GOI dalam Kerjasama Strategis dengan Pemerintah untuk Penyelesaian Konflik

Tangerang, Banten – Gereja Orthodox Indonesia (GOI) turut serta dalam pertemuan penting yang diselenggarakan oleh Subdit Kelembagaan pada Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen, Kementerian Agama RI. Kegiatan yang berlangsung dari tanggal 1 hingga 4 April 2024 ini bertempat di Vivere Hotel – Artotel Curated, Tangerang Banten, mengangkat tema utama “Sinergitas Bimas Kristen dengan Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan Gereja Lokal se-Pulau Jawa dalam Rangka Penanganan Konflik”.

Ketua Umum GOI, Romo Yakobus Jimmy Stevanus Mboe hadir mewakili lembaganya, menandakan komitmen GOI dalam berpartisipasi aktif mengatasi permasalahan sosial, khususnya yang berkaitan dengan konflik keagamaan di Indonesia. Kegiatan ini diisi dengan serangkaian agenda mulai dari pembukaan, diskusi materi, hingga sesi tanya-jawab yang mendalam terkait isu konflik sosial dan kerukunan umat beragama.

Pada hari pertama, setelah proses registrasi, acara dibuka oleh utusan dari Provinsi Banten, dilanjutkan dengan makan malam dan pembukaan resmi oleh Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen, Dr. Jeane Marie Tulung. Selama empat hari, para peserta, termasuk perwakilan dari berbagai lembaga dan instansi pemerintah, menggali implementasi Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 42 Tahun 2015 tentang Koordinasi Penanganan Konflik Sosial. Mereka berdiskusi tentang tantangan menjaga kerukunan di Indonesia, negara kepulauan dengan keanekaragaman sosial dan keagamaan yang luas. Intoleransi, berita hoaks, dan penggunaan isu SARA diidentifikasi sebagai penyebab utama keterbelahan sosial, yang memerlukan strategi manajemen konflik yang efektif.

Pertemuan ini tidak hanya membahas penyelesaian konflik yang sudah terjadi tetapi juga strategi pencegahan konflik di masa depan. Kasus-kasus seperti pembakaran rumah ibadah dan penolakan pembangunan gereja diungkap, menunjukkan kebutuhan mendesak untuk pendekatan penanganan konflik yang lebih efektif. Respons positif seperti pembangunan masjid baru di Sintang untuk komunitas Ahmadiyah diangkat sebagai contoh solusi konstruktif.

Kerjasama antara Bimas Kristen, pemerintah, dan gereja lokal dipandang kritikal dalam menciptakan suasana aman, tenteram, dan sejahtera di masyarakat. Dengan koordinasi yang baik, diharapkan dapat ditemukan solusi yang efektif untuk mengatasi akar masalah dan memelihara kedamaian sosial.

Konferensi ini menjadi tonggak penting dalam usaha memperkuat pondasi kehidupan beragama yang harmonis di Indonesia. Harapannya, setiap konflik bisa diselesaikan dengan damai, memberikan pelajaran berharga bagi semua pihak. Peningkatan indeks kerukunan umat beragama dari 2017 hingga 2023 menunjukkan adanya kemajuan dalam toleransi dan kerjasama antar komunitas, yang penting untuk dipertahankan dan ditingkatkan.

Inisiatif ini mencerminkan upaya bersama untuk menanggapi kebutuhan mendesak akan penyelesaian konflik yang adil dan berkelanjutan di Indonesia. Melalui dialog, kerjasama, dan saling memahami, pertemuan ini membuka jalan menuju masa depan yang lebih damai dan terbuka, di mana perbedaan didekati dengan sikap toleransi dan pengertian.

Dengan mengedepankan berbagai cara untuk menyelesaikan konflik, kegiatan ini bertujuan menciptakan cara baru untuk mengelola konflik yang bisa digunakan di seluruh Indonesia. Langkah ini menjanjikan kemajuan menuju negara yang tidak hanya kaya akan keberagaman tetapi juga kuat dalam kesatuan dan kerukunan, memastikan bahwa setiap warga negara merasa aman dan dihargai dalam keberagamannya.

Oleh : Irene W.W (6 April 2024)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *