Untuk Ortodoksi Sejati di Yunani dan di Dunia (Sejarah GGOC)

Halaman : 1

Suara dari Yunani untuk saudara-saudara di Indonesia dan di seluruh Asia

Oleh Nikolaos Mannis, penulis ortodoks

(nikolaosmannis@gmail.com)

Saudara-saudara terkasih dalam Kristus,

Pada awal abad ke-20, dua binatang buas yang besar telah menyerang Gereja Kristus;

Yaitu Freemasonry dan Komunisme. Tahta ke-episkopan dari Patriarkat Timur, dimulai dari Patriarkat Konstantinopel, telah di-kuasai oleh Freemason (seperti Meletius Metaxakis dan Vasileios Georgiadis), sementara itu di Rusia Komunis setelah gagal menggunakan “Gereja yang masih Hidup”, lalu menggunakan Metropolitan Sergius Stragorodsky untuk memperbudak Gereja-gereja tsb.

Pada saat itu, dengan didukung (baik oleh “Gereja yang masih Hidup” yang dikendalikan komunis, maupun oleh “Kongres Pan-Ortodoks” masonik tahun 1923) , mulailah dilakukan reformasi di berbagai posisi (jabatan) dan terjadi “perzinahan rohani” yang dikemas dalam orthodoxi palsu. Seperti :

  • pendekatan kepada “gereja-gereja” ( kepercayaan yang heterodoks),
  • penghapusan Tradisi Suci,
  • pengenalan Kalender Gregorian,
  • pernikahan para uskup, dll.

Itu semua adalah hasil sekularisasi, yaitu upaya setan untuk mengubah Gereja Sejati milik Kristus agar menjadi bagian dari dunia, yang “berada di bawah kuasa si jahat” (1 Yohanes 5: 19).

Persekusi negara terhadap umat Orthodox sejati

Praktek penerapan tsb sangat mungkin dilakukan, karena Gereja-Gereja Lokal ada dalam cengkeraman kekuasaan Negara. Pada tahun 1924 pemerintah masonik ( yang dikendalikan free mason) :Yunani, Rumania dan Siprus (bekerja sama dengan Episkop Agung mereka) memberlakukan penggunaan kalender Gregorian ke dalam Gereja. Pada tahun 1927 komunis pemerintah Uni Soviet merebut Gereja dengan “Deklarasi Ketaatan” yang dicanangkan oleh Metropolitan Sergius. Tindakan-tindakan tsb diatas, memaksa Ortodoks yang religius, yang disebut “Orthodoks Benar atau Sejati ”, untuk melawan.

Pemerintah-pemerintah , bersama dengan banyak Episkop “Gereja resmi”, bertindak penuh dendam-kesumat dengan kebencian anti-Kristen: melakukan penganiayaan ; para penganut Orthodox Yang Benar ( sejati) dipukuli, dipenjara, diasingkan, jenggot, kumis dan rambut para presbyter dicukur-habis, Kapel-kapel mereka diledakkan, mereka dikirim ke kamp konsentrasi, dan dibunuh. Dibutuhkan ribuan halaman lagi untuk cukup menggambarkan kejadian- kejadian secara lebih detail, dari apa yang terjadi saat itu. (namun bagi saudara atau siapa saja, masih ada banyak sumber dalam bahasa Rusia, Inggris, Yunani, dan Rumania yang tertarik ingin tahu lebih banyak tentang hal tsb ).

Khususnya di Yunani, para penganut Ortodoks Sejati selama 11 tahun berjuang tanpa memiliki pemimpin (Hirarki) , tetapi mereka dipandu oleh para Hieromonks dari Gunung Athos.

St.Chrysostom Kavouridis

Pada tahun 1935 tiga Orang pemimpin (Hirarki) dari “Gereja resmi” bertobat lalu melakukan pembelaan dan penggembalaan umat Ortodoks Sejati yang sedang berjuang tsb. Yang paling penting dari mereka adalah St.Chrysostom Kavouridis, mantan Metropolitan of Florina: beliau menjadi pilar pertama Gereja Ortodoks sejati di Yunani (Greek Genuine Orthodox Church/GGOC). Namun St. Chrysostom meninggal pada tahun 1955 dan umat Ortodoks Sejati di Yunani sekali lagi, tidak memiliki Episkop, dan itu berlangsung selama lima tahun.

Pada tahun 1960 Fr. Akakios Pappas dari Gunung Athos ditahbiskan (di Amerika Serikat) oleh Episkop Gereja Rusia di Luar Negeri (ROCA).

Archbishop Leonty Filippovich

Pada tahun 1962, Episkop Agung ROCA di Chili, Leonty Filippovich (+1971), datang ke Yunani dari Chili dan, bersama dengan Bishop Akakios, Uskup yang ditahbiskan, membentuk Sinode Suci (yang sekarang disebut Church of the Genuine Orthodox Christians of Greece – di bawah kepemimpinan Omophorion Uskup Agung Kallinikos ).

Uskup Agung Leonty (yang adalah sahabat baik St. John Maximovitch dan dicintai oleh para pemimpin fanatik ROCA, ( seperti Uskup Agung Averky, yang terberkati Fr. Seraphim Rose, dll.) Menjadi pilar kedua dari Gereja Ortodoks Sejati di Yunani.

Dari dua pilar tersebut, kami sadar dan menerima bahwa Gereja Ortodoksi Sejati bukan Skismatik (seperti yang diklaim oleh para penganiaya), tetapi Gereja Ortodoksi Sejati adalah institusi Penjaga yang melindungi harta Iman Kristen yang murni dan merupakan Ragi yang “akan mengkhamirkan seluruh adonan” (Gal. 5: 9) yang terus berjuang sambil menunggu kembalinya saudara-saudara yang telah sesat tsb.

Memang benar bahwa di dalam tubuh Ortodoksi Sejati (seperti yang selalu terjadi , kasus-kasus di Gereja sejak mula pertama) selalu muncul Lalang-lalang (lih. Mat 13 : 24-30) , misalnya seperti : para klerus yang mengajarkan ajaran sesat, atau terjadi perpecahan, atau tidak berlanjutnya suksesi Apostolik. Dll.

Jelas bahwa Lalang-lalang ini tidak mengekspresikan iman Ortodoksi Sejati, tidak peduli seberapa banyak gelar, titel, dan sebutan jabatan yang mereka gunakan. Tetapi bagi kami sendiri, kami sadar bahwa kami adalah milik Gereja Kristus (karena kami memiliki Iman Apostolik dan Suksesi Apostolik), sehingga kami tidak menjauhi atau menghindari dialog dengan siapa saja, kami siap dialog dengan rasa Cinta-kasih dan Kebenaran ( bukan Tindakan untuk ber- “dialog-palsu” dalam wadah ekumenisme ).

Terus bagaimana hasil dialog dengan para “lawan kita” ?

Patriarkat Konstantinopel tidak sanggup bertahan ( tidak mampu “menang’ ) Ketika ber- dialog dengan kita, bahkan Ketika “permasalahan tentang kalender” tidak dimasukkan ke agenda “Synode Crete “ ( synode bentukan CIA tahun 2016).

Dialog dengan Moscow , menghasilkan, beberapa Langkah-langkah bagus pertobatan dari patriarchate Mascow ( misal : pengakuan Moscow atas Para Martir dan Pengaku iman di era masa penganiayaan oleh Uni Soviet, kecaman Moscow kepada ke-paus-an gaya baru yang dilakukan Konstantinopel), tetapi Moscow masih menyisakan dua Langkah lagi yang harus di lakukan :

  1. Dia harus meninggalkan buah-buah Freemasonry (yaitu Ekumenisme dan Dewan Gereja Dunia / WCC),
  • Dia harus meninggalkan perbudakan Hirarki oleh Negara (praktik yang diwarisi dari “Deklarasi” Sergius).

Bila dua hal tsb , sudah dituntaskan, maka Moscow bisa mengadakan “konsili ekumenis” (karena Patriarkat lainnya masih menjadi tawanan Freemasonry) dan kami GGOC dengan senang hati akan datang untuk ambil bagian dalam pengambilan keputusan-keputusan bagi seluruh Gereja.

Halaman : 2

Sampai kini, baik Patriarkat Konstantinopel maupun Patriarkat Moskow tidak dapat mengalahkan kita, karena kita memiliki Tuhan yang menyertai kita sesuai dengan firman Nya yang Kudus di – Alkitab Kitab Sirach 4:28 : (“bahkan sampai mati, perjuangan bagi apapun yang benar, maka Tuhan lah yang akan berperang bagimu” ).

Dan buktinya kami sendiri mengundang mereka dengan tangan terbuka, sedangkan mereka sendiri melawan kita, karena mereka hanya tertarik pada kekuasaan!

Saudara-saudara ku terkasih,

Selama perjalanan kehidupan kami, kami mengalami banyak penganiayaan. Kami telah dianiaya (dengan banyak cara) di Yunani, tetapi mereka tidak berhasil membuat iman kami bengkok. Karena Ortodoksi Sejati adalah Ortodoksi yang diSalib.

Dan setelah Penyaliban datanglah Kebangkitan!

Dengan kasih di dalam Kristus,

Dari Saudaramu yang tidak layak,

(Athena, 24/11 Maret 2021 Memori St. Sophronius, Patriark Yerusalem)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.