Memandang Perang: Perspektif Spiritual Orthodox Timur Dalam Era Konflik

(oleh : Subdiakon Gregorius E.L)

6 : Kamu akan mendengar deru perang atau kabar-kabar tentang perang. Namun berawas-awaslah jangan kamu gelisah; sebab semuanya itu harus terjadi,tetapi itu belum kesudahannya. 7 Sebab bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan. (Matius 24:6-7)

Dalam dinamika perang, tradisi Orthodox Timur memandang perang bukan hanya sebagai sebuah pertempuran fisik antara pihak-pihak yang berperang, melainkan sebagai medan spiritual yang menggambarkan konflik dalam kerangka moral dan etis yang dalam. Perspektif teologis Orthodox memunculkan pemikiran tentang kompleksitas perang sebagai pengingat akan pentingnya perdamaian, keadilan, dan tanggung jawab moral.


Dalam jalinan konflik yang melibatkan perang, pandangan dari tradisi Orthodox Timur tidak melihat perang semata sebagai pertarungan fisik antara pihak-pihak yang berlawanan. Ia dilihat sebagai sebuah medan spiritual yang membentang luas, menggambarkan konflik dalam bingkai moral dan etis yang dalam. Perspektif teologis Orthodox membawa kita ke dalam pertimbangan tentang kekompleksan perang sebagai pengingat akan urgensi perdamaian, pentingnya keadilan, dan beban tanggung jawab moral.

Mengapa perang dipandang sebagai medan spiritual? Menurut ajaran Orthodox, perang tidak hanya menimbulkan penderitaan fisik, melainkan juga mengusik keseimbangan batin, memanggil umat manusia untuk merenungkan dampak moral dan etisnya. Ini adalah refleksi dari keyakinan bahwa setiap tindakan, terutama yang bersifat konflik dan kekerasan, memiliki dampak spiritual yang dalam pada manusia.

Perspektif teologis Orthodox membuka jendela ke kerumitan perang, menggugah kesadaran akan betapa pentingnya keharmonisan dalam relasi antar manusia, dan perlunya upaya bersama untuk merajut kembali kerapuhan hubungan yang tercabik-cabik oleh konflik. Ini adalah panggilan bagi manusia untuk menjunjung tinggi perdamaian, menegakkan keadilan, dan merangkul tanggung jawab moral sebagai bagian tak terpisahkan dalam medan perang.

Ajaran teologi Orthodox menawarkan suatu cara pandang yang melampaui dimensi fisik belaka. Ia mengajak manusia untuk melihat konflik bukan hanya sebagai kisah keberhasilan militer atau kekalahan, melainkan sebagai refleksi dari pertarungan moralitas dan nilai-nilai yang mengguncang hati dan jiwa manusia. Ia memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang menggugah kesadaran akan keadilan,tanggung jawab, dan kemanusiaan dalam setiap tindakan yang diambil dalam konteks konflik.

Dalam pusaran perang, tradisi Orthodox Timur menjadikan panggilan kuat untuk menjaga keselarasan moral, memastikan bahwa setiap tindakan dan keputusan yang diambil terletak pada landasan keadilan dan perdamaian. Hal ini memunculkan pertimbangan mendalam akan nilai- nilai moralitas dalam tindakan, menuntut manusia untuk mengambil peran aktif dalam menjaga keteladanan moral dalam dinamika perang.

Dalam inti ajarannya, Orthodox Timur menekankan bahwa perang bukanlah sekadar pertempuran luar biasa, tetapi juga pertempuran batin yang memerlukan kebijaksanaan dan kesadaran moral yang mendalam. Ia mengingatkan kita akan pentingnya memahami dan merangkul prinsip-prinsip moralitas dalam menghadapi setiap konflik, dan bagaimana tindakan kita mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan yang mendalam.

Ketika kita menyorot peristiwa-peristiwa sejarah, terutama konflik antara Rusia dan Ukraina, ajaran Orthodox Timur menyampaikan pesan esensial mengenai pentingnya menekankan perdamaian dan pengampunan sebagai landasan bagi penyelesaian konflik. Meskipun cakrawala konflik ini terkait dengan faktor-faktor politik dan etnis yang rumit, perspektif spiritual Orthodox mengajak umatnya untuk mengadvokasi solusi damai,menemukan kesatuan dalam keragaman, dan membina pemahaman serta kasih sayang terhadap sesama manusia.

Dalam perjalanan sejarahnya, Gereja Orthodox Timur telah terlibat dalam sejumlah konflik yang menantang, termasuk partisipasinya dalam periode perang Salib yang memunculkan diskusi etis yang mendalam dalam perspektif gereja. Pada saat itu, pertanyaan etika perang menjadi sorotan utama, dengan gereja menegaskan bahwa perang hanya boleh dianggap sebagai pilihan terakhir, dan bahkan itu pun harus diambil dengan pertimbangan etis yang tinggi serta bijaksana yang mendalam.

Salah satu landasan utama dalam pandangan teologi Orthodox dalam menanggapi konflik adalah nilai-nilai seperti kesabaran, pemulihan, dan pembebasan dari rasa benci. Ini bukan sekadar konsep-konsep kosong, melainkan pijakan yang kokoh dalam merespons pertikaian, menekankan pentingnya pengampunan dan kasih sayang, bahkan terhadap pihak lawan yang mungkin telah melakukan kesalahan atau tindakan kejahatan.

Referensi sejarah yang relevan dapat ditemukan dalam partisipasi gereja Orthodox Timur selama periode perang Salib. Di tengah pertempuran yang memunculkan banyak perdebatan etis, pemikiran para Bapa Gereja juga memainkan peran penting. Salah satu pandangan yang relevan adalah dari Js. Yohanes dari Damaskus, seorang Bapa Gereja Orthodox yang menulis tentang perang.

St. John of Damascus, atau dikenal juga sebagai Yohanes dari Damaskus, merupakan seorang teolog terkemuka dari Gereja Orthodox Timur pada abad kedelapan. Dalam karyanya yang berjudul “On the Orthodox Faith” atau “De Fide Orthodoxa,” dia membahas berbagai topik teologis, termasuk bagian mengenai perang yang dikenal sebagai “On the Righteousness of War” atau “Tentang Kebenaran Perang.” Bagian ini membahas pertimbangan etis seputar konsep perang dalam kerangka moralitas Kristen.

Yohanes dari Damaskus memandang perang dari sudut pandang yang menekankan kebenaran perang dalam konteks pertahanan tertentu. Dia berargumen bahwa terlibat dalam perang bisa dibenarkan dalam situasi tertentu, terutama dalam pertahanan terhadap agresi dan untuk menegakkan keadilan. Dia merujuk pada prinsip-prinsip etis Kristen klasik dan berupaya merangkum kebutuhan pertahanan dengan etos Kristen yang lebih luas.

Tulisan-tulisannya tentang perang menekankan gagasan bahwa terlibat dalam konflik harus sesuai dengan batasan moral, menegaskan bahwa perang seharusnya hanya dijalani sebagai langkah terakhir dan demi pertahanan diri atau perlindungan terhadap yang tak bersalah. Yohanes dari Damaskus sangat berhati-hati terhadap implikasi moral dari peperangan, menekankan pentingnya proporsionalitas dan perilaku etis selama konflik bersenjata.

Karyanya membentuk dasar bagi konsep “teori perang adil” dalam etika Kristen, yang kemudian dikembangkan oleh para teolog dan filsuf. Prinsip-prinsip yang dia uraikan bertujuan memberikan panduan etis tentang alasan yang sah untuk berperang dan perilaku moral yang diharapkan selama konfrontasi bersenjata, sejalan dengan ajaran Kristen yang lebih luas tentang belas kasihan, pengampunan, dan kekudusan kehidupan.


Kesabaran sebagai Keberanian Spiritual
Dalam pandangan Orthodox, kesabaran bukanlah sekadar menunggu, tetapi merupakan keberanian spiritual untuk menahan diri dan menjaga ketenangan di tengah konflik. Ini adalah sikap yang mengakui bahwa penyelesaian konflik memerlukan waktu, kesabaran, dan kerendahan hati untuk memahami sudut pandang lain.

Kesabaran dalam teologi Orthodox merupakan panggilan untuk menahan diri dari tindakan emosional yang impulsif, memberikan ruang bagi pertumbuhan dan pemahaman yang lebih dalam terhadap pihak yang berlawanan. Hal ini melibatkan kesediaan untuk bertahan dalam proses rekonsiliasi, meskipun itu memerlukan waktu yang lama.


Pemulihan dan Kesempatan Kedua
Pemulihan adalah prinsip lain yang menonjol dalam teologi Orthodox. Ini tidak hanya mengacu pada pemulihan fisik, tetapi juga rohani dan emosional. Konsep ini mengajarkan pentingnya memberikan kesempatan kedua, bahkan kepada mereka yang telah melakukan kesalahan atau tindakan yang merugikan.

Dalam konteks konflik, pemulihan menghadirkan kesempatan untuk transformasi dan pertobatan, baik bagi individu maupun kelompok yang terlibat.Hal ini melibatkan pemahaman bahwa setiap pihak memiliki potensi untuk berubah dan memperbaiki kesalahannya, serta memberikan dukungan untuk proses tersebut.


Pembebasan dari Rasa Benci melalui Pengampunan
Pembebasan dari rasa benci adalah konsep yang kuat dalam teologi Orthodox.Ini bukan sekadar penghapusan perasaan negatif, tetapi juga proses pembebasan diri dari beban emosional yang membelenggu jiwa.

Pengampunan dalam pandangan Orthodox bukan berarti menjustifikasi tindakan yang salah atau melupakan kesalahan yang telah terjadi. Sebaliknya, itu adalah tindakan pembebasan diri dari siklus balas dendam, memungkinkan diri untuk melepaskan beban yang menghambat pertumbuhan spiritual.


Kasih Sayang yang Luas
Kasih sayang adalah inti dari ajaran teologi Orthodox dalam menanggapi konflik. Ini adalah sikap luas yang melampaui batas-batas, memperlihatkan empati, pengertian, dan kebaikan terhadap semua pihak yang terlibat, termasuk pihak lawan.

Dalam konteks konflik, kasih sayang tidak hanya ditujukan kepada mereka yang berada di pihak yang sama, tetapi juga kepada musuh-musuh atau lawan. Ini adalah panggilan untuk melihat manusia di balik konflik, menciptakan ruang untuk dialog, rekonsiliasi, dan pembangunan hubungan yang bermakna.


Dalam keseluruhan, ajaran teologi Orthodox mengajarkan bahwa tanggapan terhadap konflik tidak hanya memerlukan keberanian, tetapi juga membutuhkan pemahaman, pengampunan, dan kasih sayang yang luas. Ini adalah landasan spiritual yang membimbing umat Orthodox dalam menanggapi pertikaian dengan kedalaman, empati, dan kemurahan hati.

Namun demikian, sikap Orthodox terhadap perang bukanlah sebuah dogma yang tidak berubah. Sebagai contoh, dalam konteks konflik yang melibatkan Rusia dan Ukraina, Gereja Orthodox Rusia dan Gereja Orthodox Ukraina menunjukkan perspektif yang berbeda yang tercermin dalam respons mereka terhadap konflik tersebut.

Gereja Orthodox Rusia mendukung peran Rusia dalam menangani konflik di Ukraina sebagai bagian dari upaya mempertahankan kepentingan agama dan politiknya. Di sisi lain, Gereja Orthodox Ukraina menegaskan keberpihakan mereka pada otonomi gereja dari pengaruh Rusia, menyoroti perlawanan mereka terhadap campur tangan politik dan agama dari luar Ukraina.

Dalam menghadapi realitas perang, Gereja Orthodox Timur terus berjuang untuk menemukan keseimbangan antara nilai-nilai spiritual dan tekanan realitas politik yang ada. Mereka terus berupaya merangkul perdamaian, memberikan bantuan kemanusiaan, dan mendorong dialog serta rekonsiliasi antara pihak-pihak yang terlibat dalam konflik tersebut.

Dalam konteks perang, pandangan teologis Orthodox Timur menekankan kebutuhan akan perdamaian, pengampunan, dan pemahaman. Meskipun kontroversi dan perbedaan pendapat mungkin timbul dalam respons gereja terhadap konflik, seperti yang terjadi antara Rusia dan Ukraina, nilai-nilai spiritualitas Orthodox tetap menjadi pijakan dalam upaya mencapai perdamaian dan rekonsiliasi yang sangat diperlukan dalam masa konflik yang berat ini.

Dalam realitas yang penuh konflik, ajaran teologi Orthodox Timur menjadi sumber pijakan yang kokoh, menyoroti pentingnya perdamaian, pengampunan, dan pemahaman dalam konteks perang. Meskipun kontroversi dan perbedaan pandangan mungkin muncul dalam respons gereja terhadap konflik, seperti yang terjadi dalam konflik antara Rusia dan Ukraina, nilai-nilai spiritualitas Orthodox tetap menjadi landasan dalam upaya meraih perdamaian dan rekonsiliasi yang sangat dibutuhkan dalam masa konflik yang mengguncang ini.


Kebutuhan akan Perdamaian yang Mendalam
Dalam pandangan Orthodox, perdamaian tidak hanya sekadar absennya pertikaian fisik, melainkan keadaan yang memancarkan harmoni, keseimbangan, dan keadilan di antara individu dan komunitas. Perdamaian bukanlah hanya ketiadaan konflik, tetapi hasil dari usaha bersama untuk membangun relasi yang sehat, penuh penghargaan, dan memelihara martabat manusia.

Dalam medan perang, ajaran teologi Orthodox Timur mendorong kesadaran akan pentingnya merajut kembali benang-benang kebersamaan yang terputus oleh konflik. Ia menyerukan tindakan nyata dalam menciptakan lingkungan yang mendukung dialog, toleransi, dan pemahaman di antara pihak-pihak yang bertikai. Perdamaian, menurut pandangan Orthodox, adalah investasi dalam hubungan yang membangun, bukan kekalahan musuh.


Panggilan Akan Pengampunan yang Mencerahkan
Dalam konteks konflik, pengampunan bukanlah tindakan yang mudah dilakukan. Namun demikian, ajaran Orthodox menegaskan pentingnya pengampunan sebagai salah satu kunci penting menuju perdamaian sejati. Ini adalah proses pembebasan diri dari beban dendam, memungkinkan jiwa untuk mengalir dalam kebebasan dan kedamaian yang sejati.

Pengampunan, dalam pandangan teologi Orthodox, adalah suatu perjalanan yang membebaskan, yang tidak hanya membebaskan pihak yang memberi ampun, tetapi juga yang menerimanya. Ini adalah proses yang mendalam, yang mengingatkan manusia akan kemanusiaannya dan memberikan kesempatan bagi transformasi spiritual yang mendalam.

Pentingnya Pemahaman dan Empati
Ajaran Orthodox Timur menyerukan pemahaman yang luas dan empati yang mendalam terhadap semua pihak yang terlibat dalam konflik. Pemahaman adalah jendela menuju rekonsiliasi yang makmur, menghidupkan kesadaran akan latar belakang, nilai-nilai, dan kesulitan yang mungkin dihadapi oleh pihak lain.

Dalam medan perang, pemahaman adalah sarana untuk mengetahui, mendengarkan, dan menciptakan ruang bagi penghargaan terhadap keunikan setiap individu dan kelompok. Ini membangun jembatan komunikasi yang diperlukan untuk mencapai kesepakatan yang membangun dan memperkuat ikatan antar manusia.


Relevansi Spiritualitas Orthodox dalam Konflik Rusia-Ukraina
Konflik antara Rusia dan Ukraina menyoroti kontroversi dan perbedaan dalam pandangan gereja. Gereja Orthodox Rusia menyokong peran Rusia dalam menghadapi konflik di Ukraina, sementara Gereja Orthodox Ukraina menegaskan otonomi gereja dari pengaruh Rusia. Meskipun demikian, nilai-nilai spiritualitas Orthodox tetap menjadi tonggak dalam usaha mencapai perdamaian dan rekonsiliasi yang sangat diperlukan dalam masa konflik ini.

Dalam konteks konflik yang berat, ajaran teologi Orthodox Timur memberikan pondasi moral yang kuat bagi upaya mencapai kedamaian. Meskipun pandangan berbeda muncul, nilai-nilai kesabaran, pemulihan, pengampunan, pemahaman, dan kasih sayang tetap menjadi pendorong utama untuk memperjuangkan keselarasan, rekonsiliasi, dan keharmonisan di tengah ketegangan yang terus berlangsung. Ini bukanlah sekadar tentang mengakhiri konflik, tetapi juga tentang membangun pondasi bagi perdamaian yang berkelanjutan dan kesejahteraan bersama dalam masa depan.

Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. (Matius 6:9)

Makassar,7 Des (NS) / 24 Nov (OS) 2023
+Peringatan Martir Agung Merkurius Sang Prajurit dari Kaisarea, Kapadokia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *