MINGGU ANAK YANG HILANG

Minggu Triodion Kedua
Sunday of Prodigal Son

Tahun 2023 ini jatuh pada tanggal 12 Februari / 30 Januari (Kalender Gereja).

Minggu peringatan “Anak Yang Hilang” (The Sunday of Prodigal Son) sebagai minggu kedua dalam masa “triodion” / 3 minggu sebelum memasuki masa Puasa Agung Catur Dasa (40 hari) Pra-Paskah (Great Lent). Peringatannya pada minggu setelah ‘minggu Zakheus’ (Sunday of Zaccheus, Lukas 19:1-10) dan ‘minggu Pemungut Cukai dan Orang Farisi’ (The Sunday of the Publican dan the Pharisee, Lukas 18:10-14).

Saudara-saudara terkasih, penamaan peringatan ini diambil dari perumpamaan dalam Injil menurut Lukas 15:11-32 tentang ‘anak yang hilang’. Dalam Ikonografi Gereja Timur Purba Orthodox digambarkan tentang adanya pertobatan.

Dosa digambarkan sebagai suatu keadaan yang ‘keluar’ (terasing) dari kediaman Bapa.

Kita sendiri dapat ‘diumpamakan’ sebagai si anak bungsu (Lukas 15:12, dst).

Di dalam ‘rumah’ atau kediaman bapa adalah gambaran sebuah keselamatan (dari Sang Bapa); sementara di luar itu adalah suatu kehidupan dengan “kelaparan” dan di antara “babi” (Lukas 15:15-17).

Situasi kita yang terasing (keluar dari kediaman Bapa) ini bukanlah oleh paksaan (dari luar diri kita sendiri): namun, si anak bungsu, oleh kehendak bebasnya sendiri, memilih untuk pergi meninggalkan kediaman (Bapa) itu dan menghamburkan (prodigal) ‘harta berharga’ yang menjadi milik bagiannya (yang adalah pemberian Bapanya) dan itu tidak bertahan lama.

Kita diumpamakan sebagai Si anak bungsu yang terus menerus membuang semua yang telah kita miliki dalam kesia-siaan. Semua yang kita miliki itu tak lain adalah pemberian dari Allah, Sang Bapa.

Hingga akhirnya si anak bungsu ini ‘menyadari keadaannya’ (he came to him self) dan menyadari dia tidak seharusnya hidup seperti itu.

Si anak bungsu membuat keputusan untuk memilih kembali pulang kepada bapanya. Ia kembali tidak untuk meminta kembali bagiannya, tapi dengan kerendahan hati dan penyesalan ia mau pulang sebagai ‘seorang upahan’.

(Lukas 15:19) :
“….aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.”

Inilah kerendahan hati sejati seseorang yang dalam pertobatan. Setelah sadar keadaannya, ia bertekad akan bangkit dan kembali pulang.

Dengan begitu kita melupakan keangkuhan kita, mengakui semua dosa kesalahan yang telah kita lakukan, dan menundukkan diri kita akan belas kasih dari Sang Bapa.

(Lukas 15:21):
“Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa.”

Kisah ini juga mengingatkan, supaya kita tidak menjadi seperti ‘si anak sulung’. Walaupun telah bertahun-tahun melayani bapanya dan tidak pernah melanggar perintah bapanya serta telah menerima berkat hidup dari bapanya, si anak sulung ini justru marah-marah setelah melihat kenyataan si anak bungsu yang telah menghabiskan pemberian bapanya dengan sia-sia itu malah diterima kembali pulang.

Si sulung menolak untuk masuk ke rumah bapanya (dapat sebagai gambaran orang Yahudi yang menolak Kristus waktu itu). Dengan begitu, si anak sulung ini justru menempatkan dirinya “di luar” rumah kediaman bapanya, yang diumpamakan sebagai keselamatan.

Tetapi Sang Bapa memanggilnya kembali :

“…anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.” (Lukas 15:31-32).

Saudara-saudaraku terkasih,
Mari kita baca seksama pengajaran dan nasihat luar biasa dari kisah ini yang diajarkan oleh salah satu orang suci ternama Gereja Orthodox yaitu St. Theofan Sang Penyendiri (+1894 M) :

“Jika engkau tinggal di rumah Bapamu, jangan berusaha untuk mencari kebebasan, Engkau lihat, bagaimana pengalaman yang serupa itu berakhir?”

“Jikalau engkau telah melarikan diri, dan menghambur-hamburkan semuanya, berhentilah secepatnya!”

“Jikalau engkau telah menghabis-tandaskan segala sesuatu dan hidup dalam kemiskinan, ambillah keputusan segera untuk kembali – dan kemudian, kembalilah!”

“Di sana, segala kemudahan dan kasih dan kemakmuran yang dulu ada menunggumu. Langkah terakhir ini adalah langkah yang paling perlu. Tidak ada gunanya lagi memperluas lagi kisah ini. Semuanya telah diceritakan secara ringkas dan secara jelas. Cepat kembalilah kepada kesadaranmu, putuskan untuk kembali, bangkitlah dan bergegaslah kepada Bapamu. PelukanNya itu terbuka dan siap untuk menerimamu.”

Semoga kisah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Kidung
Kontakion – Irama 3

Dengan kebodohan aku lari dari kemuliaan kebapaan-Mu, dan aku telah menghambur-hamburkan kekayaan yang telah Engkau berikan kepadaku dalam pekerjaan-pekerjaan jahat. Oleh karena itu, aku berseru kepada-Mu dengan suara anak hilang: “Aku telah berdosa melawan Engkau, ya Bapa yang Maha Pengasih. Terimalah aku yang bertobat dan terimalah aku sebagai salah satu hamba upahan-Mu.”

Ditulis kembali oleh A.W. Meidiyanto.

Referensi :
– Horologion (Gereja Orthodox Indonesia)
– iconreader, icon of repentance the prodigal son
– Homily on the prodigal son,
HE CAME TO HIMSELF – WHAT DOES THIS MEAN? THE TWO THINGS WE MUST KNOW TO BE SAVED, pravoslavie.
– INSTRUCTION ON THE SUNDAY OF THE PRODIGAL SON. ON REPENTANCE, pravoslavie.
– Thoughts for Each Day of the Year,
According to the Daily Church Reading from the Word of God,
By St. Theophan the Recluse,
Translate to english by Lisa Marie Baranov, Edited by Nun Cornelia & St. Herman of Alaska Brotherhood,

Penterjemah : Arkhimandrit Daniel B.D.Byantoro, Gereja Orthodox Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *