Kristus dan Kosmos: Menyelami Misteri Ilahi dalam Kolose 1:9-20

(Ilustrasi ini menggambarkan transisi umat percaya dari kerajaan kegelapan ke kerajaan Sang Putra, apabila mereka mau memahami kehendak Tuhan, mengamalkannya dengan energi dan kebajikan ilahi, melalui peran Gereja)

.

Catatan kaki dari bacaan Kolose 1:9-20 pada Orthodox Study Bible adalah sebagai berikut:

1:9-14 A summary of progress in a truly spiritual life: from discernment of God’s will (v. 9) to doing God’s will (v. 10) with divine energy and virtue (v. 11), within the Church, the baptized and eucharistic assembly. In the apostolic tradition, this life is open to all the saints, not just to a few.

1:12-13 Being a Christian goes beyond changing masters from Satan to God, to a change of kingdoms as well—from that of darkness to the kingdom of the Son.

1:15 No clear distinction is made between Christ as God and Christ as Man, but the point of the verse is obvious. As God, Christ is eternally and consubstantially (of one essence) the image (Gr. eikon, “icon”) of the Father. As Man, Christ is the image in which man was made and toward which man is moving. In both natures, He fully represents and manifests the Father. As God, Christ is the firstborn over all creation in that the Father created everything through Him, as the Only Begotten Son of God. As Man, Christ is the firstborn over all creation in that He has authority over creation. In either case, creation is fully subject to Him. Contrary to the Colossian heresy, in which He was considered one of the created mediators, Christ is the only Mediator and Lord of all.

1:16 Thrones, dominions, principalities, and powers are ranks of angels. Christ is not only the source (through Him) of creation—of all things, on earth and in heaven —but also its goal (for Him; see Eph 1:10).

1:19-20 The fullness was a term used by the gnostic heretics to describe all the spiritual beings and forces they saw as intervening between man and God. Of these, Jesus was seen as but one mediator in one level of existence with one force. Paul differs, saying Christ is Himself the fullness. Jesus is everything, God in all fullness; and in His human nature, resurrected and ascended, He is the created and glorified Head of all creation. Jesus Christ ends the alienation between God and creation, bringing creation as a sacrament into a living union with God.

Penjelasan detail untuk setiap catatan kaki dari bacaan Kolose 1:9-20 dalam Orthodox Study Bible, adalah sebagai berikut:

.

KOLOSE 1:9-14 RINGKASAN PROGRES DALAM KEHIDUPAN ROHANI

Pemahaman Kehendak Allah (Ayat 9)
Dalam konteks teologi Orthodox, “pemahaman kehendak Allah” bukanlah sekadar pemahaman intelektual. Ini melibatkan “nous” atau pikiran spiritual. “Nous” di sini bukan hanya akal dalam arti sehari-hari, melainkan sebuah kapasitas batin untuk mengenal Tuhan. Ini adalah jendela jiwa yang ketika dibersihkan melalui doa dan kontemplasi, memungkinkan seseorang untuk melihat dan memahami realitas ilahi. Pemahaman ini lebih dari sekadar pengetahuan; ini adalah pengalaman langsung akan kehadiran dan tujuan Allah.

Melakukan Kehendak Allah (Ayat 10)
“Melakukan kehendak Allah” mencerminkan prinsip “praxis” dalam Orthodox. Praxis tidak hanya berarti tindakan moral, tetapi juga penerapan ajaran iman dalam setiap aspek kehidupan. Hal ini berkaitan dengan gaya hidup yang berpusat pada Kristus, di mana setiap tindakan, baik kecil maupun besar, merupakan ekspresi dari usaha untuk hidup sesuai dengan kehendak Allah. Ini adalah integrasi dari iman dan tindakan, menunjukkan bahwa kekudusan tidak hanya diwujudkan dalam ibadah tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Energi dan Kebajikan Ilahi (Ayat 11)
Ayat ini memperkenalkan konsep “energia” ilahi. Dalam Orthodox, energia merujuk pada cara kerja aktif Allah dalam dunia. Ini adalah manifestasi dari kasih dan kuasa Allah yang terus beroperasi dalam ciptaan-Nya. Energi ilahi ini memberdayakan orang percaya untuk melampaui kebajikan manusia biasa, memungkinkan mereka untuk berpartisipasi dalam kehidupan ilahi itu sendiri. Dengan demikian, kebajikan dalam konteks ini bukan hanya perilaku moral tetapi juga partisipasi dalam sifat ilahi.

Peran Gereja (Ayat 9-14)
Progres rohani ini tidak terjadi dalam isolasi tetapi dalam konteks Gereja. Gereja, sebagai tubuh Kristus, ditegaskan sebagai komunitas orang yang dibaptis dan berpartisipasi dalam Ekaristi. Ini adalah tempat di mana umat percaya bertemu untuk berdoa, mempelajari Kitab Suci, dan merayakan misteri-misteri sakral. Gereja berfungsi sebagai lingkungan di mana orang percaya saling menguatkan dalam perjalanan rohani mereka, dan melalui sakramen-sakramen, mereka terhubung lebih dalam dengan Kristus dan satu sama lain.

.

KOLOSE 1:12-13 PERUBAHAN DARI KERAJAAN KEGELAPAN KE KERAJAAN SANG PUTRA

Metanoia: Lebih dari Sekadar Pertobatan
Dalam Bahasa Indonesia, “metanoia” sering diterjemahkan sebagai pertobatan, tetapi dalam teologi Orthodox, ini memiliki makna yang jauh lebih luas.

Metanoia adalah transformasi total pikiran, hati, dan jiwa. Ini bukan hanya penyesalan atas dosa atau perubahan perilaku, tetapi perubahan arah total dalam kehidupan seseorang – dari arah yang menjauh dari Allah, menuju jalan yang mengarah kepada-Nya.

Perpindahan Kerajaan
Pada Kolose 1:12-13, kita melihat gambaran dua kerajaan yang kontras: kerajaan kegelapan dan kerajaan Sang Putra. Dalam teologi Orthodox, kerajaan kegelapan dikaitkan dengan kehidupan yang terpisah dari Allah, kehidupan yang dicirikan oleh dosa, kebingungan, dan keputusasaan. Sebaliknya, kerajaan Sang Putra, yang merujuk pada Kerajaan Kristus, adalah tempat cahaya, kebenaran, dan kehidupan abadi.

Transformasi dalam Kristus
Transisi ini bukan hanya perubahan eksternal atau kepatuhan terhadap aturan agama. Ini adalah transformasi batin yang terjadi ketika seseorang memasuki kehidupan dalam Kristus. Melalui sakramen, doa, dan partisipasi dalam kehidupan Gereja, orang percaya mengalami pembaruan batin yang membawa mereka lebih dekat kepada gambaran Kristus. Ini adalah proses menjadi “baru” dalam Kristus, di mana seseorang mulai melihat dunia melalui mata kasih dan kebenaran.

Partisipasi dalam Kehidupan Ilahi
Proses ini juga terkait dengan konsep teologi Orthodox tentang “theosis” atau deifikasi, di mana melalui Kristus, orang percaya dipanggil untuk berpartisipasi dalam kehidupan ilahi. Ini bukanlah pencapaian manusiawi, melainkan sebuah hadiah yang diberikan melalui kasih karunia Allah, yang memungkinkan manusia untuk semakin menyatu dengan sifat ilahi.

Dengan menekankan “metanoia” sebagai perubahan pikiran dan arah, Kolose 1:12-13 dalam konteks teologi Orthodox menunjukkan jalan menuju transformasi spiritual yang mengarah kepada penyatuan yang lebih dalam dengan Allah, melampaui sekadar pergantian tuan. Ini adalah perjalanan dari kegelapan ke cahaya, dari terpisah menjadi bersatu dengan sumber kehidupan itu sendiri, yaitu Kristus.

.

KOLOSE 1:15 KRISTUS SEBAGAI TUHAN DAN MANUSIA

Ayat ini tidak hanya mendefinisikan posisi unik Kristus dalam kekristenan, tetapi juga membuka jendela ke misteri inkarnasi dan dua natur-Nya yang berbeda tetapi tidak terpisahkan.

Kristus sebagai ‘Ikon’ Bapa
Dalam teologi Orthodox, Kristus disebut sebagai “ikon” Bapa. Ikon, dalam konteks ini, lebih dari sekadar representasi; ini adalah manifestasi yang nyata. Sebagai “ikon” Bapa, Kristus tidak hanya menyerupai Allah dalam esensi atau sifat, tetapi Ia juga adalah ekspresi yang sempurna dan nyata dari Bapa. Ini berarti bahwa dalam melihat dan mengenal Kristus, kita melihat dan mengenal Bapa. Ini adalah konsep yang sangat penting dalam Orthodox karena menegaskan bahwa melalui Kristus, sifat ilahi menjadi dapat diakses dan diketahui oleh manusia.

Konsep Hipostasis dalam Kristologi Orthodox
Dalam menjelaskan bagaimana Kristus bisa menjadi sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia, teologi Orthodox memperkenalkan konsep “hipostasis”. Penyatuan Hipostasis mengacu pada penyatuan unik dan misterius dari dua natur — ilahi dan manusia — dalam satu pribadi, Yesus Kristus. Natur keilahian dan kemanusiaan Kristus bersatu dalam satu hipostasis, tetapi tetap tidak bercampur dan tidak berubah. Dengan kata lain, Kristus tidak setengah Allah dan setengah manusia, melainkan sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia, mempertahankan sifat lengkap dari kedua natur-Nya.

Implikasi Teologis dan Spiritual
Pemahaman ini memiliki implikasi teologis dan spiritual yang besar. Ini menegaskan bahwa penyelamatan umat manusia hanya mungkin terjadi karena Kristus adalah Tuhan yang bisa mengatasi dosa dan kematian, serta Manusia yang bisa mewakili dan menggantikan manusia. Selanjutnya, ini menekankan bahwa dalam Kristus, hubungan antara Allah dan manusia dipulihkan dan dibawa ke tingkat yang lebih dalam, membuka jalan bagi manusia untuk berpartisipasi dalam kehidupan ilahi, sebuah konsep yang dikenal sebagai “theosis” dalam Orthodox.

Uniknya Inkarnasi dalam Kristologi Orthodox
Dalam menjelaskan misteri inkarnasi, teologi Orthodox tidak hanya memberikan informasi tentang siapa Kristus, tetapi juga tentang siapa kita sebagai manusia dan bagaimana kita berhubungan dengan Allah. Kristus sebagai “ikon” Bapa dan penyatuan dua natur-Nya dalam satu hipostasis merupakan dasar dari seluruh pemahaman Orthodox tentang Kristus, penciptaan, dan penyelamatan.

Dengan demikian, Kolose 1:15 dalam teologi Orthodox menawarkan pandangan yang kaya dan penuh nuansa tentang Kristus sebagai jembatan antara Allah dan manusia, mengundang umat beriman untuk merenungkan dan mengalami misteri besar inkarnasi dan penyelamatan yang dibawanya.

.

KOLOSE 1:16 – KRISTUS DAN HIERARKI MALAIKAT

Ayat ini menggarisbawahi dua aspek penting: Kristus sebagai sumber ciptaan dan Kristus sebagai tujuan akhir ciptaan.

Kristus sebagai Sumber Ciptaan
Dalam teologi Orthodox, Kristus dilihat bukan hanya sebagai bagian dari Trinitas tetapi juga sebagai agen aktif dalam penciptaan. “Melalui Dia,” segala sesuatu diciptakan, yang menunjukkan bahwa Kristus memiliki peran yang tak terpisahkan dalam menghasilkan dan memelihara seluruh ciptaan. Ini mencakup bukan hanya dunia fisik tetapi juga hierarki spiritual seperti singgasana, kerajaan, pemerintah, maupun penguasa. Hierarki malaikat ini, yang masing-masing mempunyai peran dan tujuan tersendiri dalam rencana ilahi, juga berasal dari Kristus.

Kristus sebagai Tujuan Akhir Ciptaan
Lebih dari sekadar sumber ciptaan, Kristus juga dinyatakan sebagai tujuan akhir dari semua ciptaan. Ini berarti bahwa segala sesuatu diciptakan dengan tujuan akhir untuk menyatu dengan dan dalam Kristus. Dalam teologi Orthodox, ini sering diartikan sebagai pengalaman “theosis” atau deifikasi, di mana ciptaan dipanggil untuk berbagi dalam kehidupan ilahi. Dengan demikian, Kristus tidak hanya menciptakan tetapi juga mengumpulkan dan memulihkan ciptaan ke dalam persatuan dengan diri-Nya, yang merupakan tujuan akhir dari segala eksistensi.

Pengaruh terhadap Hierarki Malaikat
Dalam menciptakan dan mendefinisikan peran malaikat, Kristus menetapkan sebuah tatanan ilahi yang mencerminkan harmoni dan tujuan ilahi. Malaikat, sebagai makhluk spiritual, melayani dalam peran yang berbeda-beda, namun semua terarah kepada Kristus. Mereka tidak hanya berfungsi sebagai utusan dan pelindung tetapi juga sebagai bagian dari karya besar penciptaan dan penyelamatan yang dipimpin oleh Kristus.

Implikasi Teologis dan Spiritual
Pemahaman ini memiliki implikasi teologis dan spiritual yang besar dalam kehidupan iman. Ini mengajarkan bahwa Kristus harus menjadi pusat dari segala sesuatu dalam kehidupan kita, sebagaimana Dia adalah pusat dan tujuan dari segala ciptaan. Hubungan kita dengan Kristus, karenanya, tidak terbatas pada aspek pribadi atau moral saja, tetapi juga mencakup pemahaman kita tentang alam semesta dan tempat kita di dalamnya.

Dengan demikian, Kolose 1:16 dalam konteks teologi Orthodox menawarkan pandangan yang holistik dan terintegrasi tentang Kristus, ciptaan, dan tujuan akhir dari semua eksistensi. Ini adalah ajakan untuk memandang Kristus tidak hanya sebagai penyelamat tetapi juga sebagai sumber dan tujuan dari segala yang ada, mengundang kita untuk hidup dalam harmoni dengan rencana ilahi tersebut.

.

KOLOSE 1:19-20 KRISTUS SEBAGAI PEMENUHAN MELAWAN GNOSISTISME

Dalam dialog spiritual yang mendalam, Kolose 1:19-20 membawa kita ke jantung pemahaman Orthodox tentang Kristus. Ini bukan hanya tentang identitas Yesus sebagai mediator, tetapi tentang pengakuan-Nya sebagai inkarnasi penuh dari ilahi, yang secara fundamental menolak pandangan Gnostik.

Konteks Gnostisisme
Gnostisisme, sebuah aliran pemikiran yang berkembang di awal era Kristen, mempromosikan gagasan tentang adanya mediator spiritual antara manusia dan Tuhan. Mereka melihat Yesus bukan sebagai Firman Allah yang berinkarnasi, melainkan sebagai salah satu dari banyak perantara. Pandangan ini menciptakan jurang pemisah antara pencipta dan ciptaan, yang menyiratkan ketidakmungkinan akses langsung kepada Yang Ilahi.

Pandangan Orthodox: Kristus sebagai “Pemenuhan”
Sebaliknya, teologi Orthodox membawa kita ke pengertian yang lebih mendalam dan holistik. Di dalamnya, Kristus tidak hanya diakui sebagai mediator, tetapi sebagai “pemenuhan” – perwujudan Tuhan dalam segala keutuhan-Nya. Ini adalah pondasi keyakinan bahwa dalam Kristus, keilahian dan kemanusiaan bertemu tanpa hambatan, menghapus setiap jurang yang dibuat oleh pandangan Gnostik.

Eksplorasi Kolose 1:19-20
Dalam ayat ini, Paulus secara eksplisit menyatakan bahwa “segala kepenuhan” berkenan diam dalam Kristus. Ini bukan sekadar pernyataan teologis; ini adalah pengakuan akan realitas inkarnasi. Yesus Kristus, dalam keilahian-Nya, membawa esensi Allah sepenuhnya ke dalam realitas manusia.

Implikasi Teologis
Pengakuan ini mempunyai implikasi mendalam. Pertama, ini menegaskan bahwa dalam Kristus, akses kepada Tuhan tidak lagi melalui serangkaian perantara, tapi langsung, pribadi, dan nyata. Kedua, ini menyatukan konsep keilahian dan kemanusiaan, yang menentang dualisme Gnostik yang ketat.

.

JANASUCI ATHANASIUS DAN KARYANYA ‘ON THE INCARNATION’: PENGUNGKAPAN KRISTUS SEBAGAI FIRMAN ALLAH

.

Dalam eksplorasi teologi Kristen yang mendalam, tidak ada nama yang lebih menonjol daripada Janasuci Athanasius. Melalui karyanya yang terkenal, “On the Incarnation”, Athanasius tidak hanya memberikan sumbangsih yang signifikan bagi teologi Kristen, tetapi juga menetapkan pondasi pemahaman tentang Kristus sebagai inkarnasi Firman Allah.

“On the Incarnation”: Sebuah Tinjauan
Karya ini, yang sering dianggap sebagai batu penjuru teologi Kristiani, berfokus pada konsep inkarnasi Kristus. Js. Athanasius menguraikan bagaimana Logos, atau Firman Allah, menjadi manusia dalam pribadi Yesus Kristus. Ini bukan hanya peristiwa sejarah, tetapi juga sebuah tindakan kosmik yang mengubah hubungan antara manusia dan keilahian.

Penerbitan dan Pengaruh
Terbit pertama kali di Alexandria pada abad ke-4, “On the Incarnation” menjadi salah satu teks teologi paling berpengaruh dalam sejarah Gereja. Buku ini tidak hanya penting bagi umat Kristen Orthodox, tetapi juga menjadi rujukan penting bagi denominasi Kristen lainnya.

Poin-poin Kunci dalam “On the Incarnation”

Inkarnasi sebagai Pusat Teologi Kristiani: Athanasius menekankan bahwa inkarnasi Kristus adalah inti dari keselamatan manusia.

Menolak Ajaran Sesat: Dalam karyanya, Athanasius secara tegas menolak pandangan-pandangan sesat, termasuk Arianisme, yang menganggap Kristus sebagai makhluk ciptaan dan bukan Tuhan yang inkarnasi.

Kristus sebagai Penyembuh dan Pemulih: Melalui inkarnasi, Kristus tidak hanya menyelamatkan manusia dari dosa, tetapi juga memulihkan hubungan manusia dengan Tuhan.

Relevansi Kontemporer
Meski ditulis berabad-abad yang lalu, “On the Incarnation” tetap relevan hingga hari ini. Di era digital ini, banyak edisi digital dan terjemahan dari karya ini tersedia, memudahkan akses bagi pembaca modern untuk mengeksplorasi teologi Athanasius. “On the Incarnation” oleh Js. Athanasius tidak hanya merupakan sebuah karya teologi yang mendalam, tetapi juga sebuah warisan yang terus membentuk pemahaman Kristiani tentang Kristus sebagai Firman Allah yang menjadi manusia. Karya ini tetap menjadi sumber inspirasi dan refleksi bagi umat Kristen di seluruh dunia.

.

JS. YOHANES KRISOSTOMOS: SUARA KEABADIAN DALAM HOMILI SURAT KOLOSE

.

Dalam perjalanan menelusuri kekayaan homili-homili patristik, kita menemukan Js. Yohanes Krisostomos, seorang Bapa Gereja yang terkenal dengan kekuatan kata-katanya. Khususnya, homilinya pada Surat Kolose mengungkapkan pandangan yang mendalam tentang kehidupan Kristiani, dengan penekanan khusus pada peran Kristus dalam penciptaan dan penebusan.

Homili pada Surat Kolose: Sebuah Gambaran
Js. Yohanes Krisostomos, dikenal sebagai “mulut emas” karena kemampuan berorasi yang luar biasa, menghadirkan dalam homilinya pada Surat Kolose sebuah interpretasi yang memperkaya. Dalam karya ini, ia menyoroti kehidupan Kristiani yang aktif dan dinamis, serta menjelaskan bagaimana Kristus terlibat secara langsung dalam proses penciptaan dan penebusan. Homili ini yang merupakan bagian dari rangkaian khotbah Krisostomos, pertama kali disampaikan di Antiokhia pada akhir abad ke-4.

Poin-poin Kunci dalam Homilinya
Kehidupan Kristiani yang Aktif:
Krisostomos menekankan pentingnya kehidupan rohani yang aktif, bukan pasif, mengajak umat untuk terlibat langsung dalam perjalanan iman mereka.
.

Kristus dalam Penciptaan dan Penebusan: Ia menggali konsep bahwa Kristus tidak hanya terlibat dalam penebusan, tetapi juga secara integral dalam penciptaan, menegaskan keilahian dan kemanusiaan Kristus secara bersamaan.

Kekuatan Kata dan Eksortasi Moral: Gaya retorika Krisostomos yang kuat dan penuh gairah menawarkan interpretasi yang mendalam dan praktis, sering kali dengan eksortasi moral yang tegas.

Relevansi Kontemporer
Dalam dunia modern yang sering kali memisahkan spiritualitas dari kehidupan sehari-hari, homili Krisostomos pada Surat Kolose mengingatkan kita tentang pentingnya mengintegrasikan iman kita dalam setiap aspek kehidupan. Karya ini tetap menjadi sumber inspirasi bagi banyak denominasi Kristiani dan dipelajari di berbagai lembaga teologi.

.

JANASUCI GREGORIUS DARI NAZIANZUS: EKSPLORASI DALAM KRISTOLOGI DAN MISTERI INKARNASI

.

Dalam kanon teologi Kristen, Janasuci Gregorius dari Nazianzus menduduki posisi penting berkat kontribusinya yang luar biasa dalam pengembangan Kristologi. Fokus khususnya pada penyatuan dua natur dalam satu hypostasis Yesus Kristus menawarkan wawasan mendalam yang membentuk pemahaman kita tentang misteri inkarnasi.

Karya Kristologi Js. Gregorius
Gregorius, salah satu dari tiga “Cappadocian Fathers”, dikenal atas tulisannya yang mendalam tentang Kristologi. Pada intinya, ia berusaha menjelaskan bagaimana Yesus Kristus, sebagai pribadi ilahi, menyatukan sifat manusia dan ilahi dalam satu eksistensi tanpa kehilangan keutuhan masing-masing. Karya-karya Gregorius ini sebagian besar ditulis pada akhir abad ke-4.

Aspek Kunci dalam Kristologi Gregorius
Penyatuan Dua Natur:
Gregorius berargumen bahwa dalam Kristus, sifat ilahi dan manusia bersatu secara sempurna, masing-masing tetap utuh namun tidak terpisahkan.

Pentingnya Inkarnasi: Inkarnasi bukan hanya sebuah peristiwa sejarah, tetapi juga sebuah misteri ilahi yang menunjukkan cinta dan kasih karunia Tuhan.

Pengaruh terhadap Teologi Orthodox: Karya Gregorius sangat mempengaruhi pengembangan teologi Orthodox, khususnya dalam memahami misteri Kristus dan teologi Trinitas.

Oleh : Irene W.W ( 18 Desember 2023)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *