Petualangan Iman Dalam 2 Timotius 4:9-22: Kisah Demas, Rekonsiliasi Paulus-Markus, dan Pondasi Gereja Roma

Catatan kaki dari bacaan 2 Timotius 4:9-22 pada Orthodox Study Bible adalah sebagai berikut :

4:10 Demas provides a sobering footnote to Paul’s ministry. He was Paul’s companion in Rome, his co-laborer in apostleship, and a close friend of Luke (Col 4:14; Phm 24). Yet Demas—after these great and glorious years of service with the Apostle—forsook Paul, having loved this present world. It is in the face of tragedies such as this that the Scriptures, the Fathers, the prayers and hymns of the Church together call us repeatedly to a life of humility and repentance—that we should not think of ourselves more highly than we ought.

4:11 Paul is now reconciled with (John) Mark (see Acts 15:37–40). The sharp contention between Barnabas and Paul is forgotten, and the true love of Christ reigns.

4:21 “The blessed Apostles Peter and Paul, having founded and established the Church of Rome, handed over the office of bishop to Linus—of whom Paul makes mention in his second letter to Timothy” (Iren). Eusebius, writing in the fourth century, says the same.

Penjelasan detail untuk setiap catatan kaki dari bacaan 2 Timotius 4:9-22 dalam Orthodox Study Bible, adalah sebagai berikut:

.

Melampaui Dunia: Pelajaran dari Kisah Demas dalam Teologi Orthodox dan 2 Timotius 4:10

Kisah Demas yang terdapat dalam 2 Timotius 4:10 memiliki makna yang mendalam dan relevan hingga saat ini. Demas, yang sebelumnya dikenal sebagai teman sekerja dan rekan dekat Rasul Paulus serta teman Lukas, membuat keputusan yang dramatis dengan meninggalkan Paulus. Alasan kepergiannya, yaitu karena “lebih mencintai dunia ini,” menjadi fokus penting dalam pemahaman teologi Orthodox.

Dalam konteks ini, “mencintai dunia” sering diinterpretasikan sebagai kecenderungan untuk menempatkan nilai-nilai dunia, seperti kekayaan, kekuasaan, atau kenikmatan duniawi, di atas nilai-nilai rohani dan komitmen kepada Tuhan. Dalam teologi Orthodox, ini dipandang sebagai salah satu bentuk keserakahan jiwa yang paling berbahaya, karena dapat mengalihkan perhatian dan kesetiaan seorang Kristen dari jalan menuju keselamatan.

Pentingnya ketekunan dan kesetiaan dalam kehidupan rohani sangat ditekankan dalam ajaran Orthodox. Seorang Kristen Orthodox diajak untuk terus menerus berjuang melawan godaan dunia dan tetap teguh pada iman serta ajaran Kristus. Kisah Demas mengilustrasikan bagaimana mereka yang awalnya kuat dalam iman bisa jatuh jika mereka tidak waspada dan tidak memelihara kerendahan hati serta kehidupan rohani.

Kerendahan hati dan pertobatan adalah dua pilar penting dalam teologi Orthodox. Kerendahan hati mengajarkan kita untuk tidak menganggap diri lebih tinggi dari yang seharusnya dan selalu menyadari kelemahan serta keterbatasan kita. Pertobatan, di sisi lain, adalah proses berkelanjutan dari penyesalan atas dosa dan kembali kepada Tuhan. Kisah Demas mengingatkan kita bahwa tanpa kerendahan hati dan pertobatan yang berkelanjutan, kita dapat dengan mudah tergelincir dan jatuh dalam perjalanan rohani.

Oleh karena itu, kisah Demas bukan hanya cerita tentang pengkhianatan, tapi juga sebuah peringatan bagi kita semua tentang pentingnya menjaga hati dan pikiran supaya tetap fokus pada ajaran Kristus dan tidak tergoda oleh hal-hal duniawi yang sementara. Ini adalah pesan yang abadi dan relevan, terutama dalam dunia modern di mana godaan materialisme dan hedonisme yang sangat kuat.

(Ilustrasi ini menggambarkan seorang pria, Demas, berdiri dalam kebimbangan dan konflik batin, manakah jalan yang harus dia pilih? Menuju kehidupan duniawi yang penuh dengan kekayaan dan kekuasaan, atau jalan lain yang menuju kehidupan rohani.)

.

Jembatan Rekonsiliasi: Menggali Makna Kasih dan Persaudaraan dalam Kisah Paulus dan Markus

Barnabas ingin membawa juga Yohanes yang disebut Markus; tetapi Paulus dengan tegas berkata, bahwa tidak baik membawa serta orang yang telah meninggalkan mereka di Pamfilia dan tidak mau turut bekerja bersama-sama dengan mereka. Hal itu menimbulkan perselisihan yang tajam, sehingga mereka berpisah dan Barnabas membawa Markus juga sertanya berlayar ke Siprus. (Kis 15:37-39)

Hanya Lukas yang tinggal dengan aku. Jemputlah Markus dan bawalah ia ke mari, karena pelayanannya penting bagiku. (2Tim 4:11)

Dalam konteks teologi Orthodox, kisah perdamaian antara Rasul Paulus dan Markus (Yohanes Markus) yang tercantum dalam 2 Timotius 4:11 menyajikan sebuah pelajaran yang mendalam dan relevan dengan tema yang diuraikan dalam 2 Timotius 4:9-22. Perselisihan awal mereka, yang tercatat dalam Kisah Para Rasul 15:37-40, diakhiri dengan sebuah rekonsiliasi yang menunjukkan pentingnya kasih dan pengampunan dalam komunitas Kristen.

Dalam tradisi Orthodox, kasih Kristus tidak hanya dianggap sebagai prinsip moral atau etis, tetapi sebagai realitas ontologis (asal muasal, hakikat) yang mengubah dan mempersatukan semua yang percaya. Perselisihan antara Paulus dan Markus di masa lalu, yang berakhir dengan rekonsiliasi, menekankan bahwa di dalam tubuh Kristus, yaitu Gereja, setiap anggota dipanggil untuk saling mengampuni dan berdamai, mengatasi perbedaan dan kesalahpahaman.

Peristiwa ini juga mencerminkan ajaran Orthodox mengenai persaudaraan dan kesatuan. Dalam konteks ini, persaudaraan bukan hanya tentang hubungan antara individu, melainkan tentang bagaimana setiap anggota Gereja terhubung satu sama lain melalui Kristus. Pengampunan dan rekonsiliasi antara Paulus dan Markus memberikan contoh bagaimana persaudaraan Kristen melampaui konflik dan perselisihan pribadi, mengarah pada pemulihan hubungan yang utuh.

Selain itu, kisah ini mengajarkan tentang kesetiaan terhadap panggilan Kristus. Baik Paulus maupun Markus, meskipun menghadapi perbedaan di masa lalu, tetap setia pada panggilan dalam Kristus. Mereka berdua melanjutkan pelayanan, menunjukkan bahwa dalam Gereja, tidak ada yang terbuang; setiap orang memiliki peran dan sumbangan yang penting, terlepas dari masa lalu mereka.

Secara keseluruhan, perdamaian antara Paulus dan Markus dalam konteks teologi Orthodox menjadi simbol kuat tentang bagaimana kasih Kristus bekerja dalam memulihkan hubungan, memperkuat persaudaraan, dan memelihara kesatuan dalam Gereja. Kisah ini mengingatkan kita bahwa dalam perjalanan iman, kita dipanggil untuk meniru kasih dan pengampunan Kristus, terus bergerak menuju persatuan yang lebih dalam dengan sesama dan dengan Kristus sendiri.

.

Warisan Rasul: Menelusuri Akar dan Kekuatan Suksesi Apostolik dalam Pendirian Gereja Roma oleh Petrus dan Paulus

Dalam konteks teologi Orthodox, pendirian Gereja Roma oleh Rasul Petrus dan Paulus, sebagaimana dijelaskan oleh penulis-penulis patristik seperti Irenaeus dan Eusebius, memiliki signifikansi teologis yang mendalam. Kisah ini, yang terkait dengan tema 2 Timotius 4:9-22, menyoroti aspek penting dari ajaran Orthodox mengenai suksesi apostolik dan otoritas gerejawi.

Menurut tradisi Orthodox, suksesi apostolik adalah prinsip dasar yang menegaskan bahwa otoritas dan ajaran gerejawi diturunkan secara langsung dari para rasul. Pendirian Gereja Roma oleh Petrus dan Paulus, dengan Linus sebagai episkop pertama, merupakan contoh konkret dari konsep ini. Hal ini menunjukkan bagaimana ajaran dan otoritas Kristiani diteruskan melalui suksesi yang tidak terputus sejak zaman para rasul.

Dalam ajaran Orthodox, suksesi apostolik bukan hanya tentang garis keturunan fisik atau administratif, tetapi juga tentang kesinambungan ajaran dan kehidupan rohani. Suksesi ini memastikan bahwa ajaran yang diberikan oleh Yesus Kristus dan para rasulnya tetap utuh dan tidak tercemar oleh ajaran-ajaran yang menyimpang. Hal ini menjamin kesetiaan Gereja terhadap Tradisi Suci yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Petrus dan Paulus, sebagai dua tokoh sentral dalam pendirian Gereja Roma, juga melambangkan kesatuan dalam keragaman dalam Gereja. Mereka berdua, meski berasal dari latar belakang yang sangat berbeda dan memiliki peran yang unik dalam sejarah awal gereja, bersatu dalam misi yang sama yaitu menyebarkan Injil Yesus Kristus. Hal ini mencerminkan bagaimana Gereja Orthodox memandang keragaman di dalam kesatuan sebagai kekayaan yang esensial.

Selanjutnya, kisah pendirian Gereja Roma oleh Petrus dan Paulus mengingatkan umat Kristiani pada pentingnya otoritas gerejawi yang bertanggung jawab. Otoritas ini bukan untuk memerintah secara otoriter, melainkan untuk melayani, mengajar, dan membimbing umat dalam iman, sesuai dengan contoh yang ditetapkan oleh Kristus dan para rasul-Nya.

Secara keseluruhan, dalam teologi Orthodox, pendirian Gereja Roma oleh Petrus dan Paulus, serta penunjukan Linus sebagai episkop pertama, menjadi simbol penting dari kontinuitas apostolik, kesetiaan pada ajaran asli Kristus, dan pentingnya kepemimpinan rohani dalam kehidupan Gereja. Kisah ini mengajarkan kita tentang pentingnya menghormati tradisi dan otoritas gerejawi yang telah dibentuk sejak awal sejarah Kristiani.

Ilustrasi dari beberapa adegan yang digambarkan dalam 1 frame:

Pertama, Rasul Paulus dan Yohanes Markus sedang berjabat tangan, dengan latar belakang salib dan gereja, menggambarkan rekonsiliasi dan kasih Kristus yang mengatasi perbedaan. Kedua, latar belakang menunjukkan Kota Roma kuno, tempat di mana Rasul Petrus dan Paulus bekerja sama membangun pondasi gereja. Ketiga, Bapa Gereja Irenaeus sedang menulis “Adversus Haereses” dengan naskah-naskah kuno di sekitarnya, sementara Eusebius mengamati sejarah Gereja, dikelilingi oleh buku-buku dan dokumen. Keempat, Js. Yohanes Krisostomos dan Js. Basilius Agung terlihat sedang mengajar, dengan satu memegang Alkitab dan yang lain memegang gulungan naskah, menggambarkan kontribusi mereka pada teologi Orthodox.

.

Pilar-Pilar Kekristenan Awal: Menelusuri Warisan Irenaeus, Eusebius, dan Bapa-Bapa Gereja dalam Membentuk Teologi Orthodox

Irenaeus

Dalam kerangka ajaran teologi Orthodox, sosok Irenaeus dan karyanya, “Adversus Haereses” (yang berarti “Melawan Bidat”), memegang peranan penting. Irenaeus, yang hidup pada akhir abad ke-2 Masehi, dikenal sebagai salah satu Bapa Gereja awal dan teolog berpengaruh. Karyanya ini sangat signifikan dalam pengembangan teologi Kristen, terutama dalam menanggapi berbagai bidat yang muncul pada waktu itu.

“Adversus Haereses” ditulis oleh Irenaeus sebagai tanggapan terhadap Gnostisisme, sebuah aliran pemikiran yang mengklaim memiliki ‘pengetahuan rahasia’ tentang kekristenan. Dalam karyanya, Irenaeus dengan sistematis menolak ajaran Gnostik, menyajikan argumen-argumen yang mendukung ajaran Kristen Orthodox, dan menekankan pentingnya suksesi apostolik sebagai garis pengajaran yang otoritatif dan terpercaya.

Irenaeus menegaskan bahwa suksesi apostolik, yaitu transmisi otoritas dan ajaran gerejawi dari para rasul ke para episkop, adalah kunci untuk menjaga keutuhan ajaran Kristen. Dia menyebutkan Linus sebagai episkop pertama Roma yang menggantikan Petrus dan Paulus, menunjukkan garis suksesi apostolik yang jelas dan tidak terputus. Hal ini penting bagi Gereja Orthodox, karena menegaskan pentingnya kesinambungan dan kesetiaan kepada Tradisi yang telah diterima dari para rasul.

Karya Irenaeus disimpan dan dituangkan dalam bentuk naskah-naskah kuno, dan telah dipelajari serta dihargai selama berabad-abad sebagai sumber penting untuk memahami sejarah awal Kekristenan dan menangkis berbagai bidat. “Adversus Haereses” tidak hanya menjadi referensi utama bagi teolog dan sejarawan gereja, tetapi juga menjadi dasar bagi pemahaman doktrinal yang lebih luas dalam Gereja Orthodox.

Selain “Adversus Haereses”, Irenaeus juga menulis karya lain yang memperkaya tradisi Kristen, meskipun karya-karyanya yang lain tidak sepopuler atau sebanyak yang disajikan dalam “Adversus Haereses”. Gaya penulisannya yang jernih dan metodenya yang sistematis dalam membahas dan menolak bidat telah menjadikannya salah satu teolog paling penting dalam sejarah Gereja.

Keseluruhan karya Irenaeus, khususnya “Adversus Haereses”, menekankan pentingnya menghormati ajaran yang diwariskan oleh para rasul dan melawan segala bentuk penyimpangan dari ajaran tersebut. Hal ini sangat relevan bagi Gereja Orthodox dalam mempertahankan doktrinnya dan menghadapi tantangan-tantangan teologis sepanjang sejarahnya.

Eusebius dari Kaisarea

Dalam konteks teologi Orthodox, karya Eusebius dari Kaisarea, “Historia Ecclesiastica” (Sejarah Gereja), memegang peranan penting sebagai salah satu sumber dokumentasi sejarah awal Gereja Kristen. Eusebius, yang hidup pada abad ke-4 Masehi, meskipun bukan Bapa Gereja, tetapi ia dikenal sebagai “Bapa Sejarah Gereja” karena kontribusinya yang signifikan dalam mendokumentasikan peristiwa-peristiwa penting dari masa awal kekristenan.

“Historia Ecclesiastica” adalah karya monumental yang mencakup periode dari zaman Kristus hingga masa kekaisaran Konstantin I. Eusebius mengumpulkan berbagai sumber yang tersedia pada zamannya, termasuk surat-surat, dokumen gerejawi, dan kesaksian lisan, untuk memberikan gambaran komprehensif tentang perkembangan Gereja. Salah satu aspek penting yang dijelaskan dalam karyanya ini adalah tentang pendirian Gereja Roma oleh Rasul Petrus dan Paulus. Eusebius mencatat bagaimana kedua rasul tersebut memberikan dasar yang kuat bagi Gereja di Roma, serta menunjuk Linus sebagai episkop pertamanya.

Karya ini sangat bernilai bagi Gereja Orthodox karena memberikan bukti sejarah tentang kesinambungan dan struktur awal Gereja. Penekanan pada suksesi apostolik dan peran penting Petrus dan Paulus dalam pendirian Gereja Roma sejalan dengan ajaran Orthodox tentang pentingnya tradisi dan otoritas gerejawi yang diwariskan dari para rasul.

“Historia Ecclesiastica” disimpan dan dituangkan dalam bentuk naskah-naskah kuno yang telah diawetkan hingga saat ini. Banyak dari naskah-naskah ini ditemukan di perpustakaan gerejawi dan universitas, serta telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa untuk memudahkan akses oleh para peneliti, sejarawan, dan teolog.

Pentingnya karya Eusebius tidak hanya terletak pada kontennya yang kaya, tetapi juga pada metodologinya dalam sejarah gerejawi. Dia merupakan salah satu penulis pertama yang mencoba mendokumentasikan sejarah Gereja dengan cara yang sistematis, menggunakan berbagai sumber dan menyajikannya dalam kerangka kronologis.

Js. Yohanes Krisostomos

Js. Yohanes Krisostomos, dikenal sebagai salah satu Bapa Gereja terbesar, terutama dihargai karena homili-homilinya yang mendalam dan mudah dipahami. Homili-homili ini adalah kumpulan khotbah yang dibawakan oleh Krisostomos selama masa pelayanannya, yang banyak membahas teks-teks Perjanjian Baru. Gaya berbicaranya yang langsung dan aplikatif menjadikan homili-homilinya sangat berharga dalam membantu umat Kristiani mengerti dan menerapkan ajaran Alkitab dalam kehidupan sehari-hari. Karya-karya ini disimpan dalam berbagai format, mulai dari naskah kuno hingga terjemahan modern, dan banyak ditemukan di perpustakaan gereja, sekolah teologi, dan sumber online.

Js. Basilius Agung

Js. Basilius Agung, seorang teolog dan episkop dari abad ke-4, juga memberikan kontribusi penting dalam bentuk komentar-komentar atas Alkitab. Komentar-komentarnya menawarkan wawasan mendalam mengenai doktrin dan praktik Kristiani, sering kali dengan penekanan pada kehidupan rohani dan etika. Karya-karya Basilius sangat penting dalam membentuk dasar dari monastisisme Kristen dan etika Orthodox. Komentar-komentarnya, seperti halnya karya Krisostomos, disimpan dalam bentuk naskah-naskah dan terjemahan, dan dapat diakses di perpustakaan-perpustakaan dan lembaga-lembaga pendidikan teologi.

Js. Yohanes Krisostomos dan Js. Basilius Agung ini, melalui homili dan komentar mereka, membantu menjembatani kesenjangan antara teks-teks Alkitab dengan kehidupan praktis umat Kristiani. Mereka menguraikan teks-teks dengan cara yang mendalam namun tetap relevan, menjadikan ajaran mereka tidak hanya berharga bagi jemaat pada zamannya, tetapi juga bagi pembaca modern.

Irene W.W (13 Desember 2023)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *