Berkat 14 November 2020

Shalom Alaikhem be Shem Ha Massiakh,

Para Romo, Saudara2 dan Saudari2ku, serta Anak-anak Rohaniku semuanya, Alkitab mengatakan ” Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap” (Yakobus 4:14b), sehingga semua yang kita kejar, kita ributkan, serta kita buat diri kita sibuk karenanya, dan yang sekarang ini, itu semua kita anggap nyata, sebenarnya adalah seperti mimpi yang akan dihanyutkan Allah. Sebagaimana dikatakan “Engkau menghanyutkan manusia, mereka seperti mimpi” ( Mazmur 90:5a). Karena kita ini dalam diri kita sendiri pada dasarnya hanyalah sekedar ” debu dan abu ” (Kejadian 18:27c). Jadi betapa rendah dan tak berarti nya sebenarnya kita ini, bahkan dikatakan Kitab Suci “nasib manusia adalah sama dengan nasib binatang, nasib yang sama menimpa mereka; sebagaimana yang satu mati, demikian juga yang lain” (Pengkhotbah 3:18a). Dan pada waktu kita mati itu apapun yang sekarang kita ributkan, sibukkan, dan per-rebutkan akan dilupakan, dan diri kita pun secara pelan-pelan akan dilupakan orang termasuk oleh anak- cucu kita sendiri. Jadi benar, kita ini memang seperti uap yang akan lenyap, jika yang duniawi ini saja yang kita kejar dan kita cari. Padahal apapun yang kita lakukan selama hidup tanpa Allah yang begitu tak bermakna ini, tanpa ada keraguan datangnya pada saat kita mati nanti, apapun yang kita lakukan serta kita niatjan dalam hati pasti tak akan “tersembunyi dihadapanNya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepadaNya kita harus memberikan pertanggungan jawab ” (Ibrani 4:13). Alangkah ngerinya pemandangan yang kita jumpai di saat itu. Semua yang kita sibukkan dan ributkan selama hidup ini lenyap tak berbekas, yang ada dihadapan kita hanya “Allah, perbuatan kita, tanggung jawab yang harus kita berikan, dan pengadilan Nya”. Kita akan menggigil kita akan gemetar, kita akan terbungkam, kita akan amat ketakutan mengingat akan semua kehidupan dosa yang pernah kita lakukan. Jadi jika kita menyadari akan semua itu, bukankah kita harus memutar jalan dan arah hidup kita yang salah dan keliru yang sekarang tengah kita lakukan ini? Untuk itu marilah kita mencari Tuhan dengan sepenuh hati, marilah kita bertobat kepadaNya dengan sedalam-dalamnya penyesalan, marilah kita mencari perkenan Nya dengan kesungguh-sungguhan upaya, dan marilah kita tumpukan semua hidup kita pada Kasih- Karunia Nya dengan sepenuh-penuh Iman. Sementara masih ada waktu marilah pusatkan hidup kita pada perkara Tuhan, ketika kita juga sedang melaksanakan tugas dan kewajiban hidup kita ini. Jadikan itu semua sarana untuk mencapai panunggalan dengan Allah Bapa kita, dalam kasihNya, melalui Kasih- karunia-Nya di dalam penebusan Firman Nya yang telah menjadi Manusia, Tuhan kita Yesus Kristus, oleh Kuasa daripada RohNya yang Kudus itu.Amin.

Archimandrite Rm Daniel Byantoro

Related Posts