KESAKSIAN NILUS, SEORANG BUDDHIST AMERIKA YANG BERTOBAT DAN MENJADI KRISTEN ORTHODOX

Ikon perumpamaan Yesus tentang Anak durhaka yang pulang ke rumahnya

Melalui Gerbang Timur – Dari Buddhisme Tibet ke Kristen Ortodoks

Suatu sore di akhir Januari 1999 saya pergi ke altar (Buddha) saya
untuk latihan rutin meditasi harian saya. Biasanya saya mulai dengan
lagu dan mantra yoga dan kemudian duduk diam. Saya menyalakan lilin di
altar saya dan setelah menyelesaikan lagu dan mantra saya memulai
latihan hening saya. Saya tidak dapat mengatakan dengan tepat berapa
lama saya telah duduk ketika saya mendengar suara saya berkata dengan
kata-kata saya sendiri dengan keras, “Saya merindukan Yesus.” Saya
mengatakan ini dengan keras. Namun sepertinya bukan kehendak saya
untuk mengatakannya.

KESAKSIAN NILUS, SEORANG BUDDHIST AMERIKA YANG BERTOBAT DAN MENJADI
KRISTEN ORTHODOX

Saya telah menjadi seorang Buddhis selama sepuluh tahun. Saya
ditahbiskan menjadi Buddhis (awalnya saya adalah kristen Lutheran)
setelah tujuh tahun belajar dengan guru saya dari garis keluarga kecil
dari Silsilah Nyingma Vajaryana (Tibet) Buddhisme. Saya memiliki
seorang Guru Spiritual dalam garis keturunan yang saya cintai dan
tetap saya cintai hingga sekarang. Melalui instruksinya saya mulai
melihat dunia dengan lebih luas melalui mata hati.

Saya kemudian ditahbiskan sebagai Ngakpa dalam Silsilah Nyingma.
Ngakpa adalah penahbisan tantra (pengajar Buddha). Meskipun ada nazar
(damsig), nazar itu tidak didasarkan pada selibat atau pantangan dari
daging dan alkohol. Sangha (sumpah) kami tidak meninggalkan
keduniawian tetapi mengikuti instruksi dasar dalam tantra dan dzogchen
(suatu pengajaran dalam tradisi Buddha); keduanya berdasarkan
transformasi dari pelepasan keduniawian dan momen pencerahan tiba-tiba
yang muncul sekilas dalam durasi dan intensitas yang mengarah ke rigpa
(keadaan pikiran dan persepsi berdasarkan relaksasi ke dalam keadaan
pencerahan alami). Itu adalah hasil yang terjadi berdasarkan
pengalaman kami, dan bukan disebabkan oleh praktik yang diajarkan
kepada kami.

 Selama bertahun-tahun momen itu tampaknya terwujud dengan cara
melihat dunia lebih dalam melalui kebaikan, rasa syukur dan belas
kasihan. Guru saya dulu mengatakan bahwa agama Buddha adalah sembilan
puluh sembilan persen metode dan satu persen kebenaran. Praktik dalam
agama Buddha digunakan untuk mengembangkan kejelasan dan rasa
kesadaran yang memungkinkan Anda untuk melihat kenyataan, dan tidak
condong oleh pikiran neurotik dan kebiasaan respon.

Kami bertapa tanpa liturgi, dengan cara duduk diam diiringi lagu yoga,
mantra, dan serangkaian latihan fisik psiko-spiritual sebagai inti
dari praktek kami. Saya berziarah ke tempat-tempat suci di Nepal dan
menghadiri retret bersama guru dan saudara dan saudari saya dari
Amerika Serikat, juga da yang dari Wales. Retret itu, baik bersama
maupun individu, sangat berarti bagi saya dalam kehidupan. Dan, saya
dapat dengan pasti mengatakan bahwa saya memiliki beberapa
“penyingkapan” pandangan (‘’pewahyuan’’), pencerahan/pelebaran
perspektif dari pengalaman yang saya kaitkan dengan guru saya dan
melalui praktik yang diajarkan kepada saya.

Suatu sore di akhir Januari 1999 saya pergi ke altar (tempat
sembahyang kaum Bud dhist) saya untuk melakukan meditasi rutin.
Biasanya saya mulai dengan lagu dan mantra yoga dan kemudian diam
duduk. Saya menyalakan lilin di altar dan setelah menyelesaikan lagu
dan mantra, saya memulai latihan diam saya. Saya tidak bisa mengatakan
dengan tepat berapa lama saya telah duduk  diam ketika tiba-tiba saya
mendengar suara dari saya sendiri yang berkata dengan suara  yang
cukup keras, “Saya merindukan Yesus.” Saya sendiri yang mengatakan ini
dengan suara cukup keras. Kata-kata itu sepertinya datang melalui
pikiran saya yang menghendaki saya untuk  mengucapkannya. Itu bukan
berasal dari eksternal, tetapi jelas dari saya sendiri yang
mengatakannya.

Ketika saya mengatakan “Saya merindukan Yesus” saya memang benar-benar
dipenuhi dengan kerinduan ini. Saya tidak tahu apakah ada kata-kata
lain lagi untuk menyebutnya. Saya sakit. Saya terluka di dalam. Saya
merasakan kerinduan mutlak ini dan saya sendiri tidak tahu bagaimana
itu bisa terjadi. Saya mencoba untuk mengumpulkan kembali perhatian
dan kesadaran saya untuk melanjutkan meditasi. Seringkali dalam
meditasi seseorang mengalami persepsi yang luar biasa, mencium bau,
ilusi visual, mendengar suara, atau anomali psiko-spiritual yang bisa
mengalihkan perhatian dari fokus meditasi. Biasanya seseorang pertapa
dilatih untuk tetap konsentrasi bermeditasi.

Pikiran datang dan pergi, tetapi metode yang saya gunakan adalah
mencoba untuk tidak melekat pada pemikiran apapun sehingga bisa tetap
fokus bermeditasi. Jadi saya mencoba melihat pengalaman ini sebagai
pengalaman meditasi, yang mana itu bukan berasal dari usaha saya. Saya
tidak bisa berkonsentrasi lagi dalam meditasi. Saya pikir, mungkin itu
bagian dari pengalaman masa kecil yang memproyeksikan manifestasi
memorinya melalui pikiran saya saat meditasi. Kenangan tentang cinta
dari ibu dan ayah yang tidak saya dapatkan, saat saya masih anak-anak
di bawah umur, waktu masih menjadi Kristen. Orang tua saya adalah
orang Kristen Presbiterian Lutheran, hanya karena itu adalah gereja
yang dekat dengan rumah kami. Dan mereka  bukan orang-orang yang suka
membaca alkitab.

Saya mengakhiri sesi meditasi saya dan pergi ke dapur dan mulai
mencuci piring. Saya melakukan pekerjaan rumah tangga saya dan
berusaha untuk tidak terlalu memikirkan pengalaman tadi, namun rasa
rindu yang aneh itu tak kunjung hilang. Sepertinya saya tidak bisa
melupakan pengalaman itu, tidak peduli bagaimanapun saya berusaha. Ada
kerinduan yang aneh ini dalam diri saya, yang mana saya tidak bisa
mengabaikan atau menjelaskannya. Saya belum memberitahukan hal ini
kepada istri saya, dan tidak bisa berhenti memikirkannya atau
menemukan kelegaan dari rasa sakit dalam hati. Kami biasanya melalui
malam dengan cara yang biasa, menonton televisi sebentar, mengobrol
dan kemudian saya pergi ke studio pribadi saya untuk melukis. Saya
seorang seniman dan studio saya terhubung dengan pondok kami dan saya
tidur di sana hampir setiap malam jika melukis sampai larut malam.
Setelah lelah membuat beberapa coretan di kanvas, saya mulai pergi
tidur.

Malam itu, kira-kira jam tiga pagi, saya dibangunkan oleh suatu
“kehadiran” di kamar saya. Itu adalah kehadiran ‘’Sang Kerinduan’’.
Saya tidak tahu harus menyebutnya apa lagi. Saya merasakan “kehadiran
Sang Rindu” di kamar. Namun saya juga berpikir, mungkin ada orang yang
masuk ke dalam rumah. Maka saya turun dari tempat tidur dan memeriksa
semua kamar.. Tidak ada seorang pun (selain istri saya) di rumah dan
dia masih tertidur lelap. Lalu karena sudah terlanjur bangun, maka
saya memutuskan untuk melakukan beberapa meditasi sebentar dan pergi
ke altar saya di studio. Saya melakukannya sekitar … mungkin selama
tiga puluh sampai empat puluh lima menit dan kembali tidur. Keesokan
paginya saya memastikan semua pintu-pintunya terkunci dan dengan agak
gelisah melihat sekeliling rumah untuk melihat apakah saya dapat
menemukan apa pun yang dapat menjelaskan “kehadiran Sang Rindu”. Kami
tidak memiliki hewan peliharaan dan saya bertanya kepada Diane (istri
saya) apakah dia bangun di malam hari. Dia bilang dia telah tidur
dengan lelap, tak terbangun dan balik bertanya, apakah ada sesuatu
yang salah. Saya mengatakan kepadanya bahwa saya terbangun semalam dan
tidak bisa tidur untuk sementara waktu. Saya ragu-ragu untuk
mengatakan apa-apa tentang rasa “kehadiran Rindu”. Saya tidak ingin
menakut-nakutinya dan saya tidak ingin dia berpikir saya gila.

Malam berikutnya saya kembali “dipanggil” terjaga. Saya tidak bisa
memberi tahu anda apa itu, selain kembalinya “kehadiran” itu di dalam
ruangan. Tidak ada lampu, tidak ada halusinasi, tidak ada suara, tidak
ada pencuri, tidak ada hal-hal yang ‘’horror’’, namun yang paling
pasti adalah perasaan bahwa saya dipanggil bangun oleh suatu
kehadiran. Saya hanya bisa mengatakan bahwa itu adalah “kehadiran
Kerinduan.” Saya sakit di dalam dan terluka dan rindu untuk sesuatu
yang tidak bisa saya ungkapkan. Saya merasa seperti telah pergi satu
juta mil dari rumah.

Sebelumnya anda perlu mengerti bahwa hidup saya cukup bahagia. Saya
dan istri sudah menjalani pernikahan selama dua puluh lima tahun, dan
kami saling mencintai. Kami berdua adalah seniman dan memiliki bisnis
yang bagus
di bidang itu. Kami memiliki sebuah pondok dan taman kecil di
California Utara, di sebuah kota di pinggir pantai dekat San Francisco
yang kami sukai. Saya memiliki guru spiritual yang luar biasa dan saya
telah mengambil sumpah dan berkomitmen pada Silsilah dan jalan Buddhis
saya. Dan saya cukup sehat untuk pria gemuk berusia lima puluh tahun.
Segala hal umumnya baik-baik saja. Tidak ada krisis besar.

Namun tidak ada yang bisa menjelaskan pengalaman yang saya alami atau
rasa rindu yang luar biasa yang saya rasakan. Saya merasa seperti
sedang jatuh cinta, tapi tidak tahu dengan siapa atau apa. Saya
seperti remaja laki-laki yang sedang jatuh cinta. Saya tidak bisa
berhenti merasakan sakit dan kerinduan dan kebingungan ini. Itu semua
dimulai ketika saya berkata “Saya merindukan Yesus” namun saya tidak
percaya itu benar-benar sumber perasaan ini. Itu harus menjadi sesuatu
yang lain. Tapi aku tidak tahu apa. Saya telah mencoba memilahnya
secara rasional, membuat inventarisasi sumber-sumber yang mungkin,
motif, peristiwa, yang bisa menjelaskan perasaan aneh ini. Namun saya
malah terjebak. Tidak ada yang saya daftarkan yang tampaknya menjadi
alasan untuk menjelaskan pengalaman ‘’kehadiran’’ di kamar saya pada
waktu malam.

Setiap malam selama seminggu saya merasa ‘’dipanggil’’ dan terbangun
pada jam tiga. Saya mulai menjadi sedikit takut. Saya tidak punya
penjelasan tentang apa yang terjadi dan tidak tahu bagaimana harus
menghadapinya. Saya menyadari itu melampaui apa pun yang pernah saya
alami dan berharap guru saya dapat membantu saya untuk memahami dan
mengatasi pengalaman ini. Jika ada yang tahu apa yang terjadi, itu
dia. Saya akhirnya menghubungi guru saya di Wales dan menjelaskan
seluruh rangkaian pengalaman .. Dia memberi saya nama “dewa” Tibet
untuk dipanggil dan mantra yang terkait dengan “Kesadaran Wujud”
(sangha (guru) kami menggunakan istilah Wujud Kesadaran sebagai lawan
dari istilah tradisional ‘dewa’). Dia mengatakan bahwa saya harus
terus melakukan meditasi dan melafalkan mantra yang dia berikan
padaku.

Malam itu saya terbangun lagi oleh rasa “kehadiran”. Saya pergi ke
altar dan menyalakan lilin. Saya duduk dalam meditasi, dan diam untuk
sementara waktu sebelum menggunakan mantra dan memanggil dewa Buddhis
yang telah diinstruksikan kepada saya untuk digunakan. Itu adalah
meditasi yang hebat. Ada ketenangan yang dalam dan saya merasakan
ketenangan dan keheningan yang seolah menembus ruangan. Saya memanggil
nama sang Kesadaran seperti yang diperintahkan oleh ‘’Rinpoche’’
(istilah kehormatan untuk seorang Vajrayana atau guru, yang secara
harfiah berarti Permata Berharga). Yang mengejutkan adalah, saya
mendengar suara yang mengatakan, “Aku bukan itu.” Saya tidak bisa
memberitahu anda dari mana suara itu berasal. Kedengarannya seperti
suara saya meskipun saya tidak ingat benar-benar mengucapkan kata-kata
itu. Saya tidak dapat memberi tahu Anda dengan tepat apakah suara itu
dari dalam atau dari luar, tetapi itu adalah suara yang dengan jelas
dan khas mengatakan, “Aku bukan itu.”

Saya benar-benar terguncang. Saya duduk tercengang dan terdiam. Saya
bangun dan pergi ke luar. Mungkin saat itu sekitar jam setengah empat
pagi dan ada bulan pucat yang terlihat di atas lautan awan. Aku duduk
di tangga depan pondok kami dan mulai menangis.  Itu adalah kerinduan
dan rasa sakit di dalam yang tidak kunjung berkurang tetapi tampaknya
malah meningkat. Saya kehabisan akal dan tak tahu apa yang sebenarnya
sedang terjadi. Saya hanya bisa menangis dan menangis. Akhirnya saya
mengangkat kepala dan bertanya, “Siapa kamu?”

Ketika saya mengucapkan kata-kata itu, sesuatu yang luar biasa
terjadi. Tolong mengerti bahwa saya tidak memiliki rasa kepatutan
tentang hal ini. Saya bahkan tidak punya cara untuk menjelaskan
caranya atau mengapa itu terjadi. Saya merasa yang paling bodoh. Saya
tidak punya hak untuk mencoba menjelaskan apa yang terjadi atau untuk
mencoba dan mengatakan. Tetapi ketika saya mengucapkan kata-kata itu,
saya dipenuhi dengan Cahaya yang lembut. Saya tahu itu sulit untuk
dipahami tetapi saya dipenuhi dengan Cahaya ini. Itu tidak terlihat di
akal biasa. Itu adalah luminositas (cahaya pencerahan) yang memenuhi
saya. Saya tidak bisa menggambarkan Cahaya apakah itu, atau
menggambarkan bagaimana cahaya itu bisa membawa “pengetahuan.” Tapi
aku tahu bahwa Cahaya itu telah masuk ke dalam diri saya dan mengenal
saya secara pribadi. Saya tahu itu tampaknya tidak mungkin tetapi itu
telah terjadi.

Cahaya itu tidak hanya mengenalku, Nilus, seorang yang pemarah dan
kasar, tapi Ia mencintaiku, benar-benar mencintaiku. Maafkan anggapan
saya tapi itulah yang saya rasakan. Saya tidak punya cara untuk
memberi tahu Anda bagaimana saya tahu itu, tetapi saya tahu. saya
tidak tahu bagaimana seharusnya menyebutnya. Saya merasa canggung
mencoba mengatakan Tuhan atau Kristus, namun saya merasa itu
benar-benar sesuatu yang berhubungan dengan Tuhan dan Logos Kristus.
Saya tidak bisa memaksa diri untuk mengatakan itu, dan tampaknya
terlalu mustahil dan penuh dengan semua kepahitan yang saya alami dulu
saat masih menganut agama Kristen (Kristen Protestan masa kecil saya).
Saat itu mustahil untuk mengucapkan kata-kata itu dan saya merasa
seperti sepotong kayu telah patah.

Saya tahu itu adalah Cahaya Cinta. Saya merasakan Cinta. Saya
merasakan Cinta Ilahi. Saya merasakan Cinta itu datang kepada saya
secara pribadi, seolah Ia memanggil nama saya, dan datang dalam diri
saya. Namun itu sepertinya juga selalu ada di dalam diriku tapi aku
tidak mengetahuinya. Itu seperti masuk dan meledak secara bersamaan.
Saya tahu itu sulit untuk dibayangkan dan saya tidak punya kata-kata
yang lain yang dapat saya gunakan untuk mencoba dan menjelaskannya.
Jika ada cara lain bagi saya untuk memberitahu Anda tentang pengalaman
ini dengan cara yang lebih jelas, maka saya akan melakukannya.

Saya berlutut dan bersujud di tanah. Saya tidak tahu berapa lama,
namun pastinya saya ada di sana tetapi akhirnya saya duduk kembali di
tangga dan menangis lagi. Saya tidak memiliki cara untuk menjelaskan
apa yang saya rasakan. Mungkin salah untuk mengatakannya tetapi saya
merasa kata-kata hilang saat Cahaya itu masuk dan saya merasakan
“pengetahuan” dalam diri saya yang sepertinya dilahirkan dengan Cinta.
Saya tahu bahwa Tuhan mengasihi saya namun saya tidak dapat
mengucapkan kata ‘’Tuhan’’. Saya tahu bahwa Kristus memanggil saya
meskipun saya tidak dapat mengucapkan kata ‘’Kristus’’.

Saya telah mencapai beberapa realisasi dalam agama Buddha, beberapa
hal kecil mengenai Gambaran Besar, melalui guru dan latihan, tetapi
itu semua tidak ada bandingannya dengan pengalaman ini. Saya merasakan
Cahaya itu bersinar di dalam diri saya dengan Cinta dan pengetahuan.
Itu bukan cahaya biasa, walaupun terlihat bersinar di luar, namun saya
juga merasa cahaya itu bersinar di dalam diri saya. Saya tidak tahu
apakah Tuhan merindukan saya atau saya merindukan Tuhan. Sepertinya
kami bertemu dalam kerinduan. Untuk pertama kalinya Kerinduan hadir
dalam bentuk pengalaman akan kehadiran Tuhan dan hubungan saya
dengan-Nya.

Dalam agama Buddha kami sering berbicara tentang menemukan kehadiran
kesadaran kita dalam suatu keadaan hidup. Dalam tantra, semua yang
dialami menghadirkan kemungkinan mengalami pencerahan pada saat itu.
Praktik ibadah kami sering didasarkan pada penemuan akan kehadiran
kesadaran dalam emosi atau situasi kehidupan yang kita alami. Saya
tampaknya telah menemukan kehadiran kesadaran saya dalam kerinduan dan
oleh Tuhan sebagai Cahaya dan Cinta.

Untuk pertama kalinya dalam hidup saya ada Cinta Ilahi, Cinta yang
mengenal namaku. Saya tidak tahu berapa lama saya duduk di tangga.
Langit tampak cerah tapi aku tidak bisa mengatakan apapun ketika saya
masuk ke dalam. Saya akhirnya pergi tidur tetapi saya tidak ingat
persis kapan itu terjadi.

Keesokan paginya, saya memberi tahu istri saya apa yang terjadi, dan
saya mengatakan bahwa Cahaya Itu bukan sekedar Cahaya Yang Mengetahui
Namaku, dan yang telah masuk ke dalam diriku. Saya tidak tahu istilah
lain apa untuk menyebutnya. Saya bisa menggambarkan pengalaman itu
tetapi saya masih tidak bisa mengatakannya dengan jelas, kata
‘’Tuhan’’. Juga saya tidak bisa mengucapkan nama ‘’Kristus’’.

Saya hanya menyebutnya sebagai : Cahaya Yang Mengetahui Nama Saya.

Tentu saja istri saya, sebagai orang California yang baik, bertanya
apakah saya diguna-guna. Kami berdua tertawa. Tetapi yang penting dia
sudah mau mendengarkan dan saya memberi tahu dia detailnya. Saya tahu
pada saat itu bahwa semuanya telah berbeda. Entah bagaimana Cinta
telah memasuki diri saya, dan itu telah meruntuhkan gambar dan
kehidupan sebagaimana yang saya tahu .

Guru saya adalah seorang ateis, dan ajaran Buddha yang saya pelajari
tentu saja tidak menyajikan gagasan tentang Tuhan Sang Pencipta,
maupun keilahian yang merupakan sumber Cinta. Kami berbicara tentang
belas kasih dan kebijaksanaan, kebaikan, dan kesadaran tetapi jarang
kata cinta disebutkan, dan tentu saja tidak dalam konteks Cinta Ilahi.
Istri saya takut jika saya memberi tahu sang guru. Tidak peduli
seberapa banyak kita bercanda tentang itu, dia percaya bahwa apa yang
semua saya alami benar terjadi. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi
dengan saya selanjutnya. Saya juga tidak tahu. Sebelum hal ini
terjadi, semuanya telah menjadi cukup stabil dalam hidup kami. Namun
sejak malam itu, semuanya jadi terguncang. Saya dan istri
merasakannya.

Ketika Cahaya Yang Mengetahui Namaku itu menyusup ke dalam diriku
sendiri, aku jadi bisa mengetahui hal-hal yang tidak dapat saya
jelaskan. Saya mengalami Cinta pribadi dari sebuah Sumber, dan hal itu
melebihi apa pun yang pernah saya alami sebelumnya. Itu luar biasa
indah dan menakutkan pada saat yang sama.

Mengapa saya tidak bisa mengucapkan kata Tuhan atau Kristus? Apa yang
menahanku ? Sepertinya berpikir tentang hal ini saja terasa cukup
menakutkan juga. Namun di saat yang sama, untuk pertama kalinya, di
sisi lain sepertinya mengatakan hal itu juga mungkin. Mungkin saja
inilah yang dimaksud dengan Cinta Tuhan. Mungkin saja ini adalah
sebuah pengalaman tentang Kristus. Saya kira dalam beberapa hal itu
terlalu tidak keren untuk dikatakan. Saya tentu tidak ingin menjadi
orang Kristen. Saya telah menuduh orang Kristen sebagai orang munafik
dan idiot selama bertahun-tahun. Sebagai seorang Buddhis saya merasa
lebih baik dari mereka, dan saya masih tidak memiliki niat untuk
menjadi seorang Kristen atau keinginan untuk mengeksplorasi
kekristenan. Saya tidak pernah benar-benar bisa menyingkirkan konsep
Tuhan meskipun Rinpoche (Guru Buddhis) mengatakan bahwa saya harus
berurusan dengan gagasa tentang Tuhan, termasuk dalam hal yang saya
anggap tidak baik. Aku menyalahkan Tuhan untuk banyak hal dalam hidup
saya dan dia berkata untuk tumbuh secara spiritual saya harus
melepaskan konsep menyalahkan. Dia benar.

Satu dunia terbuka dan yang lain jatuh. Sumpah yang telah aku  buat
menjadi Ngakpa diambil sebagai sumpah seumur hidup. Komitmen yang saya
buat adalah komitmen “panjang umur” baik untuk guru saya dan garis
keturunan saya. Sekarang aku menghadapi fakta bahwa ada Pencipta
Cinta, Sumber Cinta dan Roh Cinta, dan hal-hal itu tidak dapat
dijelaskan dalam Buddhisme, dan dari pengalaman saya, sebuah kenyataan
yang tidak bisa disangkal. Ateisme guru saya tampaknya menghalangi
kemungkinan dia memahami kenyataan yang baru saja terjadi dalam
hidupku. Saya kini mengalami pengalaman yang tampaknya akan mengubah
ajaran Buddha saya. Struktur yang kami lakukan dalam latihan dan
instruksi guru saya sepertinya terbatas dan saya harus mengakui tidak
lengkap. Saya tahu guru saya salah tentang Tuhan.  Namun apa yang akan
saya lakukan?

Pantelemon David Walker adalah seorang ahli akupunktur, yang mana saya
adalah customer setianya, dan ia adalah jemaat dari Gereja Ortodoks di
Amerika. Kami telah membahas Buddhisme dan Kristen selama
berbulan-bulan saat dia mengakupunktur saya. Minggu depan saya punya
janji dengan dia. Setelah kami saling menyapa dia berkata, “Saya punya
buku untuk Anda, saya pikir Anda akan menikmatinya.” Buku itu berjudul
: Kristus Sang Tao Abadi oleh Hieromonk Damaskus. Malam itu saya
membaca buku tersebut. Saya tidak tahu kapan saya pergi tidur tetapi
saya membaca selama berhari-hari dan itu memberi saya dasar untuk
memilah pengalaman yang saya alami sehubungan dengan Cahaya Yang Tahu
Namaku itu.

Saya tahu ada Sumber Cinta dan Energi Cinta namun saya ragu untuk
menyebutnya Roh Kudus. Saya telah meninggalkan kekristenan masa kecil
saya jauh di belakang. Itu adalah kata-kata yang masih tersangkut di
tenggorokanku.

David menyarankan saya mencoba untuk menghadiri gereja Ortodoks dan ia
menyebutkan OCA (Orthodox Church of America), sebuah Gereja Orthodox
di San Fransisco. Namun itu tampak terlalu aneh, karena tampaknya akan
terlalu banyak komitmen untuk agama baru ini. Saya menginginkan
sesuatu yang tidak didasarkan pada institusi.  Lagipula aku adalah
seorang Buddhis. Mengapa saya harus ditarik ke agama lain, terutama
Kekristenan ? Saya telah membuat komitmen kepada guru dan garis
keturunan saya, bahwa saya tidak seharusnya mengeksplorasi segala
bentuk ibadah lainnya.

Tapi agama Buddha tidak membahas atau mengakui pengalaman yang baru
saja saya alami dalam kaitannya dengan Yang Ilahi. Saya tahu persis
seperti saya tahu hal lain bahwa pengalaman yang saya miliki tentang
Cahaya Yang Mengetahui Nama-Ku adalah nyata dan benar. Guru saya
berkata bahwa tidak ada Tuhan, namun saya tahu bahwa saya telah
mengalami Cinta Ilahi secara pribadi.

Saya menolak gagasan tentang gereja, namun Ortodoksi memiliki
kontemplatif kuno yang tradisi dan cara kerjanya dapat memperdalam dan
memperluas transformasi diri dalam hubungannya dengan Tuhan. Buku Romo
Damaskus membuka pemikiran saya pada kemungkinan setidaknya
mengeksplorasi sebuah tradisi Kekristenan yang jauh melampaui tradisi
Kristen mana pun yang pernah saya dengar.

Saya menghubungi Katedral Tritunggal Mahakudus(sebuah Gereja OCA di
San Francisco.) Seorang pria menjawab telepon dan saya bertanya apakah
saya bersedia menerima pelayanan dalam bahasa Inggris. Dia berkata
dengan aksen Rusia yang kental “rusak”. Aku jadi tertawa. Saya
menanyakan jadwal Liturgi dan berterima kasih atas informasi yang dia
berikan.

Pada hari Minggu tanggal tujuh Februari saya bangun dan berpakaian dan
memberi tahu istri saya bahwa saya akan ke gereja. Dia terkejut. Apa?
dia berteriak. “Aku tahu, jangan tanya. Aku akan kembali sebentar
lagi.”

Saat itu hujan deras dan jalanan cukup sepi. Saya berkendara ke San
Francisco dan memiliki gagasan samar tentang gereja dengan kubah biru
di pusat kota. Daftar Katedral Tritunggal Mahakudus ada di Green
street dan ssaya menuju ke arah itu. Saya akhirnya melihat kubah dan
salib. Tidak ada tempat
parkir di sekitar area itu sehingga ketika saya mendekati saya berkata
pada diri sendiri. “Jika ada parkir saya akan berhenti, jika tidak,
saya akan pergi ke Burger King.” Begitu aku mengatakannya tiba-tiba
ada sebuah mobil keluar dari ruang di seberang gereja. “Oke, oke aku
akan parkir.” Aku berjalan ke
gereja pada tanggal 7 Februari 1999. Saya belum mengetahuinya pada
waktu itu, namun kini saya paham bahwa saat itu, saya seperti Anak
Hilang yang pulang ke rumah.

Dalam Tantra semua medan indera digunakan dalam latihan seseorang.
Perasaan tidak ditolak, tetapi digunakan untuk membuka dan mengalami
ketenangan saat akan memasuki pencerahan. Ketika saya masuk ke gereja,
saya merasakan tampilan cahaya yang luas ini dan wewangian. Saya
disambut di pintu . Ketika ditanya apakah saya seorang kristen
Ortodoks, Saya menjawab dengan cepat (dan mungkin dengan kasar) saya
bukan seorang Kristen, saya Buddhis. Saya berdiri di belakang dan
memperhatikan. Saat Liturgi memulai lantunan dan bacaan, ada perasaan
aneh yang sepertinya memenuhi ruangan sebanyak cahaya dan wewangian.
Seluruh ibadah tampaknya menjadi ritual seluaruh indera. Saat itu saya
merasakan sesuatu yang luar biasa dan itu membuatku takut setengah
mati. Namun walau demikian, ada juga sesuatu yang terasa benar.

Setelah ibadah usai, saya diminta untuk bergabung dengan orang-orang
untuk makan siang. Ya. Ada percakapan yang bagus dan bahkan ada
beberapa orang yang berminat untuk memahami agama Buddha yang saya
anut. Saya pergi dengan perasaan seperti saya telah menemukan jenis
Kekristenan baru. Tentu saja bukan kekristenan masa kecil saya. Jadi
saya memutuskan untuk kembali pada hari Minggu berikutnya.

Saya juga mulai datang ke beberapa ibadah malam. Saya mulai
mendengarkan kata-kata dalam liturgi, dan kagum pada apa yang sedang
dibacakan. Saya tidak pernah mendengar tentang sebuah teologi yang
dinyanyikan dan dilantunkan bersama dengan bacaannya. Lebih dalam lagi
saya mulai menyadari bahwa ada kekristenan dalam Ortodoksi yang lebih
luas dan lebih dalam daripada yang saya tahu. Dan saya mulai mendengar
referensi tentang Cahaya yang sepertinya memiliki banyak kesamaan
dengan pengalamanku tentang Cahaya Yang Tahu Namaku itu. Bahkan ada
pangajaran teologi yang mengakui adanya Terang itu dan menggunakan
Terang itu sebagai deskripsi tentang bagaimana Tuhan, Logos, dan Yang
Kudus sebagai Panggilan jiwa dan cinta.. Saya mulai merasa lebih
nyaman dengan kata-kata Tuhan dan Kristus. Tentu saja istri dan
teman-teman saya merasa sangat tidak nyaman ketika mendengar saya
mulai menggunakan kata-kata yang ditakuti itu. Kebanyakan orang
menjadi diam ketika mereka mendengar saya menghadiri gereja Kristen,
apalagi gereja Kristen Ortodoks. Saya masih menghadiri kegiatan
kelompok Buddhis saya dan tahu bahwa ketika guru saya tiba di bulan
Maret nanti, kami harus berbicara. Saya merasa seperti sedang
menyelinap pergi ke Gereja Kristen dan saya tidak ingin melakukan itu.
Tapi saya harus mencoba dan memilah-milah penglaman saya itu dan saya
merasa gereja menawarkan beberapa kemungkinan untuk jawaban itu, yang
mana baik guru maupun garis keturunan Buddhis saya sepertinya tidak
bisa menjelaskan.

Buku Romo Damaskus telah menjadi katalis untuk eksplorasi itu dan
terungkapnya gereja dalam hidup saya tampaknya merupakan perkembangan
yang hampir alami dari pembacaan awal bukunya itu. Semakin saya
menghadiri ibadah, semakin saya merasa seperti ini adalah tempat saya
bisa merasa nyaman sebagai seorang Kristen. Meskipun saya sadar bahwa
saya tidak pernah menggunakan kata itu. Saya tetap melawan. Saya masih
menggantung kembali.  Saya masih mengintai di belakang saat ibadah di
gereja, dalam bayang-bayang lilin sebanyak di lampu. Saya melawan dan
menolak sujud dan menyilangkan tanda salib. Itu masih terlalu jauh.
Saya masih seorang Buddhis. Saya baru saja mengunjungi agama Kristen.
Itu cara saya masih bisa hadir dan menjelajah tetapi tidak membuat
komitmen.. Suatu malam, seorang jemaat bernama Matushka Barbara datang
menghampiri saya yang sedang berdiri sendirian di belakang, dan
bertanya apakah saya ingin belajar cara membuat tanda salib. Ya, jawab
saya. Ketika saya mengatakan ya, saya terkejut sendiri.

Saya tahu ini tampak aneh, tetapi membuat tanda salib telah membuat
perbedaan dalam cara saya melihat diri saya sendiri dan bagaimana saya
mulai beribadah. Itu adalah tanda pertama yang akan saya buat di depan
umum yang menandakan bahwa saya memercayai agama Kristen dan mulai
melihat diri saya di dalam bingkai Kristen. Ini sulit untuk
dijelaskan. Ini tindakan yang sederhana tetapi dalam banyak hal itu
menjadi tindakan pengakuan Kristen pertama saya. Itu menjadi tanda
pertama bahwa saya “mengenakan Kristus.”

Saya dibesarkan untuk membenci kepausan. Ayah saya adalah seorang
Lutheran Jerman dan dia membenci gereja Katolik. Saya juga masih
memiliki perasaan itu dalam diri saya. Tetapi ketika saya membuat
tanda salib pada malam itu dan malam-malam lainnya ketika saya mulai
semakin sering menghadiri ibadah dan melihat ke dalam Ortodoksi untuk
menemukan jawaban dan bentuk baru dari iman/kepercayaan.

Dalam Buddhisme Vajrayana, Anda memandang guru Anda sebagai makhluk
yang tercerahkan yang mewakili sepenuhnya jalan Anda menuju tujuan
itu. Seseorang bersujud kepada gurunya sebagai tanda penghormatan
penuh dan sebagai tanda ketergantungan padanya untuk kemajuan dan
realisasi spiritual. Saya juga akan bersujud kepada guru saya demi
tujuan itu.

Di gereja Ortodoks seseorang bersujud di hadapan Allah, di hadapan
Kristus, di hadapan Roh Kudus. Seseorang sujud di hadapan ikon
orang-orang kudus sebagai tindakan pengabdian dan rasa hormat. Saya
masih tidak akan melakukannya. Ada sesuatu kekerasan hati dalam diriku
yang bahkan tidak masuk akal bagi saya. Saya tahu adalah aneh bahwa
saya bisa bersujud di depan seorang guru manusia, namun tidak mau
melakukannya terhadap Tuhan. Entah bagaimana rasanya lebih mudah untuk
mempercayai seorang manusia daripada Ilahi. Saya akan membuat tanda
salib, tetapi saya tidak akan sujud. Memang benar bahwa saya telah
ditarik dari tempat tidur, dan dipanggil ke tempat yang bahkan
sepertinya belum pernah aku dengar, dan memiliki pengalaman Cahaya dan
Cinta yang luar biasa secara pribadi, namun kebanggaan dan keras
kepala saya masih menolak ekspresi pengabdian yang lebih kaya dan
lebih lengkap. Saya tidak membungkuk. Saya tidak akan sujud di hadapan
Tuhan. Sesuatu dalam diri saya masih sangat menolak panggilan Kristus
dan gereja Ortodoksi.  Meskipun aku tahu bahwa aku tidak bisa kembali.

Tibalah Masa Prapaskah Besar yang adalah merupakan waktu evaluasi
spiritual yang intens bagi umat kristen Orthodox. Seluruh gereja
Orthodox bersama-sama memulai perjalanan menuju Yerusalem bersama
Kristus. Seluruh waktu empat puluh hari masa puasa pra paskah menjadi
drama kosmik yang jarang saya alami dalam agama Buddha.

Saya telah menghadiri ritual panjang dalam agama Buddha. Saya
kadang-kadang merasa bahwa waktu telah berjalan lebih cepat dari yang
saya duga. Tapi saya tidak pernah mengalami waktu dalam cara “abadi”.
Saya tahu lagi betapa sulitnya hal itu untuk dipahami, tetapi
peningkatan durasi serta intensitas ibadah dan Liturgi tampaknya telah
melebur menjadi keabadian yang belum pernah saya rasakan dengan
sungguh-sungguh. Setiap kata dari himne dan lantunan ayat tampaknya
diarahkan pada saya. Setiap ayat tentang ketersesatan dan kebingungan
dan dikenakan oleh keadaan hidup serasa dibacakan untuk saya. Saya
ditemukan oleh Cinta tapi saya masih merasa kalah. Saya pergi setiap
malam dengan perasaan bahwa semua yang telah dinyanyikan, dibacakan,
atau dilantunkan adalah apa yang sebenarnya ingin saya ucapkan, jika
saya bisa mengatakan sesuatu yang indah dan benar. Saya mendengarkan
paduan suara menyanyikan pujian yang ingin saya nyanyikan dan baca,
namun entah kenapa kata-kata itu tidak bisa keluar dari mulut saya.
Terlebih lagi ketika masa Prapaskah, lantunan dan pembacaan ayat
menjadi terasa semakin dalam dan menjadi lebih luas, dan harus saya
katakan, lebih terasa kesedihannya. Saya mulai mengalami waktu di
gereja tidak seperti waktu lainnya.

Meskipun menghabiskan berjam-jam dalam meditasi dan berminggu-minggu
dalam kesendirian, waktu tidak pernah menjadi begitu tenang. Ibadah
agung masa Prapaskah mulai mengubah saya. Satu malam selama ibadah
ratapan agung (demikian namanya kalau tidak salah), lutut saya terasa
ditekuk. Aku merasa diriku berlutut di hadapan Tuhan dan saya merasa
sangat tidak enak karena menahan diri. Aku merasa seperti orang bodoh
nan idiot yang sombong. Segala sesuatu dalam diri saya telah memberi
tahu saya tentang kebaikan hati dari sang Kristus yang Agung dan aku
telah menolak pelukan-Nya. Ketika kepalaku menyentuh lantai, Tuhan
menghancurkan hatiku. Aku menangis. Saat Romo Victor datang sambil
membawa Ikon di dekat saya, saya tahu dia mendengar saya menangis. Aku
tidak bisa berhenti menangis. Aku sangat malu. Saya merasa sangat
pasrah. Ada orang-orang yang telah bersama saya secara teratur selama
berminggu-minggu yang berdiri di dekat saya di gereja. Mereka pernah
menyaksikan saya yang tadinya masih sombong dengan keBuddhisan saya.
Mereka tampak mundur untuk memberi ruang kepada saya. Mereka
sepertinya membuat tanda salib dan masih menahan diri. Dan sekarang
mereka melihat lututku menekuk dan kepala saya menyentuh lantai kayu
dan saya menangis ketika Tuhan menghancurkan hati saya.

Dia menghancurkan hatiku di sana. Saya bisa menunjuk ke tempat dimana
Dia telah memanggilku untuk datang kepadaNya. Dia telah memasuki saya
sebagai Cahaya. Dia sekarang menghancurkan hatiku. Saya tidak bisa
menjelaskannya lebih jelas. Tuhan menghancurkan hatiku dan
kesombonganku dan kesendirianku dan telah membuatku sangat kesepian.
Dia menahanku dalam waktu dan Cinta dan aku merasa tidak layak sedikit
pun.

Sekarang saya benar-benar membutuhkan Sang Cinta. Saya adalah seorang
pengemis. Ya saya seorang pengemis. Kebaktian malam menjadi lebih
sering saya hadiri secara intens. Istri saya marah setiap saya mau
pergi ke ibadah gereja.  Saya sering pergi dan kami sering berselisih
paham karena hal itu. Saya memang tidak terlalu membutuhkan dukungan
untuk melanjutkan langkah ini menuju Jalan Kristen. Teman-temanku
mengira aku gila. Beberapa anggota dari komunitas Sangha Buddhis saya
bahkan tidak tahu bahwa saya sekarang sering ikut ibadah di gereja.
Semakin saya tertarik ke gereja, semakin besar kekuatan mereka untuk
menarikku kembali. Kontradiksi dan kemunafikan partisipasi saya
sendiri sebagai seorang Buddhis di sebuah gereja Kristen jelas nyata
bagi saya.

Baru pada malam itu saya menyadari bahwa tidak ada jalan untuk
kembali. Saya sudah berada dalam Cinta dan saya harus sedekat mungkin
dengan Sumber Cinta itu. Saya pikir saya seperti menjadi sedikit gila
untuk sementara waktu. Rasa rindu itu tidak bisa berhenti. Tampaknya
perasaan itu mendapatkan momen yang lebih dalam saat Masa Prapaskah
Besar berlangsung. Saya  menangis di sana. Saya merasa larut dalam
ibadah dan Liturgi. Saya mendengar bel berbunyi tanda dimulainya
pembacaan Syahadat dan saya harus berpaling dengan air mata.

Saya hanya berdiri di sudut karena saya merasa sangat malu. Saya rindu
berada di depan agar bisa mendengar paduan suara lebih lengkap tetapi
saya hanya berdiri di pojokan dan merasa seperti pengemis yang
dihangatkan oleh api unggun.

Saya menulis surat kepada Romo Damaskus, yang saat itu berada di
Alaska, dan kepada rektor Katedral Trinitas Kudus, Presbiter Victor
Sokolov, untuk memberi tahu mereka tentang apa yang terjadi padaku dan
kebutuhan saya yang semakin besar untuk mempelajari Ortodoksi secara
lebih banyak dan lebih serius. Romo Damaskus menanggapi dengan surat
dan dorongan yang luar biasa. Saya sangat tersentuh oleh kebaikannya.
Saya diminta untuk bertemu dengan Presbiter Victor.

Saya tahu bahwa guru Buddhis saya akan segera tiba dan saya menelepon
dan meminta untuk menjadwalkan beberapa waktu untuk bertemu. Saya
telah melanggar sumpah saya kepadanya bukan karena saya mulai memeluk
agama Kristen tetapi karena saya tidak cukup percaya padanya untuk
memahami pengalaman bertemu dengan  Cahaya yang tahu nama saya itu.
Saya merasa sejak dia mengambil posisi ateis, dia tidak akan memahami
secara apriori esensi dari pengalaman Cahaya. Itu sebenarnya ketika
saya melanggar sumpah saya. Saya telah melanggar kepercayaan guru
dengan murid. Sumpah Buddhis pernah menjadi pusat identitas dan
kehidupan saya. Dan saya sudah berusaha untuk memenuhi sumpah itu.
Saya menyukai Rinpoche. Dan masih menyukainya. Saya merasa ini adalah
tanggung jawab yang luar biasa untuk secara mistis melanjutkan
rangkaian pemikiran dan metode yang membantu orang melihat pola yang
menahan mereka dari masuk dengan tenang ke alam kebaikan ada dan tidak
ada. Saya telah membuat komitmen untuk itu dan saya masih merasakan
komitmen itu dalam diri saya.

Saya bertemu dengan Rinpoche dan kami mulai berbicara. Saya bertanya
apakah kami bisa pindah dari ruang tamu ke kamar pribadinya untuk
beberapa privasi. Saya tahu dia merasakan kegelisahan. Dan mulailah
saya mengatakan kepadanya apa yang telah terjadi, mencoba menjelaskan
tentang pengalaman bertemu Cahaya Itu. Saya pikir dia melihat dalam
diri saya bahwa pengalaman itu nyata. Saya mulai meneteskan air mata.
Saya takut saya telah memotong tali silaturahmi yang selama ini telah
memelihara kami secara rohani. Saya meminta untuk keluar dari garis
energi yang bergerak melalui kosmos seperti sungai ini. Saya merasa
harus keluar dari sungai. Saya akan menjadi mantan Buddhis. Semua
dewa, gambar kesadaran, dan cara memandang dunia yang selama ini saya
pegang, akan saya lepaskan. Para Yidam dan Pelindung saya takan ada
lagi bagi saya. Itu adalah rasa kehilangan yang aneh. Tapi itu sangat
kuat.

Agak tiba-tiba saya meminta untuk dibebaskan dari sumpah saya. Itu
seperti meledak dari mulutku, Saya merasa takut. Saya mendengar
kata-kata saya sendiri meminta untuk dibebaskan dari sumpah dan saya
merasa telah mengkhianati seorang pria yang saya cintai dan yang
sangat mencintai saya. Dia adalah Bapa Rohani saya selama hampir
delapan tahun. Saya tahu bahwa saya telah menyakitinya. Saya
menyakitinya karena dia mencintai saya dan saya tahu itu dan saya
telah membuat komitmen untuk menambahkan ke aliran silsilah ini sampai
semua makhluk terbebaskan. Itu lebih dari sumpah pribadi hanya untuk
dia. Saya tahu itu. Metode melihat dan mengidentifikasi dalam lingkup
luas terhadap segala makhluk dan dunia dan energi adalah pusat titik
referensi hidup saya. Ada aliran pembebasan dalam agama Buddha yang
memiliki kosmologi dan cara pandang tertentu terhadap dunia. Mereka
semua mengacu pada dasar agama mereka pada kasih sayang dan kesadaran.
Saya meminta untuk tidak menjadi terpisah dari lebih dari satu sangha.

Semuanya terukir dalam kesedihan. Rinpoche berkata dia akan
melepaskanku dari sumpah. Dia berkata agar saya menjelajahi Jalan
Kristen selama satu tahun dan jika setelah setahun saya ingin kembali
ke sumpah saya, dia mempersilahkannya. Dia melihat bahwa saya telah
melalui beberapa transformasi tapi saya tidak tahu apa yang dia lihat.
Kelapangan hatinya itulah yang membuatnya saya memandang dia sebagai
guru yang baik. Dia mengubah pola reaksi saya terhadap dunia luar
dalam. Tetapi melalui pengalaman Cahaya Tuhan, saya mulai merasakan
suatu Kekuatan yang tampaknya menguasai diri saya, sehingga saya
mengatakan kepada sang guru bahwa saya tidak akan menahan diri untuk
menjelajahi sedalam yang saya bisa.

Dia mengatakan bahwa jika itu sudah menjadi keputusan saya, maka saya
harus bertanggung jawab untuk menjadi orang Kristen yang baik. Saya
pikir saat itu kami menangis bersama. Begitulah cara saya
mengingatnya. Tapi itu bisa saja hanya aku. Saya lalu pergi dengan
agak shock. Aku merasa seperti seseorang yang telah meninggal. Saya
merasakan perasaan mengerikan ini seperti telah terjadi kecelakaan dan
semuanya berubah dalam sekejap mata. Saat yang mengerikan seperti
seorang anak berusia lima belas tahun yang sedang depresil sambil
memegang pistol dan menyentuh pelatuk. Ada momen kepastian dan
ketakutan yang merobek di mana sesuatu lahir dan sesuatu memudar ke
saat terakhir. Rinpoche selalu mencoba menunjukkan kepada kami
bagaimana mengubah momen-momen itu menjadi titik-titik kesadaran.

Saya sedang mengemudi di atas Bay Bridge dan tiba-tiba saya tersadar
bahwa di luar rasa kesedihan ada suatu rasa keyakinan bahwa keputusan
itu benar. Itu rasa pahit yang aneh yang bercampur dengan kenangan
manis bertemu dengan Cahaya Yang Mengenal Namaku. Saya mulai mengingat
dan mengingat semuanya tentang panggilan di malam hari itu dan saya
mengira ada maling masuk. Saya telah melupakan Tuhan. Itulah masalah
saya. Saya melupakan Tuhan selama dua puluh tahun.

Saya telah dipanggil untuk bangun dan pergi ke gerbang dan diminta
masuk. Saya mencoba untuk mengingat pertama kali saya membuat tanda
salib dan tempat di mana Tuhan menghancurkan hati saya.

Terkadang Tuhan harus memukul kepala kita yang idiot ini sebelum kita
mendapatkan Dia. Ada titik kecil ketenangan ini. Ada ketenangan di
tengah badai. Keraguan dan kesedihan adalah suasana yang mengelilingi
manik-manik kecil dari kepastian akan Cinta Tuhan ini.

Suatu kali di acara film televisi X Files, seorang tokoh bernama agen
Scully mengakhiri film dengan mengatakan sesuatu seperti ini,
“sepertinya Dia (Tuhan) menelepon (mencoba menghubungi) kita sepanjang
waktu, namun tidak ada yang merespon.” Bertahun-tahun yang lalu saya
akan mengatakan itu masalah frekuensi. Sekarang saya pikir itu adalah
soal Rahmat. Akhirnya ada terang untuk menyingkap misteri pertemuan
yang aneh ini. Jadi, rupanya dalam drama hebat ini Sang Sumber Cinta
telah menjadi Firman (Logos) dan Roh untuk memulihkan segala sesuatu
dan memanggil semua orang untuk kembali ke Cinta Ilahi. Itu sejauh
yang bisa saya pahami. Tapi sepertinya memang benar demikian.

Saya mengirim email ke Presbiter Victor untuk memberi tahu bahwa saya
telah dibebaskan dari sumpah Buddhis saya. Saya meminta untuk bertemu
sehingga saya bisa mengetahui caranya berlanjut dari sini. Saya terus
menghadiri ibadah selama Masa Prapaskah Besar. Ketika waktu paskah
tiba, aku lelah. Sebenarnya aku sudah lelah. Saya terkuras dan kosong.
Saya menerima Cahaya  kecil ini dan berdiri di suatu tempat di
belakang. Semuanya telah berubah. Setidaknya menurut saya begitulah
yang terjadi. Namun keseluruhan aliran dan pertemuan keadaan tampak
surut dan mengalir sedikit lebih cepat daripada yang bisa saya ikuti.
Semuanya telah berubah dalam beberapa bulan. Saya seperti terjebak
dalam ‘’Cahaya yang menyilaukan’’.

Saya bertemu dengan Presbiter Victor dan kamipun berbicara. Dia
menyarankan beberapa buku dan mendorong saya untuk terus menghadiri
kebaktian. Dia mengingatkan saya bahwa ada kelompok belajar setiap
beberapa minggu setelah Vesper (sembahyang malam orthodox). Itu adalah
pertemuan yang sangat menyenangkan. Mungkin dia tidak tahu bahwa itu
adalah kabar sukacita bagi saya. Karena itu adalah salah satu nasihat
terpenting dari siapa pun kepada seorang mantan Buddhis yang  sedang
melihat ke arah Kristus. Dia mengatakannya dengan cepat, lalu ia
berhenti dan berkata. “Bahkan pada saat Anda tidak punya apa-apa, saat
Anda tidak bisa menawarkan apa-apa. Pada saat itulah Tuhan menciptakan
dunia’’. Itu adalah perkataan yang sangat sarat makna dan romo Viktor
telah sangat membantu saya untuk menemukan langkah selanjutnya. Saya
menyadari bahwa saya dapat mempersembahkan apa saja kepada Tuhan. Saya
bisa memberinya kesedihan dan depresi saya, kemarahan dan
ketidakpercayaan saya.  Tidak pernah ada satu momen pun sejak saat itu
yang tidak aku persembahkan kepada Tuhan.

Semakin dekat saya pindah ke gereja, semakin tegang situasi di rumah.
Sebenarmya istri saya merindukan agar saya kembali, namun ia tidak
ingin mengatakan secara terus terang kepada saya. Karena ia pikir
setelah duapuluh tiga tahun pernikahan, seharusnya saya bisa memahami
hal itu. Hal yang  juga paling sulit adalah memberitahu teman-teman
tercinta di komunitas Buddhis. Saya meminta izin guru saya untuk
memberi tahu saudara-saudara vajra saya (kerabat terdekat saya di
grup) seluruh kisah saya sehingga mereka akan tahu persis apa yang
terjadi.  Dan setelah saya memberitahu apa yang telah terjadi pada
diri saya, mereka melihat bahwa saya telah menghancurkan sumpah. Itu
sangat menyakitkan dan sulit bagi orang-orang itu untuk mendengarnya.
Kemarahan mereka sebenarnya merupakan tanda pengabdian mereka kepada
Rinpoche. Mereka merasa dikhianati dan terluka dan marah. Saya
dianggap telah memutuskan ikatan spiritual dengan mereka. Mereka
benar. Keheningan yang lama terjadi.

Pada tanggal dua puluh tiga Mei 1999 saya dibaptis di Gereja Ortodoks
Amerika. Salinan surat berikut yang saya kirimkan kepada imam saya
(Presbiter Victor) dapat menyampaikan beberapa hal tentang betapa
berartinya makna dari Sakramen itu bagi saya :

Romo Victor yang terkasih- Malam ini tolong izinkan saya berbicara
tentang Misteri … Hari ini adalah keajaiban dan entah bagaimana saya
telah melalui masa empat bulan mencoba menerima MISTERI Tuhan dan
Kerinduan yang mendalam bagi kita masing-masing. Aku tahu ini baru
permulaan.

Saya tahu saya masih sangat baru dan muda dalam hal ini sehingga ada
ketakutan bahwa kekuatan kegembiraan ini akan membuat saya berpikir
bahwa saya mengetahui hal-hal yang tidak saya ketahui. Tapi hari ini
luar biasa-ajaib, penuh- penuh keajaiban.

Romo Victor yang terkasih, ini bukan kesempatan kedua, ini adalah
kesempatan pertama. Saya baru merasa benar-benar hidup. Saya merasa
baru lahir di dunia ini. Saya tidak pernah merasa seperti in. Saya
merasa bersih. di mana pun. Saya merasa seperti saya belum pernah
melihat sinar matahari sebelumnya.

Ketika Air membasuhku. Ketika minyak mengurapi. Menyegel saya dalam
Tubuh Gereja yang abadi. Itu adalah benar.- Itu abadi dan selalu ada
di dalam Tuhan.

Harap mengerti bahwa yang saya rasakan ini adalah nyata. Ini bukan
arketipe-atau simbol-maupun ritual yang terjebak di sebuah gereja
kecil di San Francisco. Itu nyata dan itu Ajaib dan itu dari Tuhan
untuk kita semua. Segala sesuatu dalam diri saya mengatakan bahwa itu
benar. Saya merasa tangan Yihanes Pembaptis di lengan saya membantu
saya saat saya melangkah ke dalam sungai Yordani. Saya sperti melihat
matahari dan Kristus datang melalui Pintu Kerajaan. Aku ingat suaramu
dan aku ingat bagaimana tangan Tuhan menahan saya di bawah air dan
membawa saya ke atas dan membasuh saya dan mengangkat saya untuk
menunjukkan kepada dunia bahwa seorang anak baru telah lahir.

Ketika saya menghampiri Cawan (perjamuan kudus) saya merasa kembali ke
rumah. Saya sudah pulang di rumah.

Waktu kecil saya pernah menerima komuni di gereja Lutheran, tetapi
saya tidak pernah benar-benar mengambil bagian dalam Ekaristi. Hari
ini saya diberikan melalui Kasih Karunia kesempatan untuk makan Tubuh
dan minum Darah Kristus. Saya tidak pernah mengalami itu sebelumnya
meskipun dulu saya sering mengambil komuni. Tidak ada kata-kata nyata
untuk itu- Itu adalah Misteri. Aku bodoh selama ini. Saya hanya
bersyukur tak terkira dan diberkati ke dalam keheningan.

Dan akhirnya aku pulang. Bisakah Anda percaya kata-kata ini? Saya
akhirnya pulang. Tuhan mencintaiku. Saya! Saya pikir ini benar. Saya
tahu ini benar. Tuhan, untuk beberapaalasan yang tidak diketahui,
mencintaiku. Dia mencintaiku sebagai diriku- dengan sebuah nama,
namaku. Tuhan tahu namaku!
Dan Dia mencintaiku! Tuhan tahu hati dan otakku dan lemak dan otot dan
Dia mencintaiku. Tuhan tahu setiap pikiran saya dan ketakutan dan rasa
sakit dan Dia masih menerima saya. Itu adalah realitas yang paling
luar biasa. Ya romo, Hari ini adalah anugerah Tuhan yang luar biasa
untukku dan milikku untuk-Nya. Saya kosong sebelum ini. Saya miskin
dan kosong sebelum ini.

Namun dalam kekosonganku itu, aku penuh dengan Dia. Apakah kau melihat
itu? Kata-kata saya adalah sangat terbatas. Tetapi hari ini saya
dikosongkan dan hari ini saya diisi. Anda memegang cawan untuk Tuhan.
Itulah yang Dia berikan kepada Anda untuk dilakukan. Anda mengembuskan
napas pada saya sebagai perwakilan Tubuh Kristus dan membasuh serta
mengurapi saya dengan minyak-Nya. Itulah yang Dia perintakan kepda
Anda untuk dilakukan. Anda memberi saya minum dan Anda memberi saya
makan. Itulah yang Dia instruksikan untuk Anda lakukan. Tapi Dia
mengosongkanku hari ini dan Dia mengisiku hari ini dengan-berkahNya.

Itulah Misteri yang saya bagikan hari ini. Anda dan saya dan
orang-orang baik yang hebat itu membentuk Tubuh Gereja. Itu adalah
perjalananku dengan sebuah nama (dalam kekosongan dan kepenuhan Kasih
Karunia) dan milik kita sebagai Gereja.

Saya telah terguncang dan terbangun dari air oleh Kasih Karunia dan
Kasih Tuhan. Saya telah diurapi dengan minyak, saat ini dan
selama-lamanya, oleh Tuhan, saya telah diperbarui, ditemukan dan
dipanggil, diampuni dan diampuni dan diampuni. Saya telah diinfus
dengan pemahaman tentang Misteri yang berada di luar pemahaman saya.
Saya adalah seorang yang bodoh dalam memahami Cinta Ilahi. Seorang
pengemis dan orang bodoh dan pendosa. Saya telah dipeluk dalam Roh
Kudus dan dinamai (nama Jana Suci setelah pembaptisan) di hadapan
Gereja yang telah ada selamanya. Hari ini benar-benar luar biasa. Saya
bodoh sebelum ini-saya sekarang bersyukur- saya lelah, namun bahagia-
dan siap untuk beristirahat di hadirat Tuhan yang nyaman.

Ketahuilah, saya mempersembahkan hari ini kepada Tuhan. Anda adalah
bagian dari itu. Barbara dan Johann dan Ann dan Anna dan Elaine dan
semua orang adalah bagian dari Itu. Istriku tercinta Diane adalah
bagian dari itu. Dan saya. Saya juga bagian dari itu. Tidak ada kata
yang tersisa malam ini, romo. Hanya Bersyukur dan berdoa dan berdiam
dalam Kasih Kristus (Bukankah itu benar-benar luar biasa!)” – Nilus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.