Seri Prolog Ohrid 24 Maret Kalender Julian

  1. JANASUCI ARTEMON, EPISKOP SELEUKIA

Artemon dilahirkan dan dibesarkan di Seleukia. Ketika Rasul Paulus datang ke kota itu, ia bertemu dengan Artemon, menguatkan imannya kepada Kristus dan menunjuknya menjadi episkop di kota tersebut. Artemon memimpin kawanan yang dipercayakan kepadanya dengan penuh kasih dan semangat. Dia adalah dokter bagi jiwa dan tubuh manusia. Ia berpulang ke keabadian dalam usia lanjut.

2. YAKOBUS YANG TERHORMAT, SANG PENGAKU IMAN

Yakobus mengalami penderitaan saat mempertahankan ikon-ikon di era Leo dari Armenia. Ia adalah seorang biarawan dan anggota persaudaraan di Biara Stoudios. Ketika Theodore Agung dari Biara Stoudios berada di pengasingan, Yakobus menjadi sasaran penyiksaan berat untuk membujuknya agar meninggalkan penghormatan terhadap ikon-ikon. Sampai akhir dia tetap teguh dan setia pada Orthodoxy. Dipukuli dan disiksa, dia akhirnya dikirim kembali ke biara setelah Kaisar Leo yang jahat mengalami akhir yang menyedihkan. Akibat pukulan yang parah, dia meninggal di biara dan masuk ke dalam komunitas surgawi.

3. PRESBITER MARTIR PARTHENIUS, PATRIARK KONSTANTINOPEL

Parthenius lahir di Pulau Mytilene. Dia adalah Episkop Chios untuk waktu yang lama. Setelah itu ia terpilih sebagai patriark Konstantinopel. Karena adanya rumor palsu yang menyatakan bahwa ia berusaha melawan Negara, pihak Turki awalnya mengusulkan agar ia menjadi seorang Muslim. Ketika dia dengan tegas menolak, mereka menggantungnya pada tahun 1657 M.

4. PERINGATAN MUKJIZAT DI BIARA GUA, KIEV

Dua sahabat, Yohanes dan Sergius, bersumpah untuk menjadikan satu sama lain sebagai saudara angkat di hadapan ikon Theotokos di biara ini. Yohanes adalah seorang yang kaya, dan ia mempunyai seorang putra berusia lima tahun, Zakharia. Yohanes mengalami sakit berat. Sebelum kematiannya, Yohanes menyerahkan putranya untuk dirawat oleh Sergius dan mewariskan sejumlah besar emas dan perak kepadanya untuk disimpan dengan aman sehingga Sergius akan menyerahkannya kepada putranya Zakharia ketika ia mencapai kedewasaan. Ketika Zakharia sudah dewasa, Sergius menyangkal bahwa ia menerima apa pun dari mendiang Yohanes. Kemudian Zakharia berkata, “Biarlah dia bersumpah di hadapan ikon Theotokos yang sama, di mana dia pernah berjanji sebagai saudara angkat dengan ayah saya yang telah tiada; dan jika dia bersumpah tidak menerima apa pun dari ayah saya  Yohanes, maka saya tidak akan menuntut apapun darinya.” Sergius menyetujui. Ketika Sergius bersumpah, dia ingin mendekati dan menghormati ikon itu, tetapi suatu kekuatan menahannya dan tidak mengizinkannya. Sergius kemudian mulai berteriak-teriak dengan cara yang gila kepada Bapa Suci, Antonius dan Theodosius; “Jangan biarkan malaikat yang tidak berbelas kasihan ini menghancurkanku!” Itulah setan yang menyerangnya atas izin Tuhan. Sesudah itu, Sergius memperlihatkan semua uang yang dititipkan Yohanes kepadanya. Ketika mereka membuka peti itu, mereka menemukan bahwa jumlahnya menjadi dua kali lipat. Jumlah ini dilipatgandakan oleh Penyelenggaraan Tuhan. Setelah menerima uang tersebut, Zakharia memberikannya ke biara dan kemudian dicukur menjadi biarawan. Zakharia berumur panjang, meraih berbagai anugerah besar dari Tuhan dan dipindahkan dengan damai ke keabadian.

5. ZAKHARIA YANG TERHORMAT

Zakharia adalah putra dari Karion orang Mesir. Zakharia meninggalkan istrinya dan anak-anaknya untuk menjadi seorang biarawan. Ia membawa ayahnya bersamanya karena ibunya tidak mampu merawatnya. Meskipun Zakharia lebih muda dari kebanyakan tetua di Sketis, ia dianugerahi karunia rahmat yang lebih besar dibanding yang lain. Ia merasa seluruh jiwanya terbakar oleh Rahmat Tuhan. Menanggapi pertanyaan Janasuci Makarios:  “Siapa rahib yang sesungguhnya?” Zakharia menjawab, “Dia yang terus-menerus memaksa dirinya untuk memenuhi perintah-perintah Tuhan.” Saat Abba Musa bertanya, “Apa artinya menjadi seorang rahib?” Zakharia melepas tutup kepala monastiknya [Kamilavka], menginjak-injaknya, dan berkata, “Jika seseorang tidak hancur seperti ini, dia tidak bisa menjadi rahib.” Dia adalah cahaya agung di antara para rahib padang gurun dan ketika usianya masih muda, ia berpulang kepada Tuhan.

RENUNGAN

Abba Daniel dan Abba Ammoe sedang dalam perjalanan. Abba Ammoe berkata, “Bapa, kapan kita akan tiba di kamar isolasi?” (maksudnya, agar mereka dapat berdoa kepada Allah). Abba Daniel menjawab, “Dan siapa yang memisahkan kita dari Allah saat ini?” Allah yang sama ada di dalam sel isolasi dan di luar sel isolasi. Melalui ini, kita diajarkan tentang doa yang tak kunjung putus, pemikiran tentang Tuhan, dan renungan akan karya Tuhan dalam diri kita dan di lingkungan sekitar. Gereja membantu memfasilitasi dan meningkatkan intensitas doa. Hal yang sama berlaku untuk kesendirian dan pengasingan; masing-masing dengan caranya sendiri memfasilitasi dan meningkatkan intensitas doa. Siapa pun yang tidak mau berdoa tidak akan terikat oleh gereja maupun sel. Demikian pula, siapa pun yang sudah merasakan nikmatnya berdoa tidak akan mampu memisahkan naturnya atau perjalanannya dari doa.

KONTEMPLASI

Merenungkan Tuhan Yesus yang disalibkan:

  1. Menghitung tetesan Darah Kudus-Nya dan menghitung dosa-dosaku;
  2. Menghitung desahan kesakitan-Nya dan menghitung hari-hari tawaku yang sia-sia.

HOMILI

-Tentang keteguhan dalam penderitaan dan mahkota kehidupan- “Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita! Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.” (Wahyu 2:10). Melalui penderitaan-Nya, Tuhan kita meringankan penderitaan kita. Dia telah menanggung rasa sakit yang paling hebat dan keluar sebagai Pemenang. Itulah sebabnya Dia dapat menguatkan kita dalam penderitaan kita yang lebih kecil. Dia menderita dan bertahan dalam kebenaran, sementara kita menderita dan bertahan dalam menebus dosa kita sendiri. Inilah sebabnya Dia bisa mengingatkan kita untuk bertahan sampai akhir seperti Dia, Yang Tak Berdosa, menanggungnya. Tak satu pun dari kita yang telah membantu atau meringankan penderitaan dan ketabahan-Nya, namun Dia berdiri di samping kita setiap kali kita menderita dan meringankan penderitaan serta kemalangan kita. Itulah sebabnya Dia berhak mengatakan kepada setiap orang yang menderita demi nama-Nya: “Jangan takut! Jangan takut akan segala yang akan kamu derita.” Kata Kristus, “karena Aku sendiri telah mengalami segala jenis penderitaan dan akrab dengan mereka. Tidak satu pun penderitaan yang membuatku takut. Aku menerima semua itu pada diri-Ku dan, pada akhirnya, mengalahkan semuanya. Aku tidak mengalahkannya dengan menolak atau melarikan diri dari mereka, tetapi dengan menerima semua itu secara sukarela dan bertahan hingga akhir. Dan begitu pula kamu harus menerima penderitaan secara sukarela, karena Aku melihat dan tahu seberapa banyak dan seberapa lama kamu dapat bertahan.” Jika penderitaanmu berlangsung sampai menyebabkan kematianmu, tetaplah jangan takut; “Aku akan memberimu mahkota kehidupan.” Aku akan memahkotai kamu dengan kehidupan kekal yang di dalamnya Aku memerintah secara kekal bersama Bapa dan Roh Pemberi Kehidupan. Allah tidak mengirimmu ke bumi untuk hidup nyaman, melainkan untuk mempersiapkan kehidupan kekal. Akan menjadi tragedi besar jika Penciptamu tidak mampu memberikanmu kehidupan yang lebih baik, lebih panjang, dan lebih cerah daripada kehidupan di bumi yang penuh dengan kebusukan dan kematian serta lebih singkat daripada kehidupan seekor gagak. Wahai saudara-saudaraku, marilah kita mendengarkan firman Tuhan dan semua penderitaan kita akan diringankan. Apabila hantaman dunia terasa sekeras batu, ini akan berubah menjadi seperti busa di laut saat kita mematuhi perintah Tuhan. O Tuhan Yang Maha Menang, ajari kami lebih banyak lagi tentang kepanjangsabaran-Mu; dan ketika kami kelelahan, ulurkan tangan-Mu dan teguhkanlah kami. Bagi-Mu, kemuliaan dan syukur selalu. Amin.

Sumber : The Prolog of Ohrid oleh Js. Nikolai Velimirovich dari Ohrid dan Zhicha

 Diterjemahkan oleh : Irene W.W (2 April 2024)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *