
Bacaan: Kejadian 8:4-21
KORBAN YANG HARUM UNTUK HIDUP YANG DIPERBAHARUI
“Lalu Tuhan mencium persembahan yang harum itu dan berfirman dalam hati-Nya: ‘Aku takkan mengutuk bumi ini lagi oleh karena manusia, sebab yang ditimbulkan hatinya adalah kejahatan sejak kecilnya; juga Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan.’” (Kejadian 8:21)
Ketika air bah mereda, bahtera Nuh beristirahat di gunung Ararat. Ini adalah tanda bahwa kehidupan lama telah berlalu dan lembaran baru dimulai. Namun, langkah pertama yang dilakukan Nuh setelah meninggalkan bahtera bukanlah mencari makanan atau tempat tinggal, melainkan mempersembahkan korban kepada Allah. Inilah inti dari kehidupan Kristen—mempersembahkan diri kita sebagai korban yang harum di hadapan Tuhan, terutama dalam masa Puasa Catur Dasa ini.
Js. Gregorius dari Nyssa menjelaskan bahwa air bah dalam kisah Nuh adalah gambaran dari pembaptisan, di mana manusia lama ditenggelamkan dan kehidupan baru dimulai:
“Air bah membersihkan bumi dari kejahatan, sebagaimana baptisan membersihkan kita dari dosa. Namun, setelah itu, hidup baru harus dimulai dengan hati yang diperbarui, seperti Nuh yang membangun mezbah bagi Allah.” (Homilies on the Beatitudes, 8)
Dalam perjalanan Prapaskah, kita diajak untuk masuk ke dalam bahtera rohani—yaitu Gereja, di mana kita dimurnikan melalui doa, puasa, dan pertobatan. Setelah masa ini berakhir, kita tidak boleh kembali kepada kehidupan lama, tetapi harus membangun “mezbah” dalam hati kita, mempersembahkan korban yang harum kepada Tuhan: korban doa yang lebih dalam, korban kasih kepada sesama, dan korban pertobatan yang sejati.
Allah menerima korban Nuh dengan harum, tetapi Ia juga menyatakan bahwa hati manusia tetap cenderung kepada dosa. Hal ini mengingatkan kita bahwa pertobatan bukanlah proses sekali jadi, melainkan perjalanan seumur hidup.
Js. Yohanes Krisostomos menekankan bahwa korban sejati bukanlah hewan yang disembelih, tetapi hati yang hancur karena dosa:
“Tuhan tidak mencari darah dari lembu atau kambing, tetapi Dia menghendaki jiwa yang penuh dengan kasih, iman, dan kerendahan hati. Inilah korban yang benar-benar harum di hadapan-Nya.” (Homilies on Romans, 8)
Puasa kita selama Prapaskah tidak boleh menjadi sekadar rutinitas diet atau kebiasaan tahunan, tetapi harus menjadi ekspresi dari hati yang hancur dan rindu akan Tuhan. Kita tidak hanya menghindari makanan tertentu, tetapi juga berjuang untuk memurnikan pikiran dan perbuatan kita dari dosa.
Allah berjanji tidak akan lagi menghancurkan bumi seperti yang telah dilakukan dalam peristiwa air bah. Janji ini mencapai penggenapan sempurna dalam Kristus, yang datang bukan untuk menghukum dunia, tetapi untuk menyelamatkannya. Salib Kristus adalah tanda bahwa belas kasihan Allah lebih besar daripada hukuman-Nya.
Js. Efraim dari Siria melihat dalam kisah Nuh bayangan dari misteri keselamatan:
“Bahtera adalah lambang Gereja, yang membawa kita melewati air dunia ini menuju keselamatan. Korban Nuh adalah bayangan dari Ekaristi, di mana Kristus mempersembahkan diri-Nya sebagai korban yang harum bagi keselamatan dunia.” (Hymns on Paradise, 6)
Ketika kita mendekati Minggu Paskah, kita harus bertanya: Apakah kita telah benar-benar meninggalkan hidup lama? Apakah kita telah membangun mezbah rohani dalam hati kita?
Apakah puasaku sejati, ataukah hanya sekadar aturan yang kujalankan tanpa perubahan hati?
Bagaimana aku dapat menjadikan hidupku sebagai korban yang harum bagi Tuhan selama Prapaskah ini?
Apakah aku telah sungguh-sungguh bertobat dan memurnikan hatiku untuk menyambut Kebangkitan Kristus?
Kiranya Allah yang Maha Pengasih, yang menerima korban Nuh, berkenan juga atas puasa dan pertobatan kita di masa Catur Dasa ini. Kiranya Ia membersihkan hati kita, agar kita dapat mempersembahkan korban yang berkenan kepada-Nya. Kiranya Ia membimbing kita dalam perjalanan ini, agar kami dapat merayakan Kebangkitan Putra-Nya dengan hati yang diperbarui. Amin.(Pater Greg)