Sempat Mendapat Mimpi, Romo Abraham Mantap Menjadi Presbiter.

Menjadi seorang imam bagi Gereja Tuhan di Indonesia tentu tidak mudah. Tugas pelayanan yang diembannya untuk melayani umat dan Tuhan tentu bukanlah hal yang mudah. Hal ini yang menyebabkan tidak semua orang memiliki panggilan untuk mengemban jabatan presbiter.

Demikian juga halnya yang dirasakan oleh Romo Abraham beberapa tahun yang lalu, ketika beliau masih menjadi seorang diakon.
Menurutnya, keinginan menjadi pelayan Tuhan itu ada tetapi belum untuk menjadi seorang presbiter. Pasalnya, ayah dari tiga orang putera ini melihat bahwa tugas presbiter tidaklah mudah. Sebab itu, pada tahun 2018, beliau baru mantap untuk menjadi seorang diakon. Bahkan ketika beberapa presbiter dan episkop sekalipun pernah memintanya, tetapi beliau tetap masih ragu akan panggilan itu.


Poin penting yang akhirnya menguatkan untuk mantap menjadi presbiter adalah dengan mendapatkan mimpi. Romo Abraham menjelaskan bahwa satu bulan sebelum ditahbiskan, beliau bermimpi mendapat tahbisan imamat. Menurutnya, mimpi tersebut menjadi tanda dari Tuhan untuk memenuhi panggilannya menjadi presbiter.
”Tanggal 26 (Desember) nya pas tidur sore itu mimpi, mimpi saya itu ditahbis… Kemudian dari saya mendapat mimpi itu memang menurut saya itu sudah waktunya kehendak Tuhan dan saya kemudian siap dan mereka yang melihat tahbisan saya seneng gitu.”

Mimpi itu akhirnya terjadi, tepatnya pada Sabtu, 27 Januari 2024 ketika Metropolitan Photios menahbiskan Diakon Abraham menjadi Presbiter Abraham di Rumah Doa Js. Barbara Salatiga. Sejak tahbisan yang diterimanya, pria asal Boyolali ini tidak lagi dipanggil Diakon Abraham, tetapi Romo Abraham. Dengan demikian, Romo Abraham sudah dapat melayani beberapa skaramen gereja, salah satu di antaranya adalah Sakramen Ekaristi. Artinya, Romo Abraham sudah dapat memimpin liturgi bagi umat Gereja Orthodox Indonesia (GOI).

Pasca tahbisan imamat yang diterimanya, Suami dari Irene Tanti (yang kemudian dipanggil Presbitera Irene) ini juga berharap agar pelayanan GOI dapat semakin baik, terutama di wilayah Salatiga dan Boyolali. Beliau berharap, bahwa dengan tahbisan imamat yang diterimanya dapat membantu pelayanan GOI, terutama Js. Barbara yang rumah doanya sudah dikonsekrasi. Pasalnya, altar yang sudah dikonsekrasi harus selalu dilayankan liturgi setiap minggunya.

“karena di Salatiga juga romonya itu kadang ada yang berhalangan… semoga ke depan js. Barbara yang sudah dikonsekrasi oleh Metropolitan, diharapkan tidak ada typica lagi katakanlah demikian karena sudah dapat melakukan liturgi setiap hari minggunya.”

Untuk semua umat orthodox yang ingin terpanggil dalam pelayanan, Romo Abraham juga berpesan agar tetap setia dan rendah hati. Karena, meski orang memiliki intelektualitas yang tinggi tetapi tidak rendah hati akan tidak bermanfaat.


”karena ketika awal pertama kali sang Kristus memanggil, itu bukan orang-orang yang intelektual. Tetapi mereka hanya orang-orang nelayan yang secara intelektual itu wah sangat memprihatinkan. Tetapi kesetiaan selama 3,5 tahun ikut Kristus itulah yang menjadikan mereka itu dibekali oleh Kristus sendiri.”

Penulis: Maximos Immanuel
Editor: Irene W.W

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *