Makan Sayur-sayuran = Lemah Iman?

Suatu nats dalam kitab suci menuliskan:

“Yang seorang yakin, bahwa ia boleh makan segala jenis makanan, tetapi orang yang lemah imannya hanya makan sayur-sayuran saja.”

(Roma 14:2)

Anggapan yang ada di dalam sejumlah orang dalam komunitas Yahudi di Roma adalah demikian, entah mulai kapan hal itu terjadi. Mereka terbagi ke dalam dua kelompok, yaitu mereka yang hanya makan sayur-sayuran dan tidak makan daging, dan ada yang makan keduanya (namun dalam konteks makanan kosher Yahudi sesuai Kitab Imamat, jadi bukan segala macam daging yang dimakan).

Mereka yang makan sayur-sayuran, beranggapan bahwa sayur adalah makanan tak bernyawa, tidak perlu ada pertumpahan darah di sana, sehingga tidak ada pembunuhan atas sesama makhluk hidup, dan dengan demikian makan sayur-sayuran mendatangkan kebaikan bagi mereka. Sementara mereka yang makan semua jenis makanan (dalam konteks kosher Yahudi), meyakini bahwa segala yang diberikan Allah itu baik untuk dimakan, asalkan hewan itu disembelih dengan cara yang benar (contoh: tidak dicekik), tidak makan daging yang dipersembahkan berhala dan makan darah, sesuai Surat Keputusan di Kisah Para Rasul.

Dua hal ini menjadi tajam di antara kelompok Ha’Brit atau Meshihiyim (Khristianoi), akhirnya lambat laun muncul tuduhan yang tidak berdasar dan tidak bertanggung jawab terhadap kelompok yang satu (umat herbivora/pemakan sayur-sayuran) dari kelompok yang lain (umat omnivora/pemakan segala jenis makanan), bahwa mereka ini lemah dan “merusak apa yg sudah diizinkan Allah.”

Lantas, mengapa saat puasa kita makan sayur-sayuran saja, apakah kita lemah iman sesuai nats Kitab Suci tersebut?

Nats Kitab Suci yang kita baca tidak ada kena-mengena dengan puasa, dan tidak ada hubungan antara makanan dengan iman seseorang. Karena itu jangan memelintir nats Kitab Suci demi suatu jawaban opini atau dugaan kita.

Ketika kita berpuasa, kita makan sayur-sayuran, bukan karena kita lemah iman namun kita sedang melatih “tubuh spiritual” dan belajar meningkatkan kualitas kebajikan kita, yaitu membatasi diri dalam segala hal, yang diawali dari menahan nafsu makan, termasuk nafsu seksual. Sebab urusan “perut” dan “di bawah perut” ini menjadi bentuk “penghukuman ilahi” post-lapsarian setelah manusia jatuh dalam dosa. Dari dua inilah perbuatan dosa yang lain muncul.

Jadi, makan sayur-sayuran dalam konteks Gereja Apostolik bukan menunjukkan orang ini lemah iman atau tidak, tetapi sebagai sarana pembelajaran untuk iman kita agar semakin terkendali dari hawa nafsu dunia yang terkutuk.

“Kemuliaan bagi Allah di tempat tinggi, damai di atas bumi bagi orang² yang berkenan. Amin.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *