Rahasia Ilahi dalam Surat Efesus: Pencerahan Melalui Kasih dan Pengetahuan

[Ilustrasi : Sebagaimana Gereja yang Tak Kelihatan (Kumpulan para janasuci dan malaikat) senantiasa memuliakan Allah, maka umat percaya yang masih berada di bumi (Gereja yang Kelihatan) juga senantiasa memuliakan Allah, melalui tuntunan buku liturgi dan sembahyang yang diwariskan turun-temurun sejak jaman Gereja mula-mula]

.

Catatan kaki dari bacaan Efesus 1:15-23 pada Orthodox Study Bible adalah sebagai berikut :

1:15 This is a way of restating the two great commandments: love God and love man.

1:18 Understanding should be translated “heart.” The prayer that Orthodox Christians pray before the reading of the Gospel begins, “Illumine our hearts, O Master who love mankind, with the pure light of Your divine knowledge.”

1:21-23 Principality, power, might, and dominion (v. 21) are orders of angelic beings. Because Christ transcends all (v. 21), everything submits to Him (v. 22). Because He is intimately united with the church (v. 22) as a head to its body (v. 23), the Church has the greatest glory of all creation. The Church is God’s masterpiece (v. 23). Since Christ as God is infinite, the Church never ceases becoming “full.”

1:15-23 This is an intercessory prayer that Paul prayed often and repetitiously (v. 16). He asks that his hearers might understand the redemption he outlined in vv. 3–14. Like vv. 3–14, this section is also one long sentence in Greek.

Penjelasan detail untuk setiap catatan kaki dari bacaan Efesus 1:15-23 dalam Orthodox Study Bible, adalah sebagai berikut:

.

EFESUS 1:15 DALAM TEOLOGI ORTHODOX: MENGASIHI TUHAN DAN MANUSIA


1. Mengasihi Tuhan dengan Sepenuh Hati
Dalam Orthodox, Mengasihi Tuhan bukan sekadar ketaatan ritualis, melainkan perjalanan spiritual yang mengubah seluruh aspek keberadaan. Ini berarti Mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan akal — mengalami kehadiran-Nya dalam doa, liturgi, dan dalam kehidupan sehari-hari. Cinta ini bukan hanya emosi, melainkan komitmen yang berkelanjutan terhadap kehidupan rohani dan pertumbuhan dalam iman.

2. Mengasihi Manusia Sebagai Refleksi Cinta kepada Tuhan
Dalam konteks Orthodox, Mengasihi sesama manusia adalah ekspresi nyata dari cinta kepada Tuhan. Ini berarti melihat setiap orang sebagai ikon Kristus, layak untuk dihormati dan dicintai. Etos Orthodox menekankan bahwa kita tidak dapat Mengasihi Tuhan yang tidak kita lihat jika kita tidak Mengasihi sesama yang dapat kita lihat. Ini mengajarkan bahwa cinta kasih harus diperlihatkan dalam tindakan nyata: pemberian, pengampunan, dan melayani tanpa mengharapkan balasan.

3. Keseimbangan Cinta kepada Tuhan dan Sesama
Dalam teologi Orthodox, tidak ada pemisahan antara cinta vertikal kepada Tuhan dan cinta horizontal kepada sesama. Kedua aspek cinta ini saling terkait dan tidak bisa dipisahkan. Mengasihi Tuhan membawa kepada cinta yang lebih dalam terhadap sesama, dan melalui interaksi kita dengan sesama, kita belajar bagaimana Mengasihi Tuhan lebih dalam.

4. Cinta Kasih Sebagai Pondasi Etika dan Spiritualitas
Efesus 1:15 dalam konteks Orthodox menegaskan bahwa pondasi etika dan spiritualitas Kristen terletak pada cinta kasih. Ini bukan hanya konsep teoritis, tetapi praktik hidup yang harus direfleksikan dalam setiap tindakan, kata, dan pemikiran. Ini adalah ajakan untuk mengubah hati dan pikiran, menuju cara hidup yang lebih berpusat pada Kristus dan sesama.

5. Penerapan dalam Kehidupan Sehari-hari
Dalam kehidupan sehari-hari, mengamalkan dua perintah agung ini berarti menjalani hidup dengan kerendahan hati, kesabaran, dan kemurahan hati. Setiap interaksi dengan sesama menjadi kesempatan untuk menunjukkan cinta kasih — baik dalam hal-hal besar maupun kecil.

.

EFESUS 1:18 DALAM KONTEKS TEOLOGI ORTHODOX: PEMAHAMAN SEBAGAI PENGALAMAN HATI

1. Konsep ‘Hati’ dalam Orthodox
Dalam teologi Orthodox, ‘hati’ bukan hanya organ fisik, melainkan pusat spiritual dari manusia, tempat di mana kebenaran ilahi dapat dialami. Hati dianggap sebagai tempat di mana seseorang bertemu dengan Tuhan, bukan sekadar melalui pemikiran rasional, tetapi melalui pengalaman spiritual yang mendalam. Ini mencakup keseluruhan aspek keberadaan manusia, meliputi pikiran, perasaan, dan kehendak.

2. Pemahaman sebagai Pengalaman Hati
Dalam konteks Efesus 1:18, ‘pemahaman’ yang diterjemahkan sebagai ‘hati’ menekankan bahwa pengetahuan tentang Tuhan tidak cukup hanya dengan pemahaman intelektual. Gereja Orthodox mengajarkan bahwa pemahaman yang sesungguhnya tentang kebenaran ilahi datang melalui pengalaman pribadi dan transformasi hati. Ini adalah proses di mana kebenaran ilahi menembus dan mengubah seluruh aspek diri seseorang.
.

3. Doa Orthodox untuk Pencerahan Hati
Doa yang diucapkan sebelum membaca Injil, “Jadikanlah cahaya murni dari pengetahuan akan Engkau itu bersinar dalam kami dan bukalah mata pikiran kami untuk mengerti berita dari InjilMu,” menggambarkan kerinduan akan pencerahan rohani. Doa ini memohon agar Tuhan menerangi hati, memungkinkan pemahaman yang lebih dalam dan pribadi tentang firman-Nya. Ini mencerminkan keinginan untuk menjalin hubungan yang lebih intim dengan Tuhan, melampaui pengetahuan teoritis.

4. Pengalaman Spiritual yang Mengubah Hati
Dalam konteks ini, ‘pemahaman’ yang sesungguhnya tentang hal-hal ilahi adalah perubahan hati dan jiwa. Teologi Orthodox menekankan perlunya transformasi batiniah — sebuah proses di mana hati menjadi bersih, terbuka, dan peka terhadap kehadiran dan tindakan Tuhan. Ini adalah pengalaman yang menggabungkan doa, kontemplasi, dan partisipasi dalam sakramen-sakramen Gereja.

5. Implikasi dalam Kehidupan Sehari-hari
Pemahaman hati ini memiliki implikasi praktis dalam kehidupan sehari-hari orang Kristen Orthodox. Ini mengajak umat untuk hidup dalam kesadaran akan kehadiran Tuhan, menjalankan kasih dalam tindakan, dan mencari kebijaksanaan dan panduan dari Tuhan dalam setiap aspek kehidupan.

.

EFESUS 1:21-23 DALAM TEOLOGI ORTHODOX: KRISTUS DAN GEREJA

1. Hierarki Spiritual dan Makhluk Malaikat
Ayat 21 dari Efesus membahas tentang “pemerintah (Greek: archēs), penguasa (Greek: exousias), kekuasaan (Greek: dynameōs), dan Kerajaan (Greek: kyriotētos),” yang merujuk pada tatanan makhluk malaikat dalam hierarki spiritual. Dalam teologi Orthodox, makhluk-makhluk ini dianggap memiliki peran khusus dalam penciptaan dan penyelenggaraan kosmos, melayani sebagai pesuruh dan pembawa pesan Tuhan.

2. Kristus Melampaui Semua
Ayat ini menekankan bahwa Kristus melampaui semua tatanan ini, menandakan keutamaan-Nya atas segala kekuasaan dan otoritas. Dalam konteks Orthodox, ini menunjukkan kedudukan Kristus sebagai Logos Ilahi — Firman atau Pikiran Allah —yang menjadi pusat dari segala sesuatu, baik yang di langit maupun yang di bumi.

3. Hubungan Erat Kristus dengan Gereja
Ayat 22-23 menyoroti kesatuan erat antara Kristus dan Gereja. Kristus diibaratkan sebagai kepala, sedangkan Gereja sebagai tubuh-Nya. Ini bukan sekadar analogi, melainkan ekspresi dari realitas mistik bahwa Kristus hidup dan aktif dalam Gereja. Dalam Orthodox, ini berarti bahwa Gereja adalah perpanjangan dari kehadiran Kristus di dunia, berfungsi sebagai sarana penyampaian rahmat dan kebenaran ilahi.

4. Gereja sebagai Mahakarya Allah
Ayat 23 menggambarkan Gereja sebagai “mahakarya Allah,” yang menandakan kemuliaan dan keindahan spiritual Gereja sebagai ciptaan Allah. Dalam teologi Orthodox, ini menggarisbawahi bahwa Gereja bukan hanya institusi manusia; ia adalah entitas rohani yang didirikan dan dihidupkan oleh Kristus sendiri.

5. Gereja yang Terus ‘Penuh’
Konsep bahwa Gereja tidak pernah berhenti menjadi ‘penuh’ mencerminkan pemahaman Orthodox bahwa Gereja adalah organisme hidup, selalu berkembang dan bertransformasi dalam Kristus. Karena Kristus adalah tak terbatas, demikian juga kehidupan dan pertumbuhan Gereja tidak terbatas, terus-menerus diperbarui dan dipenuhi oleh Roh Kudus.

.

EFESUS 1:15-23 DALAM TEOLOGI ORTHODOX: DOA SYAFAAT OLEH RASUL PAULUS

1. Pentingnya Doa Syafaat
Bagian ini menekankan pentingnya doa syafaat dalam tradisi Kristen Orthodox. Doa syafaat, sebagaimana ditunjukkan oleh Rasul Paulus, adalah doa yang berulang kali dipanjatkan bagi orang lain. Dalam Orthodox, ini dipandang sebagai ekspresi cinta kasih dan kepedulian terhadap sesama, di mana umat berdoa bukan hanya untuk diri mereka sendiri tetapi juga untuk keselamatan dan kesejahteraan orang lain.

2. Pemahaman tentang Penebusan
Rasul Paulus dalam doanya meminta agar pendengarnya memahami penebusan yang ia uraikan dalam ayat 3–14. Ini menunjukkan bahwa pemahaman tentang penebusan — aksi penyelamatan yang dilakukan oleh Kristus — adalah kunci dalam kehidupan rohani. Dalam Orthodox, penebusan dipahami tidak hanya sebagai suatu kejadian historis, tetapi sebagai realitas yang berkelanjutan yang mempengaruhi kehidupan setiap orang Kristen.

3. Hubungan dengan Misteri Penebusan
Doa syafaat Paulus merupakan sarana untuk menghubungkan komunitas dengan misteri penebusan dalam Kristus. Ini mencerminkan pemahaman Orthodox bahwa doa merupakan jembatan yang menghubungkan umat beriman dengan realitas spiritual dan misteri-misteri ilahi. Melalui doa syafaat, umat beriman diajak untuk terlibat secara langsung dalam karya penyelamatan Kristus.

4. Struktur Bahasa Yunani yang Unik
Ayat 15-23, yang merupakan satu kalimat panjang dalam bahasa Yunani, menunjukkan gaya penulisan Paulus yang kompleks dan penuh makna. Dalam konteks Orthodox, struktur ini dilihat tidak hanya sebagai gaya retorika, tetapi juga sebagai cara untuk menekankan keterkaitan dan kesatuan dari pesan yang disampaikan.

5. Implikasi Praktis bagi Umat Orthodox
Umat Orthodox diundang untuk mengikuti contoh Rasul Paulus dalam praktik doa syafaat. Ini berarti secara aktif berdoa untuk orang lain, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam liturgi gereja. Doa syafaat menjadi cara praktis untuk berpartisipasi dalam kehidupan komunitas dan memperdalam hubungan dengan Kristus.

.

KARYA-KARYA JS. YOHANES KRISOSTOMOS TERKAIT EFESUS

1. “Homilies on Ephesians” (Khotbah tentang Surat Efesus)
Diterbitkan dalam banyak edisi dan terjemahan, “Homilies on Ephesians” adalah salah satu karya paling terkenal Js. Yohanes Krisostomos. Dalam seri khotbah ini, beliau menafsirkan Surat Efesus dengan mendalam, menjelaskan ayat demi ayat dengan cara yang mudah dipahami namun sarat dengan teologi.

Poin Penting: Krisostomos menjelaskan konsep cinta kasih Kristiani dan bagaimana ini harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Beliau juga menekankan peran Gereja sebagai tubuh Kristus dan pentingnya kesatuan dalam komunitas Kristen.

2. “On the Priesthood” (Tentang Keimaman)
Walaupun bukan secara langsung tentang Efesus, “On the Priesthood” memberikan konteks yang luas tentang pemahaman Krisostomos mengenai Gereja dan perannya dalam dunia. Buku ini penting untuk memahami pandangannya tentang kepemimpinan gerejawi, yang juga berkaitan dengan penafsirannya tentang Surat Efesus.

Poin Penting: Buku ini membahas tentang tanggung jawab dan tantangan menjadi seorang pemimpin gereja, yang juga menggambarkan bagaimana cinta kasih dan kerendahan hati harus menjadi inti dari kepemimpinan Kristen.

3. “The Love of Wealth and Poverty” (Cinta Kekayaan dan Kemiskinan)
Dalam karya ini, Krisostomos berbicara tentang hubungan antara kekayaan, kemiskinan, dan cinta kasih Kristiani. Meski tidak secara eksplisit membahas Efesus, pemikirannya di sini membantu memahami bagaimana beliau menafsirkan ajaran Paulus tentang cinta kasih dan keadilan sosial dalam konteks Gereja.

Poin Penting: Krisostomos menantang pembacanya untuk memikirkan kembali hubungan mereka dengan kekayaan dan mengajak mereka untuk lebih fokus pada cinta kasih dan pelayanan kepada yang membutuhkan.

.

KARYA-KARYA PENTING JS. BASILIUS AGUNG TENTANG ROH KUDUS DAN KASIH KEPADA SESAMA

1. “On the Holy Spirit” (Tentang Roh Kudus)
Diterbitkan di berbagai edisi dan bahasa, “On the Holy Spirit” adalah salah satu karya teologis paling signifikan dari Js. Basilius. Dalam buku ini, beliau mendalami peran dan sifat Roh Kudus, mengklarifikasi posisi-Nya dalam Trinitas dan hubungannya dengan Bapa dan Putra.

Poin Penting: Karya ini penting untuk memahami bagaimana Roh Kudus memungkinkan cinta kasih Kristiani berkembang dalam hati umat beriman, membimbing mereka dalam kehidupan sehari-hari dan memperkuat hubungan mereka dengan Tuhan dan sesama.

2. “The Hexaemeron” (Enam Hari Penciptaan)
“The Hexaemeron” adalah serangkaian khotbah yang membahas tentang penciptaan dunia sebagaimana dicatat dalam Kitab Kejadian. Dalam khotbah-khotbah ini, Js. Basilius tidak hanya berbicara tentang penciptaan, tetapi juga tentang bagaimana cinta kasih harus tercermin dalam hubungan kita dengan ciptaan dan sesama.

Poin Penting: Melalui khotbah ini, Js. Basilius mengajarkan pentingnya merawat ciptaan dan menjalin hubungan kasih sayang dengan sesama makhluk, sebagai ekspresi cinta kepada Tuhan.

3. “The Long Rules” dan “The Short Rules” (Aturan Panjang dan Pendek)
Dalam “The Long Rules” dan “The Short Rules,” Js. Basilius memberikan petunjuk praktis tentang kehidupan monastik dan komunal. Meskipun berfokus pada kehidupan monastik, karya-karya ini memberikan wawasan tentang bagaimana cinta kasih diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam komunitas monastik maupun di luar itu.

Poin Penting: Aturan-aturan ini menekankan pentingnya kasih sayang, kerendahan hati, dan melayani orang lain sebagai bagian integral dari kehidupan Kristiani.

.

KARYA-KARYA JS. GREGORIUS DARI NAZIANZUS: KRISTOLOGI DAN GEREJA

1. “Five Theological Orations” (Lima Khotbah Teologis)
Salah satu karya paling berpengaruh Js. Gregorius, “Five Theological Orations,” menawarkan penjelasan mendalam tentang doktrin Trinitas dan Kristus sebagai inkarnasi sepenuhnya dari Allah dan Manusia. Diterbitkan dalam banyak edisi dan terjemahan, khotbah ini menjadi sumber penting untuk memahami Kristologi dalam Orthodox.

Poin Penting: Dalam khotbah ini, Js. Gregorius menekankan pentingnya memahami Kristus baik dalam sifat-Nya yang ilahi maupun manusiawi, yang memberikan dasar bagi pemahaman Gereja sebagai Tubuh Kristus.

2. “Letters” (Surat-surat)
Surat-surat Js. Gregorius memberikan pandangan pribadi dan praktis tentang berbagai aspek kehidupan gerejawi, termasuk penjelasan tentang Kristologi dan peran Gereja. Surat-surat ini seringkali mengungkapkan pemikiran teologisnya dalam konteks yang lebih pribadi dan langsung.

Poin Penting: Melalui surat-suratnya, Js. Gregorius menggambarkan bagaimana ajaran Kristologi berpengaruh langsung pada kehidupan dan struktur Gereja, serta peran setiap anggota dalam Tubuh Kristus.

3. “Orations on the Holy Lights” (Khotbah tentang Cahaya Suci)
Dalam “Orations on the Holy Lights,” Js. Gregorius berbicara tentang Baptisan dan Pentahbisan sebagai sarana pengalaman langsung dengan Allah. Khotbah ini menggali lebih dalam tentang bagaimana sakramen-sakramen Gereja menghubungkan umat beriman dengan Kristus.

Poin Penting: Khotbah ini mengajarkan tentang pentingnya sakramen dalam kehidupan Gereja, dan bagaimana melalui sakramen, Gereja secara kolektif dan individu merasakan kehadiran Kristus.

.

KARYA-KARYA JS. ATHANASIUS DARI ALEXANDRIA: KRISTUS DAN INKARNASI

1. “On the Incarnation” (Tentang Inkarnasi)
“On the Incarnation” adalah salah satu karya paling terkenal dan paling penting dari Js. Athanasius. Di dalamnya, beliau memaparkan dengan jelas doktrin inkarnasi —bagaimana Logos, Sang Firman Allah, menjadi manusia dalam pribadi Yesus Kristus. Karya ini sering dipublikasikan dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, membuatnya mudah diakses oleh pembaca modern.

Poin Penting: Karya ini memberikan dasar bagi pemahaman Kristologi dalam teologi Orthodox dan sangat relevan dalam konteks Efesus 1:21-23, yang menekankan supremasi Kristus atas segala kekuasaan dan otoritas.

2. “Against the Arians” (Melawan Arianisme)
Dalam serangkaian tulisan yang dikenal sebagai “Against the Arians,” Js. Athanasius membela doktrin Trinitas dan keilahian penuh Kristus melawan ajaran Arianisme yang kontroversial saat itu. Tulisan-tulisan ini sangat berpengaruh dalam membentuk pemahaman gereja tentang Kristus dan hubungan-Nya dengan Bapa dan Roh Kudus.

Poin Penting: Melalui argumen-argumen teologisnya, Js. Athanasius menegaskan bahwa Kristus, sebagai Sang Firman yang menjadi daging, adalah kunci untuk memahami rencana keselamatan Allah dan peran Gereja.

3. “Life of St. Antony” (Kehidupan Janasuci Antonius)
Meskipun bukan langsung berkaitan dengan Kristologi, “Life of St. Antony” oleh Js. Athanasius memberikan wawasan tentang spiritualitas Kristiani dan bagaimana inkarnasi Kristus mempengaruhi kehidupan praktis orang beriman. Biografi ini menggambarkan kehidupan Janasuci Antonius, salah satu pendiri monastisisme Kristen, dan memperlihatkan bagaimana pengikut Kristus menerapkan ajaran-ajarannya dalam kehidupan sehari-hari.

Poin Penting: Karya ini menunjukkan bagaimana inkarnasi Kristus memberikan inspirasi dan kekuatan bagi mereka yang berusaha menjalani hidup dalam kesucian dan dedikasi kepada Tuhan.

Oleh : Irene W.W (17 Desember 2023)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *