GEREJA DAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL KEMANUSIAANNYA

  1. SEJARAH RUMAH SAKIT (diterjemahkan dari artikel tulisan professor Timothy S. Miller, Sejarawan dari Universitas Salisbury di Maryland, Amerika Serikat, di Majalah Christian History edisi 101, tahun 2011)

Konsili Nicea I pada tahun 325M mendorong pihak Gereja untuk juga memberikan pelayanan kepada orang-orang miskin, sakit, janda, dan musafir. Setiap satu parokia di setiap kota diharuskan untuk menyediakan satu pelayanan kesehatan. Karena pada masa itu banyak sekali orang-orang sakit (yang tidak bisa disembuhkan) yang ditelantarkan keluarganya karena dianggap aib, dan dibiarkan mati di jalanan. Oleh karena itu, pada tahun 370 Masehi, setelah masa kekeringan dan wabah lapar menimpa, Js Basilius  Agung (329M-379M), menjual tanah keluarga, membeli makanan bagi orang kelaparan dan mendirikan rumah sakit pertama di dunia di Kaisarea, Palestina, yang pada saat itu adalah bagian dari wilayah Imperium Kekaisaran Romawi (sekarang wilayah Israel). Bangunan ini berhubungan langsung dengan bagunan gereja, dan disediakan pula tempat terpisah untuk penderita lepra.

Bagaimana rumah sakit itu bisa terbentuk ??

Kisahnya adalah sebagai berikut :

Pada tahun 365M, Js Basilius Agung ditahbiskan menjadi presbiter untuk Kaisarea, Palestina, dan lima tahun kemudian dia ditahbiskan menjadi uskup. Saat menjabat sebagai uskup, ia terinspirasi oleh beberapa hasil dari Konsili Nicea I, sehingga ia mendapatkan ide untuk membangun monasteri gaya baru — yang tidak hanya berfokus pada keselamatan rohani para penghuninya, tetapi juga pada perawatan fisik orang sakit dan miskin. Dalam “tur monastik”nya, Basil bertemu dengan seorang rahib berpengaruh dari Asia Kecil, bernama Eustathios, yang meyakinkan Basil bahwa seorang rahib Kristen sejati harus meninggalkan makanan, minuman, dan kehidupan mewah, dan tidak hanya berdoa dan merenungkan Tuhan, tetapi juga untuk melayani kebutuhan jasamani orang lain. Js Eustathios kemudian mendirikan komunitas rahib perkotaan di seluruh Asia Kecil dan bahkan di Konstantinopel. Tidak seperti para rahib Mesir yang mengucilkan diri dari dunia untuk tinggal di padang pasir, para biarawan Eustathios mencari kota-kota di mana mereka dapat membantu orang miskin, sakit, tunawisma, dan bahkan penderita kusta. 

Basilius sangat tertarik dengan pemikiran Eusthatios, kemudian, sekitar tahun 369-370M, dia mengerjakan prinsip-prinsip monastisisme perkotaan menurut Eustathios di monasterinya sendiri dan mendirikan kompleks filantropi/tempat pelayanan untuk orang sakit dan miskin di Kaisarea. Inilah rumah sakit umum pertama di dunia. Komunitas pria dan wanita pengikut Basilius ikut mendedikasikan diri mereka baik untuk melayani di tempat ini dengan cara menyembah Tuhan dan orang sakit serta para pelancong yang membutuhkan tempat tinggal yang bersih dan aman. Karena pada masa itu belum ada hotel dan penginapan layak untuk pelancong asing. Biasanya mereka menumpang di rumah warga yang mau menampung mereka, tentunya dengan memberikan imbalan tertentu kepada tuan rumah. Namun komunitas ini melakukan semua pelayanan mereka secara sukarela, cuma-cuma.

Namun, perintisan pelayanan sosial yang dilakukan oleh komunitas itu ditentang oleh beberapa orang warga yang merasa risih dengan keberadaan orang-orang miskin, orang asing, dan orang sakit di lingkungan mereka. Kemudian mereka melaporkan hal tersebut kepda pemerintah setempat, yang pada saat itu di pimpin oleh gubernur Cappadocia. Gubernur pun melalui aparatnya memberikan teguran kepada Basilius, dan mengancam akan melarang serta menutup kegiatan mereka.

Basilius kemudian menulis surat kepada gubernur Cappadocia untuk membela tindakannya: “Siapa yang kami rugikan ketika kami mendirikan rumah sakit untuk orang asing, baik mereka yang sedang dalam perjalanan maupun mereka yang membutuhkan perawatan karena sakit? Untuk orang-orang ini kami telah menyiapkan bantuan yang diperlukan: kami merawat orang sakit dan melakukan pelayanan sosial untuk orang-orang miskin, tanpa meminta imbalan apapun kepada siapapun’’.

Mungkin aspek paling radikal dari komunitas Basilius ini adalah pelayanannya kepada kelas yang sangat hina dan dibenci, yang mana hal demikian belum pernah dilakukan oleh siapapun dan dimanapun pada saat itu. Seperti yang dikatakan Js Gregorius dari Nissa : “orang-orang malang ini mati sebelum waktunya dan menderita penyakit parah di sebagian besar tubuh mereka. Mereka diusir dari kota, rumah, pasar, dan sumber air, bahkan dari sahabat mereka. Mereka dikenali dari namanya, bukan dari penampilan fisiknya.”

Para orang sakit yang paling malang ini, sebagian besar adalah pasien komunitas Basilius, dan kemungkinan besar adalah penderita kusta. Para tabib Yunani tidak tahu bagaimana menyembuhkan mereka, tetapi Basilius merasa mereka masih layak mendapatkan perawatan. Jadi di samping tempat tidur bagi mereka yang menderita penyakit akut dan rumah perawatan bagi para musafir yang membutuhkan, sang uskup juga menyediakan tempat bagi para penderita kusta.

Basilius juga berusaha meyakinkan para sahabatnya bahwa ilmu kedokteran tidak bertentangan dengan kehendak Tuhan tetapi adalah anugerah Tuhan. Dari Hippocrates hingga Galen, para dokter Yunani telah mengembangkan ilmu (logos) kesehatan yang canggih berdasarkan pengamatan, studi anatomi, dan eksperimen obat. Ilmuwan modern terkadang mengolok-olok sistem Yunani kuno, tetapi mereka mengabaikan deskripsi Galen tentang otot, tendon, dan tulang tangan manusia.

Sayangnya, beberapa orang Kristen juga ada yang merasa tidak nyaman dengan pengobatan Yunani. Pertama, itu terkait dengan kultus Asclepios, dewa penyembuhan yang dilambangkan dengan ular. Para penyembah Asclepios memuji dewa mereka sebagai ‘penyelamat, gelar yang sama yang juga diberikan orang Kristen kepada Kristus. Sehingga hal pengobatan ini, dianggap mereka terkait dengan penyembahan berhala, perdukunan, dan sihir pagan. Kedua, orang-orang Kristen tersebut curiga terhadap obat-obatan karena dianggap mereka hal demikian ‘tidak rohani’ (lebih mengandalkan kemampuan manusia daripada kuasa Ilahi, Kristus).

Basilus merespon argumen mereka dengan menegaskan dalam aturan monastiknya bahwa obat-obatan adalah juga wujud kasih karunia Tuhan: “Tulisan-tulisan nubuat, lebih jauh lagi, menyampaikan teguran ini kepada mereka yang belum menerima peringatan: ‘Apakah tidak ada balsem (obat) di Gilead ? (GHilead adalah sebuah wilayah di Palestina pada zaman Yesus melakukan banyak mukjizat kesembuhan disana) atau tidak adakah dokter disana? Hal-hal demikiankah yang menyebabkan umatku tidak kunjung sembuh dari penyakitnya ?’’. Basilius berpendapat bahwa Tuhan memberikan pertanian kepada Adam dan Hawa yang telah diusir dari taman Firdaus agar dapat memberi makan keluarga mereka, menenun untuk menutupi ketelanjangan mereka, dan pengetahuan obat-obatan untuk menyembuhkan penyakit mereka. Untuk setiap penyakit, Tuhan menciptakan tumbuhan, mineral, atau hewan untuk menyembuhkannya, dan kemudian Dia memberikan kecerdasan kepada manusia untuk menemukan obatnya.

Ketika seorang tabib menyembuhkan dengan obat-obatan, ujar Basilius, kita mengalami mukjizat ciptaan Tuhan yang tidak kalah indahnya dengan yang ada di Alkitab. Namun ia menekankan bahwa semua penyembuhan pada akhirnya berasal dari Allah : ”Allah terkadang menyembuhkan kita . . . tanpa sarana yang terlihat (mukjizat) ketika dia menilai cara pengobatan ini bermanfaat bagi jiwa kita; dan sekali lagi Dia menghendaki agar kita menggunakan pengobatan material untuk penyakit kita. . . untuk memberikan contoh untuk perawatan jiwa yang tepat.”

Selama menjadi uskup, Basilius membantu mendirikan rumah sakit Kristen dengan menyatukan gerakan monastik perkotaan ke sebuah institusi yang mencakup perawatan rumah sakit dan staf dokter dan perawat. Dia juga memainkan peran penting dalam meyakinkan orang Kristen bahwa ilmu kedokteran adalah hadiah dari Tuhan, bukan tipuan pagan. Dengan memurnikan obat dari asosiasi pagan, Basilius menghilangkan keraguan yang disembunyikan uskup atau orang Kristen kaya tentang institusi pendukung yang menyediakan perawatan medis. Karyanya baik sebagai pegiat sosial kemanusiaan dan sebagai teolog yang membenarkan pengobatan Yunani mendorong pendirian banyak rumah sakit Kristen di seluruh provinsi berbahasa Yunani di Kekaisaran Romawi pada masa itu, di mana ribuan orang menemukan kesembuhan jasmani dan rohani.

2. TANGGUNG JAWAB SOSIAL DAN KEMANUSIAAN

Setelah kami memaparkan sejarah pelayanan medis dan sosial orang kristen, kemudian timbul pertanyaan : apa tujuan dan maksud pemaparan tersebut ?

Jawabnya adalah : Untuk memunculkan rasa tanggung jawab sosial kemanusiaan bagi gereja yang Tuhan tempatkan di tengah dunia yang sedang merana ini.

Mengapa gereja juga harus bertanggung jawab secara sosial dan kemanusiaan di dunia ini, selain kerohanian ?

Menurut Archimandrite Daniel Byantoro, dalam bukunya yang berjudul : “Apa dan Bagaimana Iman Orthodox’’ :

Kesatuan manusia dengan Kristus, yang membuat Dia mampu merasakan aniaya dan derita manusia, ternyata tidak hanya dibatasi di dalam ruang lingkup orang beriman secara rohani, namun juga di dalam keberadaan manusia papa secara umum, karena Kristus mengambil totalitas manusia secara umum, dan mengenakan derita manusia ini di dalam diriNya sendiri. Oleh karena itu, Ia dapat mengatakan :

“Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum, ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aka. Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat engkau sakit, atau dalam penjara dan kami mengunjungi engkau ? Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Matius 25:35-40)

Perbuatan baik yang ada hubungannya dengan sosial ekonomi manusia, yang kita lakukan terhadap manusia itu adalah perbuatan baik yang kita lakukan kepada Kristus, karena Kristus telah mengenakan totalitas keberadaan manusia di dalam kepapaan dan kesengsaraanNya. Sebaliknya perbuatan jahat, atau ketiadaan per buatan baik terhadap orang-orang yang papa, yang kepapaannya itu telah dikenakan di dalam totalitas kemanusiaan Kristus adalah ketiadaan perbuatan baik yang kita lakukan kepada Kristus, sebagaimana yang dikatakan Alkitab:

“Sebab ketika aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan, ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat aku. Lalu merekapun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau ? Maka Ia akan menjawab merkta: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. (Matius 25:42-45).

Dengan demikian, di dalam inkarnasi Kristus; seluruh kehidupan sosial dan ekonomi manusia di dalam totalitasnya, itu sudah dirangkum. Karena Kristus sudah mengenakan kemanusiaan secara total, maka kalau kita tidak berbuat sesuatu terhadap manusia yang papa yang kemanusiaannya sudah dikenakan Kristus, itupun kita tidak berbuat sesuatu kepada Kristus. Dan kalau kita berbuat sesuatu yang baik terhadap orang yang papa dan hina dalam keberadaan sosial dan ekonominya, yang keberadaan kepapaannya itu sudah dikenakan oleh Kristus, itu adalah perbuatan baik kita kepada Kristus.

Oleh karena itu dengan mengerti kesatuan antara totalitas kemanusiaan kita dengan Kristus, kepapaan kita dengan keberadaan Kristus, yang Kristus sendiri merasakan kepapaan itu, maka sudah sewajarnya kita sebagai anggota-2 tubuh Kristus (Gereja) harus melakukan sesuatu yang bersifat positif bagi keberadaan sosial, serta ekonomi masyarakat yang ada di sekitar kita. Yang ditunjuk oleh Kristus ialah mengenai hal kelaparan, kehausan; ini menunjuk kepada kebutuhan pokok yaitu kebutuhan makan dan dan minum ; mengenal orang asing yang di sini menunjukkan ketiadaan rumah; mengenai ketelanjangan, di sini menunjuk kebutuhan pokok mengenai pakaian; dan mengenai kesakitan serta dalam penjara disini adalah mengenai keberadaan kehinaan secara sosial.

Karena Kristus menyebutkan hal-hal yang pokok di dalam kehidupan manusia ini sebagai sesuatu yang perlu dilakukan untuk dapat berbuat baik kepada Kristus, maka kitapun perlu mengarahkan usaha kita di dalam Pekabaran Injil, bukan hanya di dalam bidang yang kita sebut sebagai bidang rohani tetapi juga meningkatkan taraf hidup masyarakat, baik dari segi gizi makanan mereka, segi pakaian, segi tempat tinggal, maupun segi keberadaan yang lain; kesehatan, tingkat hidup, tingkat pendidikan mereka. Oleh karena itu Kristus di dalam memberitakan InjilNya, Ia mencirikan pemberitaan Injil itu sebagai berikut :

“KepadaNya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibukanya, Ia menemukan nas di mana ada tertulis :

Roh Tuhan ada padaku, oleh sebab la telah mengurapi Aku,

untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin;

dan la telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.

Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepadaNya. Lalu Ia memulai mengajar kata – Nya: “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.” (Lukas 4:17-21).

Jadi menurut ayat di atas, Kristus mencirikan pemberitaan Injil itu untuk disampaikan kepada orang miskin. Bukan hanya dalam pekabaran Injil dalam arti supaya mengerti tentang Berita Injil, tetapi dengan tuntutan untuk memberikan pembebasan kepada orang-2 tertawan. Mengadakan pelepasan dan penglihatan bagi orang-orang buta. Memang dalam karya Kristus, Ia menyembuhkan orang yang sakit buta matanya, tetapi memang ini bisa kita ambil secara menyeluruh yaitu: Kebutaan dari pengetahuan, kebutaan dari pengertian hidup yang sebenarnya. Oleh karena itu memerlukan penerangan, penglihatan, yaitu: Melalui tingkat pendidikan.

‘Untuk membebaskan orang-orang yang tertindas,’ di sini adalah tertindas dalam kemiskinan, penganiayaan, tertindas dalam ketidakadilan, dan lain-lainnya. Semuanya ini membutuhkan suatu tindakan nyata dari pihak Gereja. Memang tertindasnya itu bisa dari kuasa gelap – bisa kita lakukan dengan pengusiran setan, namun kuasa setan itu bukan hanya menunjukkan diri dalam wujud kerasukan tetapi kuasa setan dapat juga menunjukkan dalam wujud kebodohan, ketidak-tahuan, kemiskinan dan kepapaan secara sosial-ekonomi.

Oleh karena itu, berita Injil harus mampu mengangkat harkat manusia, bukan saja hanya secara rohani tetapi juga secara jasmani. Oleh karena semangat dari berita Injil yang demikian inilah,  maka di dalam Sejarah Gereja, orang-orang Kristen yang pertama kali mengadakan penguburan orang mati secara sistematis yang belum ada pada waktu itu di masyarakat Roma. Rumah sakit yang pertama juga didirikan oleh orang Kristen. Rumah jompo, rumah papa, panti asuhan didirikan pada waktu zaman Kerajaan Byzantium. Teristimewa Bapa, Js Gereja Basilius Agung, ia berusaha untuk mendirikan panti-asuhan-2, panti jompo, rumah sakit, dan menolong orang yang papa. Lembaga-lembaga kemasyarakatan yang demikian ini sudah ada sejak sepanjang Sejarah Gereja, dilakukan oleh Gereja untuk menggenapi arti dampak dari Inkarnasi yang merangkum kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat yung ada. Oleh karena itu sampai sekarangpun, jikalau kita memberitakan Injil, kita tidak boleh melupakan segi dari kebutuhan fisik-Jasmani manusia yg diekspressikan dalam kehidupan sosial mereka kehidupan ekonomi mereka.

Demikian juga Gereja menekankan tentang perlunya pendidikan, maka sampai sekarangpun Gereja perlu menekankan pendidikan supaya orang dilepaskan dari kebutaan, kebodohan, dan kegelapan pengertian supaya mereka diterangi. Dengan demikian, mereka dapat mengerti berita Injil itu dan merasakan dampak nyata Inkarnasi Sang Sabda dalam kehidupan yang riel. Inilah tugas Gereja, bahwa kita mengabarkan Injil, bukan hanya mengabarkan tentang perkara-perkara rohani, tetapi juga mengabarkan secara keseluruhan perlunya mengangkat harkat dan tingkat hidup manusia secara sosial dan ekonomi.

Jadi usaha mendirikan rumah sakit, panti asuhan, panti jompo, rumah anak yatim piatu, sekolah-2, dan usaha bisnis yang dapat menolong menaikkan tingkat hidup masyarakat sedapat yang Gereja mampu. Itulah tindakan yang sesuai dengan kebutuhan berita Injil. Injil bukan hanya berkenaan dengan perkara perkara rohani (surgawi), atau perkara-2 lahir, tetapi Injil juga berkenaan dengan kehidupan di sini -masa kini : mengenai makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, mengenai kesehatan, dan lain-lainnya;  karena Sabda Allah telah mengenakan kemanusiaan kita. Biarlah pemberitaan Injil kita, kehadiran Gereja, dapat memberikan terang, garam; bagi masyarakat yang masih terbelakang, masyarakat yang masih di tingkat bawah dan mengangkat mereka dengan pendidikan dan dengan usaha-2 yang lain yang dapat menolong keberadaan mereka.

Dampak Gereja harus mampu menolong masyarakat supaya dapat menikmati hidup yang layak, pemukiman yang layak, kebutunan makan-minum yang layak, pakaian yang layak, kesehatan yang layak serta hak azasi hidup yang layak. Gereja perlu memperjuangkan itu, kalau ia serius akan keyakinannya terhadap Inkarnasi. Yesus mengatakan : ‘Orang miskin akan selalu tetap ada beserta kita.’

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *