Kebenaran di Balik Baju Zirah: Menguak Rahasia Efesus 6:10-17 Dalam Teologi Orthodox

Catatan kaki dari bacaan Efesus 6:10-17 pada Orthodox Study Bible adalah sebagai berikut :

6:10-17 All who stand for good must wage a constant battle with the forces of evil. For the demons still have power in the world (v. 12) until Christ comes again in glory. This is clearly acknowledged in the prayers at the conclusion of Orthodox baptism. Christians fight back with God’s arms, that is, His uncreated divine energy, given to us (1:19–23; 3:16–21) and actively used by us. The Christian has “put on” (4:24) at baptism all the qualities listed as armor in vv. 14–17. These qualities must be exercised in the conflict of growth: no struggle, no deification.

Catatan kaki ini mengacu pada pandangan teologi Orthodox tentang perjuangan spiritual dalam kehidupan Kristen. Mari kita bahas lebih rinci:

PERJUANGAN MELAWAN KEKUATAN JAHAT

Efesus 6:10-17 adalah teks penting yang menggambarkan realitas kehidupan rohani Kristen sebagai perjuangan konstan melawan kekuatan jahat. Ayat-ayat ini, yang ditulis oleh Rasul Paulus, mengajak umat Kristen untuk ‘menguatkan diri dalam Tuhan dan dalam kekuatan keperkasaan-Nya,’ menekankan perlunya persiapan spiritual untuk menghadapi berbagai tantangan rohani.

Pertama, perjuangan melawan kekuatan jahat mencakup konfrontasi dengan iblis dan roh-roh jahat. Dalam teologi Orthodox, iblis dan roh-roh jahat dilihat sebagai entitas nyata yang secara aktif berusaha menyesatkan dan merusak ciptaan Allah, termasuk manusia. Mereka tidak hanya simbolis, tetapi dianggap sebagai lawan nyata dalam kehidupan rohani.

Kedua, konsep ini juga terkait erat dengan pemahaman Orthodox tentang dunia sebagai tempat yang masih berada di bawah pengaruh kejahatan. Sejak Kejatuhan Manusia di Taman Eden, dunia telah menjadi medan pertempuran antara kebaikan dan kejahatan, dengan manusia berada di tengah-tengahnya. Kekuatan jahat, dalam konteks ini, bukan hanya terbatas pada tindakan manusia yang jahat, tetapi juga melibatkan pengaruh spiritual yang lebih luas yang menentang kehendak Allah.

Ketiga, ayat-ayat ini juga berbicara tentang harapan akan kedatangan kembali Kristus dalam kemuliaan. Ini adalah titik kunci dalam eskatologi Orthodox, di mana kedatangan kembali Kristus akan menandai akhir dari perjuangan ini dan pembaharuan dari semua ciptaan. Kemenangan akhir atas kejahatan dan restorasi keseluruhan ciptaan adalah bagian penting dari harapan Kristen Orthodox.

Efesus 6:10-17, oleh karena itu, tidak hanya memberikan pedoman praktis tentang cara hidup rohani yang kuat, tetapi juga menempatkan perjuangan ini dalam konteks yang lebih luas dari rencana keselamatan Allah untuk dunia. Ini mengajarkan umat Kristen Orthodox untuk selalu waspada, berdoa, dan bergantung pada kekuatan dan perlindungan Allah dalam menghadapi godaan dan tantangan rohani.

DOA DALAM BAPTISAN ORTHODOX

Dalam tradisi Gereja Orthodox, upacara baptisan tidak hanya merupakan sakramen inisiasi ke dalam kehidupan Kristen, tetapi juga sebuah momen penting yang menandai awal dari perjalanan rohani dan perjuangan melawan kekuatan spiritual jahat. Di akhir upacara baptisan, terdapat doa-doa khusus yang secara mendalam menekankan konsep ini.

Doa-doa ini, yang dibacakan oleh Presbiter, tidak hanya merupakan ucapan syukur atau berkat, tetapi juga merupakan pengakuan akan realitas spiritual di mana umat Kristen baru akan hidup. Dalam doa-doa ini, umat Kristen diingatkan bahwa kehidupan mereka kini berada dalam konteks yang lebih besar dari sekadar eksistensi fisik; mereka sekarang menjadi bagian dari pertempuran rohani yang terus-menerus melawan kekuatan jahat.

Salah satu fokus utama dari doa-doa ini adalah perlunya perlindungan ilahi. Itu mencerminkan keyakinan Orthodox bahwa kehidupan rohani penuh dengan tantangan dan godaan, dan bahwa tanpa bantuan dan perlindungan dari Allah, umat beriman akan rentan terhadap serangan rohani. Doa-doa ini menyeru Allah untuk memberikan kekuatan, kebijaksanaan, dan ketahanan kepada umat Kristen, membantu mereka untuk berdiri teguh dalam iman dan menjalani hidup yang saleh.

Selain itu, doa-doa ini juga menekankan pentingnya persiapan untuk pertempuran rohani. Ini mencakup tidak hanya pemahaman akan sifat pertempuran, tetapi juga pengembangan disiplin rohani seperti doa, puasa, dan partisipasi dalam sakramen-sakramen gereja. Dengan cara ini, umat Kristen diajak untuk secara aktif terlibat dalam perjuangan rohani, bukan hanya sebagai korban dari kekuatan jahat, tetapi sebagai pejuang yang dilengkapi dan didukung oleh kekuatan dan kasih Allah.

Di dalam esensinya, doa-doa di akhir upacara baptisan Orthodox berfungsi sebagai pengingat dan pengarahan bagi umat Kristen baru untuk memasuki dunia dengan kesadaran rohani yang tinggi, berbekal dengan dukungan spiritual dan panduan dari Gereja, dan selalu mengandalkan kekuatan serta perlindungan Allah dalam setiap langkah perjalanan rohani mereka.

MEMAKAI ‘BAJU ZIRAH ALLAH

Dalam konteks teologi Orthodox, frasa “Baju Zirah Allah” yang disebutkan dalam Efesus 6:10-17 memiliki makna yang mendalam dan simbolis. Ini dianggap sebagai metafora untuk perlengkapan spiritual yang diberikan oleh Allah kepada umat Kristen untuk membantu mereka dalam perjuangan spiritualnya. Konsep ini menggambarkan perlindungan ilahi dan kekuatan yang diperlukan untuk menghadapi tantangan dan godaan dalam kehidupan rohani.

“Baju Zirah Allah” ini melambangkan berbagai kebajikan dan sifat-sifat rohani yang seharusnya ‘dipakai’ atau diinternalisasi oleh umat Kristen, khususnya saat mereka menerima sakramen baptisan. Baptisan dalam tradisi Orthodox tidak hanya merupakan pembersihan dosa, tetapi juga pemberian perlengkapan rohani untuk kehidupan baru dalam Kristus

1. Kebenaran : Di sini, kebenaran tidak hanya diartikan sebagai kejujuran dalam ucapan dan tindakan, tetapi juga sebagai kesetiaan pada ajaran Kristus dan Gereja. Ini adalah pondasi dari seluruh kehidupan rohani, sebuah prasyarat untuk pertumbuhan spiritual.

2. Keadilan : Keadilan dalam konteks ini merujuk pada hidup dalam kesalehan dan integritas, menjalankan ajaran Kristus dalam setiap aspek kehidupan. Ini bukan hanya tentang tindakan yang benar secara moral, tetapi juga tentang sikap hati yang sesuai dengan kehendak Allah.

3. Keselamatan : Melambangkan helm yang melindungi pikiran dan jiwa, mengingatkan umat Kristen pada keselamatan yang diberikan melalui Kristus. Ini adalah pengingat konstan akan tujuan akhir kehidupan rohani, yaitu keselamatan jiwa.

4. Iman : Diperlukan sebagai perisai untuk melindungi dari serangan dan godaan. Iman bukan hanya keyakinan intelektual, tetapi kepercayaan aktif yang memanifestasikan dirinya dalam tindakan dan kepercayaan terhadap kebaikan dan rencana Allah.

5. Firman Allah : Diibaratkan sebagai pedang, yang menekankan pentingnya Alkitab dalam kehidupan rohani. Firman Allah adalah sumber kebijaksanaan dan kekuatan, memungkinkan umat Kristen untuk memahami kehendak Allah dan melawan kesesatan dengan kebenaran.

Konsep “Baju Zirah Allah” dalam teologi Orthodox mendorong umat Kristen untuk mengaktifkan dan mengembangkan sifat-sifat rohani ini dalam kehidupan sehari-hari. Melalui praktik doa, ibadah, dan partisipasi dalam sakramen-sakramen Gereja, umat beriman diajak untuk memperkuat perlengkapan rohani dan dengan demikian mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan dalam perjalanan iman mereka.

ENERGI ILAHI YANG TAK TERBUAT

Konsep “energi ilahi yang tak terbuat” memiliki peran penting dan mendalam. Konsep ini merujuk pada cara kerja Roh Kudus dalam kehidupan umat beriman. Energi ilahi ini tidak diciptakan atau dihasilkan oleh ciptaan, melainkan langsung berasal dari Allah, dan merupakan cara Allah berinteraksi dengan dan mempengaruhi ciptaan-Nya, termasuk manusia.

1. Kehadiran Roh Kudus : Energi ilahi ini dianggap sebagai manifestasi atau ekspresi dari kehadiran Roh Kudus dalam kehidupan umat beriman. Ini adalah kehadiran yang dinamis dan transformatif, membawa perubahan dan pembaruan dalam kehidupan orang-orang yang menerimanya.

2. Sumber Kekuatan dan Bimbingan : Dalam menghadapi tantangan dan godaan, energi ilahi ini menjadi sumber kekuatan. Umat Kristen percaya bahwa melalui energi ini, mereka mendapatkan kekuatan untuk mengatasi cobaan dan godaan. Energi ilahi ini juga membimbing umat beriman dalam kebenaran dan membantu mereka untuk membuat pilihan yang sejalan dengan kehendak Allah.

3. Pertumbuhan Spiritual dan Deifikasi (Theosis) : Perjuangan rohani tidak hanya bisa dianggap sebagai upaya untuk menghindari dosa atau jatuh ke dalam godaan. Lebih dari itu, ini adalah bagian dari proses pertumbuhan spiritual yang tujuannya adalah ‘deifikasi’ atau theosis. Theosis adalah proses di mana umat beriman menjadi semakin serupa dengan Allah dalam kekudusan dan kasih. Melalui theosis, manusia dipanggil untuk berbagi dalam sifat-sifat ilahi, seperti kasih, kebenaran, dan kehidupan abadi.

4. Partisipasi Aktif Umat Beriman : Walaupun energi ilahi ini adalah anugerah dari Allah, partisipasi aktif dari umat beriman tetap penting. Ini berarti bahwa dalam perjalanan rohaninya, umat Kristen dipanggil untuk berdoa, beribadah, dan mengikuti ajaran dan sakramen-sakramen Gereja secara aktif sebagai cara untuk membuka diri terhadap kerja Roh Kudus dalam hidup mereka.

Theosis adalah proses di mana umat beriman menjadi semakin serupa dengan Allah dalam kekudusan dan kasih. Melalui theosis, manusia dipanggil untuk berbagi dalam sifat-sifat ilahi, seperti kasih, kebenaran, dan kehidupan abadi.

Dengan demikian, konsep “energi ilahi yang tak terbuat” dalam teologi Orthodox menawarkan pandangan yang kaya dan mendalam tentang interaksi antara ilahi dan manusia, menunjukkan bagaimana umat beriman dapat tumbuh dalam kekudusan dan menjadi lebih dekat dengan Allah. Ini adalah proses yang terus-menerus, membutuhkan komitmen dan kerja sama dari umat beriman, dan didorong oleh kekuatan dan kasih Allah yang tak terbatas.

REFERENSI DARI BAPA GEREJA

Js. Yohanes Krisostomos
Js. Yohanes Krisostomos, salah satu Bapa Gereja yang paling dihormati, memberikan pandangan yang mendalam dan berpengaruh mengenai perjuangan melawan dosa dan godaan, serta pentingnya perlindungan spiritual. Dalam berbagai homilinya, Krisostomos mengeksplorasi tema-tema ini dengan cara yang mendalam dan penuh wawasan, memberikan panduan bagi umat Kristen dalam menghadapi tantangan rohani.

1.Perjuangan Melawan Dosa dan Godaan
Js. Yohanes Krisostomos menekankan bahwa kehidupan rohani seorang Kristen adalah perjuangan yang konstan melawan dosa dan godaan. Dia berpendapat bahwa dosa bukan hanya pelanggaran terhadap hukum ilahi, tetapi juga suatu bentuk perbudakan yang menghalangi pertumbuhan spiritual dan hubungan dengan Allah. Homilinya sering menggambarkan dosa sebagai musuh yang harus dihadapi dengan keberanian dan ketekunan.

2. Perlunya Kesadaran dan Kewaspadaan
Krisostomos menekankan pentingnya kesadaran dan kewaspadaan dalam kehidupan rohani. Menurutnya, umat Kristen harus selalu waspada terhadap tipu daya dosa dan godaan yang bisa datang dalam berbagai bentuk. Dia mengajak umat beriman untuk tidak lengah, tetapi selalu menjaga hati dan pikiran mereka.

3.Pentingnya Perlindungan Spiritual
Untuk melawan dosa dan godaan, Krisostomos menekankan pentingnya perlindungan spiritual. Perlindungan ini datang melalui doa, partisipasi dalam sakramen-sakramen Gereja, dan kehidupan komunitas Kristen. Dia mengajarkan bahwa melalui praktik-praktik rohani ini, umat Kristen dapat memperkuat diri mereka terhadap pengaruh negatif dan tumbuh dalam kekudusan.

4. Pembaharuan Batin dan Pertobatan
Js. Yohanes Krisostomos juga berbicara tentang pentingnya pembaharuan batin dan pertobatan sebagai bagian dari perjuangan melawan dosa. Dia menganggap pertobatan tidak hanya sebagai satu tindakan, tetapi sebagai proses berkelanjutan yang melibatkan pengakuan dosa, perubahan hati, dan upaya sadar untuk menjauhi kebiasaan dosa dan mendekat kepada Allah.

Melalui homilinya, Yohanes Krisostomos memberikan panduan yang berharga bagi umat Kristen dalam menghadapi tantangan rohani. Pesannya tentang kebutuhan untuk berjuang melawan dosa dan godaan, serta pentingnya perlindungan spiritual, tetap relevan dan menawarkan wawasan yang berharga untuk kehidupan rohani kontemporer. Homilinya menunjukkan bagaimana praktik rohani dan komitmen pribadi terhadap pertumbuhan dalam kekudusan adalah kunci dalam mengatasi godaan dan membangun hubungan yang lebih dalam dengan Allah.

Js. Basilius Agung
Js. Basilius Agung, seorang tokoh penting dalam sejarah Gereja Orthodox, secara intensif membahas konsep kebajikan dan pertumbuhan rohani dalam karya-karyanya. Kebajikan, bagi Basilius, bukan hanya perilaku etis atau moral, tetapi merupakan refleksi dari kehidupan yang sejalan dengan kehendak Allah. Pertumbuhan rohani, dalam pandangannya, adalah proses dinamis yang membutuhkan komitmen dan usaha sadar dari umat beriman.

1. Kebajikan Sebagai Jalan Menuju Kesucian
Js. Basilius Agung memandang kebajikan sebagai jalan untuk mencapai kesucian. Baginya, kebajikan tidak hanya terbatas pada tindakan yang baik, tetapi juga termasuk sikap hati dan pikiran yang bersih. Ini melibatkan penolakan terhadap dosa dan ketidakadilan serta pencarian aktif akan kebaikan, kasih, dan kebenaran.

2. Pertumbuhan Rohani Melalui Latihan Jiwa
Basilius mengajarkan bahwa pertumbuhan rohani adalah hasil dari latihan jiwa yang terus-menerus. Dia menekankan pentingnya pembentukan karakter melalui disiplin diri, pengendalian nafsu, dan ketekunan dalam iman. Pertumbuhan ini tidak otomatis; itu membutuhkan kerja keras dan komitmen yang berkelanjutan.

3. Pentingnya Doa dan Puasa
Dalam ajarannya, Js. Basilius Agung menekankan peran penting doa dan puasa sebagai praktik rohani yang mendukung pertumbuhan rohani. Doa, menurutnya, adalah komunikasi vital dengan Allah, sumber kekuatan, dan bimbingan. Melalui doa, umat beriman dapat meningkatkan kesadaran mereka akan kehadiran dan kehendak Allah dalam kehidupan mereka.

4. Puasa Sebagai Alat Pemurnian
Basilius juga menekankan pentingnya puasa sebagai alat untuk pemurnian rohani dan fisik. Puasa tidak hanya tentang menahan diri dari makanan, tetapi juga tentang mengendalikan keinginan dan nafsu. Ini adalah praktik yang membantu membersihkan jiwa dan memperkuat kemauan, memungkinkan umat beriman untuk lebih fokus pada doa dan kontemplasi.

5. Integrasi Kebajikan dalam Kehidupan Sehari-hari
Js. Basilius Agung mengajarkan bahwa kebajikan harus diintegrasikan ke dalam kehidupan sehari-hari umat beriman. Ini berarti bahwa setiap aspek kehidupan — dari pekerjaan sehari-hari hingga interaksi dengan orang lain — harus dijalani dengan semangat kebajikan dan kasih.

Melalui ajaran-ajarannya, Js. Basilius Agung memberikan panduan yang berharga bagi umat Kristen untuk mengembangkan kehidupan rohani yang kaya dan bermakna. Dengan menekankan pada pentingnya kebajikan, doa, dan puasa, ia menyediakan kerangka kerja untuk pemahaman yang lebih dalam tentang cara hidup rohani yang dapat membawa umat beriman lebih dekat kepada Allah.

Js. Gregorius dari Nazianzus
Js. Gregorius Nazianzus, yang dihormati sebagai salah satu dari Bapa Gereja Kapadokia dalam tradisi Orthodox, memberikan kontribusi signifikan dalam memahami sifat Allah dan hubungan manusia dengan Yang Ilahi. Dalam karya-karyanya, ia menjelajahi tema-tema teologis kompleks dengan cara yang mendalam dan bijaksana, termasuk peran energi ilahi dalam kehidupan Kristen.

1. Pemahaman tentang Sifat Allah
Js. Gregorius menekankan pentingnya pemahaman yang benar tentang sifat Allah. Baginya, memahami Allah bukan hanya tugas intelektual, tetapi suatu usaha spiritual yang membutuhkan doa, kontemplasi, dan pengalaman mistik. Ia menjelaskan bahwa meskipun esensi Allah tidak dapat dipahami sepenuhnya oleh manusia, kita dapat mengenal-Nya melalui energi-Nya yang termanifestasi dalam ciptaan dan sejarah keselamatan.

2. Hubungan Manusia dengan Ilahi
Js. Gregorius dari Nazianzus melihat hubungan manusia dengan Allah sebagai pusat dari seluruh kehidupan rohani. Menurutnya, hubungan ini bukan hanya bersifat transaksional atau berbasis aturan, tetapi adalah hubungan cinta, di mana manusia diundang untuk berpartisipasi dalam kehidupan ilahi. Ini mencakup konsep theosis atau deifikasi, di mana manusia dipanggil untuk menjadi semakin serupa dengan Allah dalam kekudusan dan kasih.

3. Peran Energi Ilahi
Dalam karya Gregorius, energi ilahi diperkenalkan sebagai cara Allah berinteraksi dengan ciptaan-Nya. Energi ilahi ini tidak terpisah dari esensi Allah tetapi merupakan manifestasi dari tindakan-Nya di dunia. Melalui energi ini, umat beriman dapat mengalami kehadiran Allah dalam kehidupan sehari-hari, baik melalui sakramen-sakramen, doa, atau interaksi dengan sesama.

4. Kehidupan Kristen sebagai Respons
Js. Gregorius mengajarkan bahwa kehidupan Kristen harus direspon dengan cara yang aktif dan sadar terhadap inisiatif ilahi. Umat Kristen dipanggil untuk menanggapi energi ilahi melalui iman, doa, dan hidup yang berbudi luhur. Ini berarti bahwa setiap aspek kehidupan seorang Kristen harus disesuaikan dengan kehendak ilahi dan diarahkan untuk mencapai kekudusan.

Melalui pengajaran-pengajarannya, Gregorius Nazianzus menawarkan pandangan yang kaya dan mendalam tentang kehidupan rohani Kristen, menekankan pada hubungan yang intim dan penuh kasih antara manusia dan Yang Ilahi. Karya-karyanya tetap relevan dan memberi inspirasi bagi umat Kristen yang mencari pemahaman yang lebih dalam tentang hubungan mereka dengan Allah dan cara hidup yang sejalan dengan panggilan ilahi tersebut.

Oleh : Irene W.W (9 Desember 2023)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *