Akkakios Pappas (42 suara), dan Arkhimandrit Chrysostomos Kiousis (24 suara). Dari ketiga calon ini, Akkakios Pappaslah yang ditahbiskan oleh Uskup Serafim dan Uskup Theofilus dari ROCOR pada tanggal 22 Desember 1960 di Gereja St. Nicholas Detroit, Michigan dengan disaksikan oleh Arkhimandrit Petros Astyfides dan Arkhimandrit Akkakios Pappas Muda

dengan tahbisan yang dilarang oleh sinode Rusia

Sinode ROCOR pada waktu itu diketuai oleh Metropolitan Anastassy yang terkenal sangat hati-hati dalam bertindak dan pada waktu itu memang tidak mengizinkan pelaksanaan tahbisan bagi GGOC oleh karena kebijakan ROCOR pada waktu itu yang tidak menginginkan adanya ketegangan hubungan dengan yurisdiksi-yurisdiksi lain seperti misalnya Patriarkhat Konstantinopel dalam hal ini Keuskupan Agung Yunani di Amerika (GOARCH) yang saat itu dipimpin oleh Uskup Agung Iakovos meskipun saat itu ROCOR sendiri tidak secawan dengan Konstantinopel dan beberapa yurisdiksi lain. Artinya meskipun individu-individu penting di ROCOR seperti Js. Yohanes dari Shanghai dan San Fransisco, Metropolitan Philaret, Uskup Serafim, dll bersimpati dan mendukung GGOC, namun secara lembaga kewenangan terletak di tangan Metropolitan Anastassy.

GGOC berusaha keras bahwa ROCOR juga menolak memberi komuni kepada kaum kalender baru,nyatanya,tidak!, ROCOR masih memiliki komuni penuh dengan gereja lain(khususnya gereja Serbia) dan juga Patriakh Ekumenis dan uskup Amerika Yakobus yang GGOC menyatakan mereka sebagai bidat, dengan adanya bukti dari uskup Chickago Serafim yang menuliskan: “ yang mulia uskup mengikuti kalender baru di Katedral Detroit(tempat terjadinya tahbisan) , melakukan Liturgi dengan kalender baru yang dimana tidak rahasia menahbiskan uskup Akakios(terj di sederhanakan)

GGOC mana yang anda maksud? Perlu Fr. Onufrios ketahui, saat ini (tahun 2023) kelompok Old Calendarist yang diakui pemerintah Yunani sebagai lembaga gerejawi dan oleh karenanya memiliki hak menggunakan nama GGOC adalah kelompok Florinit, yang saat ini dipimpin oleh Uskup Agung Kallinikos Sarantopoulos. Ini ditetapkan dengan Undang-undang No. 4301/2014 maka mereka boleh mendirikan gereja dan sakramen mereka juga didaftarkan dalam register pemerintah. Bedanya hanya 1: mereka tidak digaji oleh Pemerintah. Konstitusi Yunani memang mengatur bahwa tidak boleh ada 2 Gereja Negara. Sekali-sekali turunlah dari Athos dan tanya-tanya di kantor pemerintah. Nah, kembali ke pernyataan anda bahwa GGOC berusaha keras bahwa ROCOR menolak memberi komuni kepada New Calendarist. Apakah Fr. Onufrios punya bukti atas pernyataan ini? Berusaha keras yang anda maksud itu apa? ROCOR memang pada awalnya (dan sedari awal) memiliki komuni penuh dengan gereja Serbia karena faktor etnik (Slavik) dan alasan-alasan lain (pastoral dan politik). Bukti yang Fr. Onufrios sertakan (pernyataan Uskup Serafim dari Chicago) itu tidak bisa diyakini validitasnya apalagi ada keterangan: terjemahan disederhanakan.

yang mulia uskup mengikuti kalender baru di Katedral Detroit(tempat terjadinya tahbisan) , melakukan Liturgi dengan kalender baru yang dimana tidak rahasia menahbiskan uskup Akakios

Perhatikan redaksi kalimatnya yang menunjukkan bahwa Fr. Onufrios sendiri tidak dapat menyusun kalimat yang pas. Bahasanya belepotan. Jadi atas dasar apa saya dan pembaca bisa meyakini argumentasi anda sedangkan redaksi kalimatnya saja kacau balau? Istilah “yang mulia uskup” itu merujuk kepada siapa? Perlu diperjelas. Pernahkah anda baca surat terbuka dari Metropolitan Philaret dari ROCOR kepada Uskup Agung Iakovos dari GOARCH yang mengkritiknya habis-habisan karena pelanggaran begitu banyak kanon gerejawi? Ini saya sertakan linknya:

Open Letter of Metropolitan Philaret to Archbishop Iakovos (orthodoxinfo.com)

pada grup Matheikon, mereka meminta sinode Rusia Diaspora untuk menerima tahbisan mereka,benar, tahbisan mereka diterima oleh sinode Rusia Diaspora yang diterima pada tahun 1971,tetapi ROCOR pada tahun 1960 memiliki interkomuni dengan kaum kalender baru yang dipandang oleh kaum GGOC sebagai bidat,pada tahun 1971 kaum Matheikon memutus komuni oleh sinode Rusia diaspora dan mengenai tahbisan mereka sinode Rusia diaspora menjawab: dengan di putus komuni diantara sinode Rusia diaspora dnegan grup Matheikon maka tahbisan mereka dinyatakan invalid

Argumen ini lagi-lagi menunjukkan ketidaktahuan Fr. Onufrios perihal GGOC. GGOC yang menjadi anggota GOI ini tidak ada urusannya dengan kelompok ekstremis Matthewit tesebut. Fr. Onufrios salah sasaran.

Pada tahun 1979 terjadi skisma diantara uskup Kallistos dan uskup Antonius yang dimana mereka berdua memutus komuni terhadap “uskup agung” mereka Avksendios dengan alasan etikadan uskup Avksendios faktanya telah dipecat oleh sinode Gereja Yunani dengan alasan yang sama. Tahun 1984 sendiri uskup Avskendios merintahkan uskup Gerasimos dan Maksimos untuk menahbiskan seorang yang bernama Dorotheos Tsakos menjadi uskup Patron dan sleuruh Pelloponisos yang dimana Dorotheos Tsakos sendiri adalah imam terpecat oleh sinode Gereja Yunani pada tahun 1968 dengan kasus berat,Etik dan pada periode 1968-1984 Tsakos sendiri telah ditahbis dua kali menjadi uskup di GGOC.

Seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya, pemaparan Fr. Onufrios ini meloncat ke sana kemari. Tadi bicara soal kelompok Matthewit, sekarang loncat lagi ke Florinit. Ini merupakan salah satu taktik berargumen yang jitu, yaitu mengalihkan perhatian kepada hal yang lain dalam hal ini perpecahan internal Old Calendarist. Dengan demikian ingin menggiring opini bahwa:

  1. Di internal Old Calendarist sendiri terjadi perpecahan/ skisma. Ini membuktikan bahwa mereka salah dan betul-betul adalah skismatik
  2. Banyak orang-orang Old Calendarist adalah orang-orang “cacat” dan “bercela” karena status pernah dipecat dsb.

Baik, mari kita lihat satu persatu.

Benar bahwa pada tahun 1979 terjadi skisma internal di kelompok Old Calendarist antara Metropolitan Kallistos dari Korintus serta Metropolitan Antonius dari Megara dengan Uskup Agung Auxentios yang kata Fr. Onufrios disebabkan karena alasan etika. Tanpa menjelaskan apa yang dimaksud dengan “alasan etika” tersebut, Fr. Onufrios hanya akan membuat pembaca menduga-duga ada apa gerangan sehingga bisa menimbulkan prasangka yang bermacam-macam. Kepemimpinan Uskup Agung Auxentios pada waktu itu memang tidak bisa dikatakan ideal. Banyak anomali dan ketidaktertiban administrasi serta pengambilan keputusan sepihak (termasuk penahbisan imam) yang membuat sebagian anggota Sinode menjadi tidak puas sehingga terjadi perpecahan. Inilah yang menyebabkan Metropolitan Kallistos dan Metropolitan Antonius bertindak sepihak untuk menahbiskan 7 orang arkhimandrit menjadi uskup tanpa persetujuan Uskup Agung Auxentios. Untuk mengatasi masalah “bongkar-pasang” personil yang dilakukan oleh Uskup Agung. Namun demikian, setelah melewati pasang-surut dan proses rekonsiliasi yang cukup panjang, skisma tersebut sudah teratasi, dan kelompok pihak-pihak yang bertikai sudah bersatu kembali pada tahun 2014 yaitu antara Synod in Resistance dan Sinode Suci GGOC melalui akta unifikasi.

Terkait pernyataan Fr. Onufrios bahwa “Uskup Auxentius faktanya telah dipecat oleh sinode Gereja Yunani dengan alasan yang sama (etika)”, ini perlu diklarifikasi dulu.

Uskup Auxentios Pastras lahir dengan nama Konstantinos Patras pada tahun 1912 di Agios Theodoros, Magnesia dan pada usia muda sudah menjadi rahib di Biara Transfigurasi, Kouvara, Attica. Pada tahun 1938 ia ditahbiskan menjadi Diakon lalu menjadi Presbyter oleh Uskup Matthew dari Bresthena. Namun belakangan karena melihat tindakan-tindakan non-kanonikal yang dilakukan Uskup Matthew (seperti misalnya menahbiskan uskup seorang diri pada tahun 1949) serta ekklesiologinya yang sangat ekstrim, maka ia meninggalkan kelompok Matthewit dan bergabung dengan Metropolitan Chrysostomos dari Florina. Lalu pada tahun 1962 ia ditahbiskan menjadi uskup Gardikion oleh Uskup Agung Leonty Filippovich dari ROCOR dan Uskup Akakkios dari Talantion.

Jadi bagaimana mungkin Uskup Auxentios dipecat oleh sinode gereja negara Yunani sedangkan sejak awal ia sudah menjadi bagian dari GGOC? Berarti Fr. Onufrios memberikan pernyataan bohong.

Selanjutnya, terkait kasus Dorotheos Tsakos.

Salah satu skandal yang menyebabkan munculnya mosi tidak percaya kepada Uskup Agung Auxentios dan berujung pada skisma internal adalah ketika ia, karena keteledorannya tanpa berkonsultasi kepada Sinode Suci secara keseluruhan, memerintahkan penahbisan Dorotheos Tsakos, seorang imam pecatan dari Gereja Negara yang tersandung kasus homoseksualitas pada tahun 1968 oleh Metropolitan Gerasimos dari Thebes dan Metropolitan Maximus dari Kefalonia . Setelah dilakukan pengusutan dan pengadilan gerejawi maka semua pihak termasuk para uskup yang terlibat dalam skandal tersebut dipecat oleh Sinode Suci pada tanggal 22 Oktober 1985.

Terkait bahwa Dorotheus Tsakos sendiri “telah dua kali ditahbis mejadi uskup di GGOC”, ini kurang tepat. Persisnya adalah Dorotheos Tsakos telah dua kali “diangkat menjadi Metropolitan” oleh uskup-uskup kelompok Matthewit. Beda antara ditahbiskan menjadi uskup dan diangkat menjadi metropolitan.

Dalam kelompok Old Calendarist sendiri memang ada beberapa faksi, mulai dari yang keras sampai yang moderat. Adanya skisma internal dan “kecacatan” inilah yang membuat Fr. Onufrios mengatakan bahwa GGOC bukan, dan tidak mungkin merupakan bagian dari Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik itu. Beliau mungkin tidak tahu atau lupa bahwa dalam sejarah Gereja, ketika masa pandemi bidat melanda (seperti di abad ke-4), sangat sering para hirarki Orthodox yang otentik, termasuk juga para klerus dan bahkan umat awam mengalami perpecahan sebab perbedaan pendapat. Di masa kelam seperti di abad ke-4, kehidupan Gereja diibaratkan seperti pertempuran laut di malam hari, kata Js. Basilius Agung, dan memang benar demikian keadaannya. Tetapi jangan lupa bahwa era tersebut juga dikenal sebagai Era Keemasan Gereja karena keteguhannya melawan bidat. Contoh lain misalnya perpecahan pada era bidat Ikonoklasme saya kutip dari surat Js. Theodorus Studitis kepada Uskup Theofilus dari Efesus, demikian bunyinya: “Aku merasa berduka, ya Bapa yang sangat terhormat; pertama, sebab di antara kita sendiri, yang mengajarkan ajaran yang benar terkait bidat Ikonoklasme yang sedang merajalela, kerap terjadi pertikaian, dan mulai bermunculan skisma-skisma…”

Sekarang,apakah GGOC benar benar menghindari Ekumenisme? Saya rasa tidak karna faktanya seluruh GGOC ntah dari grup mana menerima mereka yang dimana menurut mereka “bidat” pada point pertama Fr Basillios Papadakis menulis demikian bahwa GGOC menerima mereka “bidat” umat kalender baru untuk berdoa bersama di gereja gereja mereka dan mengambil komuni serta antidoron dari mereka

Fr. Onufrios mengambil referensi dari tulisan Fr. Basilios Papadakis tahun 2000 yang kami juga sudah baca. Paragraf di atas diambil Fr. Onufrios dari bab berjudul Ekumenisme GOC. Tentunya Fr. Onufrios tidak bisa mempertanggungjawabkan argumen tersebut terkait apalagi dengan GGOC yang ada di Indonesia sebab perkataan “saya rasa tidak karena faktanya…dsb” itu adalah pernyataan Fr. Basilios yang bersifat subjektif.

“Menghindari ekumenisme” adalah istilah yang bias. Sebab ekumenisme menurut GGOC dan menurut Fr. Onufrios yang adalah anggota yurisidiksi pro ekumenisme tentulah berbeda. Ekklesiologi GGOC berada pada posisi menolak ekumenisme berdasarkan tinjauan teologis yang merujuk kepada Enskilik Patriarkat Ekumenis Konstantinopel tahun 1920 dimana denominasi-denominasi heterodox dianggap dan disebut sebagai “Gereja” padahal doktrin dan ajarannya berbeda dengan ajaran Orthodox. Justru ekumenisme yang dipraktekkan oleh yurisdiksi anda dan hirarki-hirarkinya adalah ekumenisme yang kebablasan ketika tujuan yang ingin dicapai adalah sebuah kesatuan semu dengan denominasi-denominasi heterodox. Mengapa semu? Karena hanya di permukaannya saja yang satu, padahal masing-masing tetap memegang ajaran heterodoxnya. Lalu mau anda taruh dimana perkataan Rasul Paulus: “satu tubuh, satu Roh, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, (Ef 4:4-5) dan satu roti (1 Kor 10:17)?

Inilah apa yang terjadi di dalam GGOC sendiri: Linimasi Skisma didalam GGOC

-1995 skisma diantara uskup Kallinikos dengan

Evthymios

  • tahun yang sama, skisma Maksimos
  • tahun yang sama,skisma Gregorius

-1998 skisma Nifon

Perpecahan, atau skisma atau apapun itu sebutannya memang bukanlah sesuatu hal yang bisa dibanggakan atau harus dipertahankan. Selalu ada sesal untuk keterpisahan, tetapi fakta sejarah mengajarkan bahwa di masa bidat mewabah, hal semacam ini bisa dan kerap terjadi.

Saya beri contoh:

Pada abad ke-4, Gereja dilanda pergolakan ketika umat dan rohaniwan Gereja berjuang melawan bidat Arianisme dan mereka yang mendukungnya. Kota Antiokhia di Syria, di mana para pengikut Kristus pertama kalinya disebut Kristen (Kis 11:26) juga tak luput dari gejolak itu. Gereja di Antiokhia terbelah antara para pengikut Js. Meletios, seorang uskup Orthodox dan para penentang mereka yang menganut bidat Arianisme. Untuk mengatasi kemelut ini, Js. Meletios memanggil para uskup untuk bersidang pada tahun 381, dua tahun setelah wafatnya Js. Basilius Agung di Kaisarea, Kapadokia.

Menariknya, ternyata di kalangan hirarki dan umat Orthodox di Antiokhia yang melawan Arianisme juga terjadi perbedaan-perbedaan pendapat yang berujung pada fragmentasi dan skisma yang dikenal dengan nama Skisma Antiokhia yang berlangsung antara tahun 330-435. Pada fase-fase awal Skisma Antiokhia (sekitar tahun 330-381) kubu Orthodox terbelah dua antara Js. Meletios Sang Pengaku Iman serta para pengikutnya, dan Uskup Paulinos dan para pengikutnya yang dikenal berhaluan keras. Satu fakta penting untuk diketahui ialah bahwa pada saat itu kedua kubu anti Arianisme ini sepenuhnya tidak dalam interkomuni alias tidak secawan! Bahkan beberapa Bapa Gereja pada zaman itu pun saling berkomuni dengan pihak yang berbeda. Js. Basilius Agung dan para Bapa Kapadokia lainnya sekomuni dengan Js. Meletios, sedangkan Js. Athanasius Agung, Js. Epifanius, Js. Hironimus, dan para uskup di Barat sekomuni dengan Paulinos yang pandangannya cenderung ke arah Monarkhianisme dan menunjukkan sikap agak berhati-hati terhadap orthodoxia dari Js. Basilius Agung. Kubu-kubu ini bahkan belum bisa direkonsiliasi melalui Sinode Aleksandria tahun 362. Malahan Konsili Ekumenis II tahun 381 pun belum bisa menyelesaikan persoalan ini sebab putusan konsili tersebut yang memilih Js. Flavianus sebagai Uskup Antiokhia untuk menggantikan Js. Meletios malah menimbulkan polemik baru. Para Uskup dari Palestina, Fenisia, Illirikum, Trakia, dan Pontus mendukung Js. Flavianus, sedangkan para uskup dari Barat, Mesir, Arab, dan Siprus menentangnya.

Tapi kemudian, terjadi suatu musibah. Di tengah-tengah negosiasi yang sedang dilaksanakan untuk memulihkan kesatuan Gereja di Antiokhia, Js. Meletios wafat. Kaisar Byzantium pada waktu itu, Theodosius, demi memuluskan upaya penyatuan Gereja, bahkan berinisiatif mengundang para uskup lainnya dari wilayah Mesir dan Ilirikum untuk ikut berpartisipasi dalam konsili tersebut. Alhasil, konsili di Antiokhia akhirnya menugaskan Js. Gregorius untuk berangkat ke Konstantinopel guna menyatukan dan menggembalakan umat Orthodox yang saat itu tercerai-berai karena mayoritas penduduk Konstantinopel sudah terpengaruh ajaran Arius. Konstantinopel saat itu ibaratnya merupakan suatu arena tarung antara umat dan hirarki Orthodox dan umat serta hirarki bidat Arianisme.

Gereja Konstantinopel waktu itu dikuasai oleh kelompok bidat sebab Uskup Agung Konstantinopel, Demophilos, adalah seorang penganut Arianisme sehingga gereja-gereja besar di dalam kota semuanya menolak kehadiran Js. Gregorius yang akhirnya harus melayankan Liturgi Ilahi di sebuah rumah pribadi dari seorang sepupunya bernama Theodosia, dan mendirikan kapel di rumah itu serta menamai gereja rumah tersebut dengan nama Gereja Kebangkitan. Beliau melaksanakan Liturgi Ilahi bersama para hirarki dan umat awam yang tetap setia kepada pengajaran Gereja yang orthodox, dan yang secara formal memutus komuni dengan Uskup Agung Konstantinopel. Pengalaman ini dituangkan Js. Gregorius dalam tulisannya Oration 33 ketika beliau menulis tentang Uskup Agung Konstantinopel dan para klerus serta umat awam mereka yang mengikuti ajaran bidat: “mereka memiliki rumah-rumah Allah, tetapi kita memiliki Dia yang berdiam di dalamnya; mereka memiliki altar-altar, tapi kita memiliki Allah…. mereka memiliki umat, tapi kita bersama para malaikat”.

Christopher A. Beely dalam bukunya Gregory of Nazianzus on the Trinity and the Knowledge of God menjelaskan betapa Js. Gregorius bekerja sangat keras untuk mengupayakan perdamaian antara kelompok-kelompok anti Arianisme di ibukota Konstantinopel. Dengan kembalinya Kaisar Theodosius ke Konstantinopel, maka Uskup Agung Demophilos diturunkan dari jabatannya karena lebih memilih untuk diasingkan daripada mengakui Kredo Nikea yang diimani oleh Gereja, dan keesokan harinya Js. Gregorius secara resmi diangkat menjadi Uskup Agung Konstantinopel di Gereja Para Rasul Kudus.

Penting untuk diingat bahwa ketika Js. Gregorius Nazianzus datang ke Konstantinopel, beliau tidak sekomuni dengan Uskup Agung dan hirarki gereja lainnya yang ada di Konstantinopel, tetapi beliau mendirikan altar sendiri dan melayankan Liturgi Ilahi sendiri, terpisah dan tidak secawan dengan Uskup Agung Konstantinopel yang “resmi”. Contoh dan pola ini seharusnya menjadi jelas sebab memang terdokumentasi dalam sejarah Gereja.

Sekarang mari kita tarik kisah ini ke persoalan masa kini di mana standar yang diterapkan oleh yurisdiksi-yurisdiksi yang menyebut dirinya “resmi” adalah bahwa yang menentukan seseorang berstatus skismatik atau bukan adalah apakah orang tersebut berada dalam komuni dengan Patriarkat Konstantinopel. Kalau menggunakan logika itu maka Js. Gregorius Sang Teolog tentu adalah seorang skismatik. Beliau tidak secawan dengan Uskup Agung Konstantinopel, tidak mengkomemorasinya saat Liturgi Ilahi, tidak berkonselebrasi dengannya, malahan mendirikan altar sendiri bersama umat Orthodox yang tidak mau berkompromi dengan ajaran bidat yang dipegang oleh Uskup Agung Konstantinopel saat itu. Js. Gregorius Sang Teolog memelihara kemurnian persekutuan Gereja dengan berpegang pada ajaran yang sehat dari iman Orthodox.

Situasi yang dialami oleh Js. Gregorius pada masa itu hampir sama dengan yang dihadapi kita pada masa kini, ketika Patriarkat Konstantinopel dan patriarkat-patriarkat besar dan historik lainnya terlilit dalam pusaran ekumenisme, yang ditandai dengan keterlibatan mereka dalam organisasi Dewan Gereja-gereja Dunia. Itulah sebabnya saya tidak terlalu terkesan dengan opini saudara-saudara yurisdiksi lain (termasuk Fr. Onufrius) yang menyebut kami sebagai kelompok skismatik, sebab situasi yang sama juga pernah dialami oleh Js. Gregorius Sang Teolog yang nampak jelas dari tulisannya dalam Oration 33. Yang dibutuhkan adalah kejelasan sikap sebab saat ini Gereja berada dalam situasi yang kata Js Basilius Agung, “…ibarat peperangan laut di malam hari…” ketika sulit untuk membedakan mana kawan mana lawan saking gelapnya malam itu (lihat saja skisma antara Patriarkhat Moskow dan Kontantinopel yang sudah merembet ke Patriarkhat lainnya seperti Alexandria dan yurisdiksi lainnya)

Jadi, kapan Js. Gregorius Sang Teolog tidak secawan dengan Konstantinopel? Ketika Uskup Agung Konstantinopel memegang ajaran bidat. Hirarki mana yang sebenarnya skismatik, dan mana yang benar-benar Orthodox? Uskup Agung Demophilos atau Uskup Agung Gregorius Sang Teolog? Saya kira kita semua tahu jawabannya…dan jika apa yang benar pada abad ke-4 dan masih tetap benar pada abad ke-21, tentulah kita tahu apa sebabnya GGOC sampai saat ini tidak berada dalam satu cawan dengan Patriarkat Konstantinopel (dan juga Moskow).

Js. Gregorius Sang Teolog mengatakan dengan tepat ketika beliau menulis: “mereka memiliki rumah-rumah Allah (Gereja-gereja), tapi kita memiliki Ia yang berdiam di dalamnya”. Ada waktunya ketika kita, karena suatu kondisi tertentu terpaksa harus berada dalam keadaan “skisma” dengan Hirarki Gereja tertentu. Yang perlu ditakutkan justru ialah kalau kita berada dalam “skisma” dengan Allah. Jika GGOC dianggap skismatik justru karena kita mempertahankan kebenaran yang dilanggar oleh para Hirarki Gereja, biarlah. Lebih baik berada dalam skisma dengan Uskup tertentu daripada kehilangan kesatuan dengan Kristus, apalagi jika Uskup tersebut memegang atau mempraktekkan ajaran bidat.

Dalam kasus ini, karena Uskup Agung Konstantinopel memegang ajaran bidat (dalam hal ini adalah Arianisme), maka Js. Gregorius melayankan Liturgi Ilahinya sendiri di luar struktur tahta Konstantinopel untuk menghindari kontak liturgis dengan Hirarki yang mengikuti ajaran bidat. Beliau bahkan tidak mau melaksanakan liturgi di salah satu dari gereja—gereja di ibukota kekaisaran sebab semua gereja di sana pada waktu itu berada di tangan para bidat, sehingga pasti di dalam semua gereja tersebut Uskup Agung Konstantinopel yang menganut ajaran bidat itu akan diperingati/ dikomemorasi oleh para klerus. Jadilah Js. Gregorius akhirnya melayankan Liturgi Ilahi di sebuah rumah pribadi, terpisah dari kelompok hirarki dan klerus yang berada dalam satu cawan dengan Uskup Agung Demophilos yang membidat itu.

Berarti, pernyataan yang sering kita dengar dari saudara-saudara umat orthodox dari yurisdiksi lain bahwa supaya tidak menjadi “skismatik” seseorang harus berada dalam komuni dengan Patriarkh atau Uskup Agung tertentu, tidaklah tepat. Seharusnya kita bertanya balik apakah Patriarkh atau Uskup tersebut berada “secawan” dengan kebenaran iman Gereja? Jikalau di abad ke-4 seorang hirarki Orthodox yang sejati tidak boleh berada dalam satu persekutuan dengan seorang Hirarki yang juga bersekutu dengan ajaran bidat, atau yang terang-terangan mempraktekkan kebidatan, atas dasar dan otoritas apa kita sekarang boleh mengubahnya atau bermain-main dengan apa yang telah menjadi konsensus patrum ini?

Inilah pentingnya kita selalu berpaling kepada Bapa-bapa Gereja ketimbang berspekulasi terkait isu-isu yang seringkali sayangnya tidak kita pahami dengan benar, sebab pemikiran dan ajaran serta kesepakatan Para Bapa Gereja itulah yang mencerminkan hati nurani Gereja sepanjang segala abad, yang membentengi Gereja dari rupa-rupa angin pengajaran yang palsu dan menyesatkan.

dan inilah point penting yang ditulis oleh Fr Basilios Papdakis

  1. Uskup-uskup GGOC itu asing bagi tradisi Gereja orthodox dan semangat bapa Gereja juga.
  2. Uskup-uskup GGOC ialah tak layak dan tak dapat memimpin untuk berbicara mengenai diputusnya interkomuni.
  3. Taktik yang di pakai GGOC ialah sama dengan Protestan,memaksakan satu gereja dengan berbagai alasan perlihal iman.

Dalam Fr. Onufrios menggunakan ketiga poin di atas sebagai kesimpulan dari tulisannya untuk menyasar GOI dan GGOC maka onus probandi ada di pihak beliau, dan sejauh saya membaca tulisannya, tidak ada satupun argumennya yang mendukung poin-poin tersebut. Silakan pembaca menilai sendiri.

Sekian,kirannya ini dapat menjawab apa yang GOI bela selama ini dengan memberi info palsu kepada mereka yang tidak mengerti persoalan eccliastical!

Demikian juga, tulisan ini saya akhiri sebagai jawaban dari tuduhan-tuduhan Fr. Onufrios kepada GOI (yang jelas-jelas salah sasaran, seperti yang sudah saya uraikan di awal) yang akhirnya hanya menunjukkan ketidakpahamannya terkait kedudukan GOI dan GGOC sendiri. Pembaca bisa menilai, siapa yang “memberi info palsu”. Harapan saya adalah para pembaca menemukan kejernihan kebenaran melalui tulisan ini dan semoga damai sorgawi memberikan ketenteraman bagi batin kita dan menuntun kita dalam menentukan pilihan kita.

Di bagian akhir ini saya juga ingin memberikan kesimpulan serta penekanan kembali bahwa:

  1. Dari argumen-argumen yang disampaikan oleh Fr. Onufrios dan sudah saya tanggapi, nampak bahwa Fr. Onufrios tidak memahami keberadaan GOI sebagai satu-satunya payung hukum bagi yurisdiksi-yurisdiksi Orthodox yang ingin melaksanakan karya misi mereka di bumi Indonesia.
  2. Berdasarkan data resmi yang ada di GOI, pada saat ini yurisdiksi yang bernaung di bawah GOI hanyalah GGOC saja. Dengan demikian keberadaan yurisdiksi lain (termasuk yurisdiksi asal Fr. Onufrios yaitu Konstantinopel) secara hukum adalah ilegal di Indonesia sebab mereka beroperasi tanpa adanya payung hukum yang jelas dan sah dari Pemerintah Republik Indonesia. Silakan tanya ke Fr. Onufrios apakah yurisdiksi mereka memegang pengakuan dari Kementerian Agama dalam hal ini Dirjen Bimas Kristen. Pasti beliau tidak bisa menjawab, atau kalaupun bisa menjawab akan ngalor-ngidul berbelit-belit dengan berbagai alasan.
  3. Fr. Onufrios telah dengan sengaja “menyerang” kredibilitas GOI sebagai lembaga resmi yang diakui Pemerintah Indonesia. Serangan dalam bentuk tulisan ini, entah karena dorongan diri sendiri ataukah karena diperalat oleh pihak lain tentunya akan direspon oleh GOI sebagai lembaga secara proporsional.
  4. Dalam pernyataan-pernyataannya, terbukti Fr. Onufrios banyak memberikan keterangan palsu yang sudah saya bantah dengan data-data yang sudah diuraikan di atas. Oleh karena itu, penilaian terkait bagaimana kredibilitas beliau sebagai seorang imam-rahib Konstantinopel saya kembalikan kepada pembaca. Masih maukah pembaca dibodoh-bodohi oleh oknum semacam ini? Silakan para pembaca menilai sendiri.
  5. Untuk anda, Fr. Onufrios yang saya hormati, tanpa mengurangi rasa hormat saya terhadap tahbisan imamat anda, saya nasehatkan anda untuk menjauhi tindakan semacam ini. Lebih baik anda fokus pada kehidupan monastik yang telah anda pilih dan lebih banyak mendoakan umat Orthodox di Indonesia (dari yurisdiksi mana saja) agar kehidupan persaudaraan dan kerukunan antar umat Orthodox tetap terjalin dengan baik, terlepas dari yurisdiksi apapun pilihannya. Dan jangan membiarkan diri anda diperalat oleh oknum siapapun di Indonesia yang hanya ingin menghancurkan karya misi Orthodox yang sudah dimulai oleh para pendahulu kita dengan susah payah dan penuh perjuangan. Janganlah anda bertindak berdasarkan “zeal without knowledge”.

Buku yang saya jadikan adalah bukti apa yang terjadi diantara Gereja Autokefali Yunani dengan mereka para pembangkang(GGOC).

Sekian terimakasih.

Berikut ini adalah referensi saya:

  • Fr. James Thornton, The Oecumenical Synods of the Church, Center for Traditionalist Orthodox Studies, 2007, Etna California
  • G.A Tsananas, “Meletios” in Ecyclopaedia of Religion and Ethics, Vol. viii, Athens, 1966
  • P.K. Chrestou, Greek Patrology, Vol. iv, Thessaloniki, 1989
  • Archimandrite B.K. Stephanides, Church History, 3rd ed, Athens, 1970
  • Fr. Georges Florovsky, “Efstathios of Antioch” in Ecyclopaedia of Religion and Ethics, Vol. v, Athens,1964
  • Fr. John McGuckin, St. Gregory of Nazianzus, Concerning His Own Life
  • Gregory of Nazianzus, Autobiographical Poems, Cambridge University Press, 1996
  • B.J. Kidd, A History of the Church to A.D 461, Vol.2, A.D. 313-408, Oxford, 1922
  • Christopher A. Beeley, St. Gregory of Nazianzus on the Trinity & Knowledge of God, Oxford University Press, 2008
  • St. Gregory of Nazianzus, Oration 33, A Select Library of Nicene and Post-Nicene Father of the Christian Church, 2nd series, Vol 7.
  • St. Basil the Great, On the Holy Spirit, St. Vladimir’s Seminary Press, 1980
  • St. Theodore the Studite, Patrologia Graeca, Vol.xcix, col.1482cd (Epistle II.155: “To Theophilos of Ephesus”)
  • Batiststos, D., Proceedings and Decisions of the Pan-Orthodox Council in Constantinople, May 10 – June 8, 1923, Athens, 1982.
  • Bishop Photius of Triaditsa, “The 70th Anniversary of the Pan-Orthodox Congress”, in 2 parts. (http://orthodoxinfo.com/ecumenism/photii_1.aspx
  • Buevsky, A., The Patriarch of Constantinople, Meletios IV, and the Russian Orthodox Church, 1953, No. 3.
  • Delimpasis, A.D., Pascha of the Lord, Creation, Renewal, and Apostasy, Athens, 1985
  • Englezaki, Benedict, Studies on the History of the Church of Cyprus, 4th – 20th Centuries. Vaparoum, Ashgate Publishing Limited, Aldershot, Hampshire, Great Britain, 1995.
  • Gatopoulos, D., Andreas Michalakopoulos, 1875 – 1938, Athens, Elevtheroudakis, 1947.
  • Holy Trinity Monastery, Orthodox Life a periodical: Printing Press of St Job of Pochaev Brotherhood.
  • Kitssikis, Dimitri, The Old Calendarists and the Rise of Religious Conservatism in Greece: St. Gregory Palamas Monastery, Etna, California.
  • Karamitsos, Stavros, The Agony in the Garden of Gethsemane
  • Lardas, George, The History of The Old Calendar Movement an unpublished paper: Holy Trinity Seminary, Jordanville, NY, 1983.
  • Strangas, Archimandrite Theokletos A., History of the Church of Greece, from Reliable Sources, Vol. 2, Athens, 1970
  • Zervoudakis, Alexander I., “Famous Freemasons”, Masonic Bulletin an official publication, Number 71, January – February, 1967.
  • (Zissis), Monk Seraphim, “Some Preliminary Notes on The Influence of Freemasonry
  • On Early Greek Ecumenism”The Orthodox Church Calendar: In Defence of the Julian Calendar Paperback – Illustrated, January 1, 1996 by Ludmila Perepiolkina and Bishop Photius of Triaditsa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *