Athena, Yunani | 6–18 Oktober 2026
Pendahuluan
Perjalanan ke Yunani pada 6–18 Oktober 2026 menjadi pengalaman yang bermakna dalam kehidupan gerejawi, baik melalui partisipasi dalam berbagai perayaan liturgis, perjumpaan dengan para hierark dan rohaniwan dari berbagai negara, maupun kesempatan untuk mempelajari tradisi musik liturgis Gereja Orthodox, khususnya musik Bizantin.
Selama berada di Yunani, kegiatan berpusat di Athena dan sejumlah biara serta gereja di sekitarnya. Selain mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang berkaitan dengan kehidupan Gereja, perjalanan ini juga diisi dengan pelayanan liturgis, persiapan perayaan hari nama biara, serta pembelajaran musik Bizantin secara intensif.

Menelusuri Jejak Sejarah Kekristenan di Athena
Pada malam tanggal 6 Oktober, saya tiba di Yunani dan menginap selama dua malam di rumah Saudara Teofilus. Selama tanggal 6–8 Oktober, saya berkesempatan mengunjungi sejumlah gereja tua dan bersejarah di sekitar Monastiraki, Athena, yang memperlihatkan kekayaan warisan Kristen dan perjalanan panjang kehidupan Gereja di Yunani.
Salah satu tempat yang dikunjungi adalah Areopagus, tempat Rasul Paulus menyampaikan khotbahnya kepada masyarakat Athena sebagaimana dicatat dalam Kisah Para Rasul 17:16–34. Kunjungan ini menjadi kesempatan untuk kembali merenungkan pemberitaan Injil di tengah masyarakat yang memiliki latar belakang budaya dan pemikiran yang beragam.
Pengalaman tersebut memberikan perspektif historis dan spiritual tentang bagaimana Injil diberitakan dalam konteks budaya yang berbeda, sekaligus mengingatkan kembali panggilan Gereja untuk memberikan kesaksian tentang Kristus di tengah dunia.
Persiapan Perayaan Hari Nama Biara Agia Skepi
Pada tanggal 8 Oktober, saya berpindah ke Biara Agia Skepi di Dafni, tempat kediaman Metropolitan Photios. Selama berada di biara tersebut, saya turut membantu berbagai pekerjaan, termasuk membersihkan dan mempersiapkan lingkungan biara untuk menyambut perayaan Hari Nama Agia Skepi pada tanggal 14 Oktober.
Persiapan ini menjadi bagian penting dari kehidupan komunitas monastik. Di samping persiapan fisik untuk perayaan, kegiatan sehari-hari di biara memberikan kesempatan untuk mengalami secara langsung semangat pelayanan, kerja bersama, dan kesiapan menyambut perayaan gerejawi melalui doa dan pengabdian.
Pelayanan Liturgis di Gereja Agia Paraskevi, Akropolis
Pada hari Minggu, 11 Oktober, atas perintah Metropolitan Photios, saya mendapat kesempatan untuk membantu pelayanan di Gereja Agia Paraskevi di kawasan Akropolis, Athena. Pelayanan tersebut dilaksanakan bersama Romo Arkhimandrite Serafim dari Lebanon, yang hadir untuk membantu karena Romo Paroikia berhalangan.
Liturgi Suci dilayankan dalam tiga bahasa, yaitu Yunani, Arab, dan Inggris. Penggunaan berbagai bahasa dalam satu perayaan liturgis memperlihatkan bagaimana kehidupan Gereja Orthodox dapat melayani umat yang memiliki latar belakang bahasa dan budaya berbeda, sementara tetap berhimpun dalam satu perayaan Ekaristi.
Kesempatan untuk mengambil bagian dalam pelayanan tersebut menjadi pengalaman berharga sekaligus bentuk pembelajaran langsung mengenai pelayanan pastoral dan liturgis dalam komunitas Orthodox yang multibahasa.

Perayaan Hari Nama Biara Agia Skepi
Rangkaian perayaan Hari Nama Biara Agia Skepi dimulai pada sore hari, 13 Oktober, dengan pelaksanaan Sembahyang Senja Agung Episkopal. Ibadah ini dipimpin oleh Metropolitan Gerontios dari Piraeus dan dihadiri oleh empat orang presbyter yang turut melayani.
Puncak perayaan berlangsung pada pagi hari, 14 Oktober, melalui Singsing Fajar dan Liturgi Suci Episkopal yang dipimpin oleh Metropolitan Photios bersama lima orang presbyter.
Perayaan ini menjadi momen penting bagi komunitas biara untuk berkumpul dalam doa dan ibadah, sekaligus mengungkapkan penghormatan terhadap pelindung rohani biara. Melalui rangkaian ibadah tersebut, kehidupan liturgis Gereja kembali menegaskan pentingnya doa bersama, kesinambungan tradisi, dan kesatuan umat dalam perayaan misteri-misteri kudus.
Perayaan Agung Para Kudus Kyprianos dan Yustina di Fili
Pada pagi hari, 15 Oktober, saya mengunjungi Biara Agios Kyprianos dan Agia Yustina di Fili untuk mengikuti perayaan Hari Nama kedua orang kudus tersebut.
Perayaan ini dihadiri oleh delapan orang episkop serta sekitar tiga puluh presbyter dan diakon dari berbagai negara. Para pelayan Gereja yang hadir berasal dari sejumlah komunitas internasional, termasuk Yunani, Bulgaria, Serbia, Brasil, kawasan Benelux, dan Indonesia.
Perayaan dipimpin oleh Metropolitan Kyprianos dari Fili dan Oropos. Kehadiran para hierark dan rohaniwan dari berbagai negara memberikan kesempatan untuk menyaksikan secara langsung kekayaan persekutuan gerejawi lintas bangsa dalam tradisi Orthodox.
Di tengah perbedaan bahasa dan latar belakang kebangsaan, para peserta berhimpun dalam perayaan liturgis yang sama. Pertemuan ini juga membuka kesempatan untuk berkenalan, bertukar pengalaman pelayanan, dan membangun relasi persaudaraan. Acara kemudian ditutup dengan ramah tamah bersama para peserta.
Peringatan Pengangkatan Episkop Kalinikos sebagai Episkop Agung Athena dan Seluruh Yunani
Pada tanggal 17 Oktober, saya menghadiri perayaan di Gereja Agios Andreas di Peristeri untuk memperingati ulang tahun pengangkatan Episkop Kalinikos sebagai Episkop Agung Athena dan Seluruh Yunani.
Perayaan tersebut dipimpin oleh Episkop Agung Kalinikos sendiri dan dihadiri oleh sejumlah episkop serta presbyter. Kehadiran para pelayan Gereja dalam kesempatan ini menjadi wujud penghormatan terhadap pelayanan dan tanggung jawab penggembalaan yang dipercayakan kepada seorang hierark.
Bagi saya, partisipasi dalam perayaan ini juga menjadi kesempatan untuk mengenal lebih dekat kehidupan gerejawi di Yunani, khususnya hubungan persaudaraan dan kebersamaan di antara para pelayan Gereja dalam berbagai kesempatan liturgis.
Kembali Melayani di Gereja Agia Paraskevi
Pada hari Minggu, 18 Oktober, saya kembali mendapat perintah untuk membantu pelayanan di Gereja Agia Paraskevi di Akropolis. Ini merupakan kesempatan kedua saya untuk mengambil bagian dalam pelayanan di gereja tersebut selama kunjungan di Yunani.
Pada kesempatan ini, Liturgi Suci dilayankan dalam bahasa Yunani, sedangkan pembacaan Injil menggunakan bahasa Inggris. Pengalaman tersebut melanjutkan pembelajaran saya mengenai praktik pelayanan liturgis dalam lingkungan yang melibatkan umat dengan latar belakang bahasa yang beragam.
Kesempatan untuk melayani kembali di tempat yang sama juga memperdalam pengalaman pastoral selama perjalanan, sekaligus menjadi pengingat bahwa pelayanan Gereja tidak hanya berkaitan dengan kehadiran dalam perayaan besar, tetapi juga dengan kesediaan membantu kebutuhan konkret komunitas setempat.
Perjumpaan dengan Para Hierark dan Rohaniwan Internasional
Selama kunjungan di Yunani, saya berkesempatan bertemu dengan sejumlah hierark dan rohaniwan, antara lain:
- Episkop Agung Kalinikos.
- Metropolitan Photios dari Demetrias.
- Metropolitan Gerontios dari Piraeus.
- Metropolitan Ambrosius dari Methoni.
- Metropolitan Kyprianos dari Fili dan Oropos.
- Episkop Auxentios dari Amerika.
- Episkop Kalinikos dari Talantion.
- Romo Presbyter Athanasios dari Belgia dan Belanda.
- Romo Lukas dan Romo Alexios dari Brasil.
- Seorang episkop dari Bulgaria yang namanya masih perlu dikonfirmasi.
- Sejumlah hierark, presbyter, dan diakon lainnya dari berbagai komunitas.
Pertemuan-pertemuan ini menjadi bagian yang berharga dari perjalanan. Selain memperluas perkenalan dengan para pelayan Gereja dari berbagai wilayah, kesempatan tersebut juga memberikan ruang untuk berbagi pengalaman mengenai pelayanan, kehidupan liturgis, dan tradisi Gereja Orthodox di lingkungan masing-masing.
Mempelajari Musik Bizantin: Melanjutkan Warisan Tradisi Liturgis
Selain mengikuti berbagai kegiatan gerejawi, salah satu bagian penting dari perjalanan ini adalah kesempatan untuk memulai pembelajaran musik Bizantin.
Pembelajaran dimulai pada tanggal 10 Oktober dan dilaksanakan secara intensif, sekitar lima kali dalam seminggu, di Biara Agia Skepi, Dafni. Saya dilatih oleh Mr. Kyprianos Katsoudas, seorang Anagnostis atau pembaca liturgis yang melayani di Biara Agios Kyprianos dan Agia Yustina.
Menurut informasi yang saya terima, Kyprianos Katsoudas merupakan murid dari Romo Dyonisius dari Agios Kyprianos, seorang pengidung senior yang dikenal dalam tradisi musik Bizantin di Yunani. Romo Dyonisius sendiri belajar dari Rahib Dositheos Katounakis, seorang rahib tunanetra dari Gunung Athos yang dikenang karena kontribusinya terhadap pengembangan notasi musik Bizantin yang dapat dipelajari melalui sistem taktil.
Tradisi musik Bizantin memiliki kedudukan penting dalam kehidupan liturgis Gereja Orthodox. Musik ini bukan sekadar unsur artistik atau pengiring ibadah, melainkan bagian dari cara Gereja menyampaikan doa, memuliakan Allah, dan menghidupi teks-teks liturgis melalui nyanyian.
Pembelajaran ini membuka kesempatan untuk mengenal lebih dekat teori, teknik, dan tradisi musikal yang diwariskan dari generasi ke generasi. Pengalaman tersebut juga menumbuhkan penghargaan yang lebih mendalam terhadap proses pembelajaran yang membutuhkan ketekunan, disiplin, latihan berulang, dan bimbingan seorang guru.
Bagi saya, mempelajari musik Bizantin merupakan langkah awal untuk memahami salah satu kekayaan tradisi liturgis Orthodox secara lebih mendalam, sekaligus menjadi bekal bagi pengembangan pelayanan musik gerejawi di Indonesia.
Penutup: Perjalanan, Pelayanan, dan Pembelajaran
Perjalanan ke Yunani pada 6–18 Oktober 2026 bukan hanya kunjungan ke tempat-tempat bersejarah atau partisipasi dalam sejumlah perayaan gerejawi. Perjalanan ini merupakan kesempatan untuk mengalami kehidupan Gereja melalui doa, pelayanan, persaudaraan, dan pembelajaran.
Dari kunjungan ke Areopagus, pelayanan di Gereja Agia Paraskevi, perayaan Hari Nama di Biara Agia Skepi dan Biara Agios Kyprianos serta Agia Yustina, hingga perjumpaan dengan para hierark dan rohaniwan internasional, setiap pengalaman memberikan perspektif tersendiri mengenai kekayaan tradisi dan kehidupan Gereja Orthodox.
Pembelajaran musik Bizantin secara intensif menjadi salah satu pengalaman yang secara khusus memperkaya perjalanan ini. Melalui bimbingan guru dan perjumpaan dengan tradisi musikal yang diwariskan lintas generasi, saya memperoleh kesempatan untuk memulai pendalaman terhadap salah satu bentuk ekspresi doa dan ibadah yang telah lama hidup dalam tradisi Gereja.
Kiranya pengalaman ini dapat menjadi bekal bagi pelayanan selanjutnya, memperdalam pemahaman terhadap warisan liturgis Gereja Orthodox, dan membuka kesempatan untuk berbagi kekayaan tradisi tersebut dengan komunitas Gereja di Indonesia.
Kemuliaan bagi Allah atas segala sesuatu.















































Leave a Reply